Jumat, 27 Juni 2014

Fabius Ndururu(penjaga/tour guide) at museum pusaka nias

0 komentar

Kontol di Museum

submitted November 22, 2010
Categories: In Indonesian
Text Size:
Kalau kita pergi ke Museum Pusaka Nias, di Gunung Sitoli, kita akan terpesona melihat patung-patung batu berserakan di halaman Museum, di depan, ditengah, di belakang. Rata-rata semua punya gaya yang sama, seorang lelaki dengan kostum traditional berdiri tegap dengan buah dada besar dan alat kelamin berdiri tegak, semua terbuat dari batu. Sudah dua kali aku kesana, hari Sabtu bulan lalu dan hari Minggu yang kemarin. Ramai dan penuh sesak halaman Museum itu, karena di dalamnya ada Kebun Binatang, ada taman-taman yang indah, indah buat ukuran Nias, buat ukuran orang Jakarta atau Surabaya biasa-biasa aja ! Pada kunjungan kedua kemarin aku berkenalan dengan seorang lelaki, umurnya mungkin 40an, asli Nias, gagah, macho dan mukanya kotak-kotak yang maskulin. Pokoknya para homo tulen pasti senang dan ingin mencicipinya. Nama lelaki itu Fabius Ndururu, ia mengaku pekerja di situ, sejenak duduk melepas lelah, aku ngobrol dengan Fabius. Ternyata ia sudah kawin dan beranak, ngobrol punya ngobrol akhirnya cerita bergeser pada pengalamannya pergi ke luar daerah. “Akh saya sudah pernah mencicipi perempuan Bandung, perempuan Jakarta, perempuan Medan, perempuan sana….perempuan sini….!” Celotehnya membanggakan diri, kelihatan sekali lelaki ini tukang pamer, pembual dan segala-galanya. Ngobrol 10 menit dengan Fabius sudah kelihatan orang ini tolol, keras kepala, nggak punya otak. Yang menjadi daya tarikku hanya karena aku pengen tahu sebesar apa sikh kontolnya ? Badan begini OK, wajah macho tentu bikin semua homo penasaran seperti apa kontol dari museum, siapa tahu dapat kenang-kenangan. Aku tahu caranya, karena orang Nias terkenal mata duitan, matre dan mudah disogok ! Aku sengaja membuka dompetku yang tebal, di hadapan Fabius, isinya sederet uang 50 ribuan berbaris mesra dengan sederet uang 100 ribuan, aku berkata : “Yuk temani aku minum ke kantin” ajakku. Fabius langsung melotot melihat isi dompetku dan liurnya mungkin menetes-netes : “Ayo” jawabnya bersemangat. Kami berjalan ke belakang ke arah tepi pantai, di situ anak-anak muda berjejalan berpacaran, saling menggoda, paling dikit cari jodoh. Yang homo pasti juga banyak cari mangsa. Aku duduk memesan bir : “Fabius mau minum apa ? nanti antar aku jalan-jalan keliling yakh !” ujarku, Fabius menjawab : “Saya kopi aja, sayang minum bir mending uangnya buat saya “ jawab Fabius dengan nada materialistis. Aku buru-buru menyahut : “Itu soal gampang, minum aja dulu, nikh 50 ribu, nanti antar saya keliling” sahutku sambil menarik selembar 50 ribuan dari dompet. Ia menyambut lembaran itu dengan cepat, memasukkannya ke saku kemeja dengan mukanya sumringah, bahagia…….kesian deh lu ! Sehabis minum aku berkeliling, Fabius menerangkan ini itu dengan gayanya yang congkak. Setiap penjelasan ia selalu bumbui dengan hal-hal mistik, paling tidak bersifat klenik, jadi kelihatan sekali orang macam gini pasti percaya dukun, doyan main mistik. Iseng-iseng aku menunjuk patung-patung lelaki dengan kontol yang bertebaran seantero halaman : “Apa sikh makna patung seperti itu ?” tanyaku seolah penasaran “Oooh itu maknanya pemimpin yang mampu memberi makan bangsanya, rakyatnya, semakin besar teteknya artinya pemimpin itu bisa memberi makan lebih banyak orang, menyusui lebih banyak orang” Fabius menerangkan. “Lantas kenapa itu kontol ada yang kecil ada yang besar, ada yang ke bawah ada yang ke atas ?” tanyaku lagi “Begini…..semakin besar alat vital yang digambarkan berarti pemimpin itu semakin pemberani, semakin jagoan” sahut Fabius sambil terkekeh. Aku mesem saja sambil melirik selangkangan Fabius, memang dibalik celana blue jeansnya kelihatan menggantung daging besar. Aku mendekat ke sebuah patung, memegang-megang phallus patung batu dan nyeletuk agak keras : “Wah… nyari beginian di mana ya ?” Fabius mungkin salah dengar atau memang dia goblok, ia menjawab : “Bisa pesan di desa-desa, mungkin sekitar 1 bulan selesai, yang lebih kecil dari ini harganya 5 juta” Dasar manusia matre, belum ditanya sudah menyebut harganya. “Ha…ha…ha…. maksudku nyari barang segede gini di sini di mana ?” sergahku memperjelas “Aaah, begitu ? mana saya tahu ha ha ha” Fabius menjawab sambil ikut tertawa. Aku semakin lancang dan meneruskan :”Eh bener nikh kalau ada yang beneran aku mau banget, nyari di mana ?” sambil bergurau aku menunjuk ke selangkangannya. Fabius kelihatan terkejut, tapi ia pura-pura santai : “ Akh abang ini bisa aja, kalau yang ini sudah ada yang punya !” Aku melangkah ke tempat yang lebih sepi, Fabius tetap mengikuti dari belakang, aku masih tetap penasaran, jadi aku bilang pelan-pelan : “Ini diantara kita aja ya ! aku kepengen lihat orang Nias punya, terutama yang besar……aku ada uang sedikit buat upahnya” Fabius membungkukkan badan, seolah berusaha meyakinkan diri kata-kata “uang sedikit buat upahnya” aku mengerti bahwa Fabius mulai tergiur uangku “Ya…..aku kasih 50 ribu kalau ada yang mau kasih lihat kontol Nias yang besar” kataku memperjelas. “Gimana kalau 100 ribu “ tiba-tiba Fabius menjawab, aku tersenyum dalam hati, kena lu sekarang ! lantas aku menjawab : “Di Jakarta 100 ribu udah megang all-in, masak di sini ngliat doank 100 ribu, akh yang bener aja “ Kelihatan sekali Fabius kesal dengan jawabanku “Tidak mau ya sudah” mukanya kelihatan geram, rahangnya naik turun. “Gini deh, aku kasih 100 ribu tapi betul ya kamu carikan sekarang” kataku menantang, Fabius lantas menjawab :”Mana uangnya kamu boleh lihat sebentar lagi” Aku pura-pura menengok ke kanan kiri “Mana orangnya ? mana barangnya aku belum lihat koq uangnya sudah di minta, nanti kalau sudah aku lihat aku sendiri yang kasih, bukan kamu” kataku agak jengkel, sungguh memalukan manusia ini. Tiba-tiba Fabius berjalan cepat sambil mengatakan : “Sudah sini ikut aku……jangan ribut ya !” lantas ia berjalan menyusuri jalan setapak dan menyuruh seorang anak membuka sebuah pintu, kami masuk ke pekarangan lain dengan beberapa bangunan kecil tertutup. Fabius mengunci pintu dan berdiri membelakangi dinding “Ini kalau mau lihat kontol Nias yang besar” katanya dengan nada kejam seraya membuka celana jeansnya, dibalik celana pendek terpentang siluet kontol yang belum hidup. “Mana uangnya, ada uang boleh lihat” ujarnya sambil menadahkan tangan meminta uang. Aku memberikan selembar uang 100 ribu dan menatap selangkangan Fabius penuh konsentrasi, ia membuka celana pendeknya dan terlihat jembut maha lebat tumbuh di kulitnya yang sawo matang. Kontol Fabius kelihatan sepadan dengan badannya yang bagus, tinggi kekar dan padat. Kontol itu meski masih lemas tapi berotot berurat dan pasti panjang kalau ereksi. “Hidupin donk, lemes begitu khan nggak seru” kataku memprotes, Fabius lantas meremas-remas alat vitalnya supaya hidup “Nggak bangun kalau nggak dipegang perempuan” katanya, tangannya masih saja berusaha menghidupkan kontol yang lemas itu, aku jadi gemas “Sini aku pegangin, kepalanya kok tenggelam begitu” tanpa persetujuan Fabius aku maju dan jongkok meraba kontolnya, kepalanya aku pegang dan aku remas-remas, kontol itu menggeliat. Batangnya aku kocok-kocok dan kulupnya bergerak sehingga akhirnya seluruh kepala kontol menyembul keluar. Mungkin Fabius menikmati kocokanku yang sedap, sehingga kontolnya langsung tuing ! ngaceng ! aku membasahi telunjukku dengan ludah dan mengoleskan ke kepala kontol yang sekarang menjadi semakin keras, mungkin Fabius merasa ada licin-licin dan bikin geli sehingga ia jadi bernafsu. Apalagi badanku ramping, kulitku bersih dengan wajah yang bukan ganteng tapi imut-imut ! tentu ia juga nggak mau rugi, orang macam begini pasti biseks ! yakin dia juga pasti pengen ngeseks denganku. “Sudah isap isap aja…….cepat !“ kata Fabius. Aku langsung jongkok dan mengisap kontol Fabius, besarnya kepala kontol tidak memungkinkan aku memasukkannya ke mulut jadi ujungnya saja aku sedot-sedot, aku jilat-jilat, batangnya aku kocok-kocok. Fabius mendesah keenakan, tapi potongan orang macam Fabius jenis haus seks, tidak akan puas dengan dikocok-kocok saja. Selama lima menit mulutku ngos-ngosan menjilat-jilat kontol museum, yang punya kontol juga sudah konak edan. Ia belum puas kalau kepala dan batang kontolnya nggak njeblos semua “Hei….pantatmu bersih nggak….sudah tanggung nikh……sudah ke puncak…..buka celanamu “ kata Fabius sambil menahan gejolak nafsunya. Aku langsung melepas celana pendekku, dari tas aku keluarkan lotion penahan terik, kuoles ke kepala kontol Fabius dan kelubang pantatku, aku nungging menunggu hujaman kontol Nias…….dan heeeeeeeegh…….kepala kontol Fabius menjeblos lubang pantatku. Fabius menekan kontol kuda itu sekuat tenaga dan mendorong pantatnya maju mundur berulang-ulang, aku menahan nyeri sambil berpegangan tiang supaya tidak jatuh. Tak lama kemudian Fabius terjerembab, ia ejakulasi, pejunya meleleh dari lubang pantatku ke paha dan kaos kakiku. Aku buru-buru jongkok dan mengeden supaya seluruh peju keluar, aku usap pantatku, mengelap lelehan peju di kakiku dengan tissue dan melemparkannya ke pojok. Aku sedang memakai celana ketika Fabius yang masih terseok-seok keenakan habis ngentot mengulurkan tangan :”tambah seratus lagi donk” katanya. Orang ini betul-betul tidak tahu malu, hina dina, belum sempat pakai celana sudah minta uang. Aku merogoh dompet mengambil selembar 50 ribuan dan menjatuhkan uang itu ke lantai bekas ceceran pejunya. Lantas aku membuka pintu dan keluar dari bangunan itu. Hmmmmm……..aku berjalan keluar dari gerbang Museum, matahari bersinar cerah, pantatku mungkin lecet habis disodok kontol museum, memang gede dan keras. Lumayan juga disodomi di gudang oleh Fabius, mustinya kalau dia main enak dan sopan aku bisa kasih lebih banyak. Dalam hati aku berpikir, sayang sekali kalau hidup seperti Fabius, badan bagus, kekar, wajah lumayan macho masculine, kontol gede ! tapi kenapa goblok, nggak ada otaknya ! yang dia tahu cuma duit-duit dan mungkin dukun ! Untuk homo-homo yang doyan kontol gede, jangan lupa mampir Museum Pusaka Nias di Gunung Sitoli. Hubungi Fabius Ndruru, mau lihat dan pegang kontolnya seratus ribu perak (US 10 dollar) isap-isap atau sodomi sampai ejakulasi seratus lima puluh ribu aja (US 15 dollar). Kontol murahan meriah meledak !
Fabius Ndruru

Jumat, 20 Juni 2014

Situs Megalitikum Tenjolaya Girang Sukabumi

0 komentar

Membaca Situs Megalitikum Tenjolaya Girang Sukabumi (Batu Kujang)

 Situs Megalit Tenjolaya Girang (Batu Kujang)
            Situs Megalit Tenjolaya Girang atau masyarakat umum lebih akrab menyebutnya situs batu Jolang atau batu Kujang, terletak tepat di kaki gunung Salak tepatnya di kampung Tenjolaya Girang Desa Cisaat Kec. Cicurug Kab. Sukabumi Jawa Barat, secara astronomis terletak di 6  45 dan 106  44’ 39” BT. Area situs dibatasi aliran Sungai Cisaat disebelah timur sebelah utara berupa lahan pertanian dan Gunung Salak di sebelah selatan merupakan pertemuan sungai Cisaat dan sungai Cileueur, disebelah barat areal pesawahan, untuk mencapai situs ini kendaraan roda empat hanya mampu mencapai kampung terdekat yaitu kampung Tenjolaya, selanjutnya perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua namun jika menggunakan kendaraan roda dua akan terasa berat karena rute yang ditempuh adalah jalanan berbatu dan licin serta jalan setapak, udara diarea situs terasa sejuk dan cenderung dingin dikarenakan posisi situs ini adalah sekitar 800 M diatas permukaan laut, areas situs diperkirakan memiliki luas 4000M²
            Kondisi situs ini sudah ditata sebagai situs purbakala yang dilindungi dan dikelola oleh Propinsi Jawa Barat, dinas kebudayaan dan pariwisata balai pengelolaan kepurbakalaan sejarah .dan nilai tradisional, Pada situs batu kujang ini terdapat beberapa batu menhir dan dolmen, yang tersusun pada tiga punden beruundak, jika dilihat dari posisi situs, bisa disimpulkan pintu gerbang situs berada di selatan ditandai oleh dua buah batu besar menyerupai pintu gerbang dengan beberpa batu batu besar yang saling menumpuk, ditahap pertama terdapat beberpa tumpukan batu dolmen kecil dan manhir manhir kecil yang membentuk seperti kumpulan kujang (Batu Kujang 2) dan terdapat juga sebuah kolam kecil, di tahap kedua terdapat dua tumpukan batu dolmen  yang lebih besar dari tahap pertama, di tahap ketiga terdapat sebuah batu dolmen yang pipih berbentuk seperti kujang dengan ukuran tinggi sekitar 200 Cm dan lebar 50 Cm. di dekatnya terdapat beberpa dolmen dan mahir kecil serta terdapat pula batu Jolang yang berbentuk seperti mangkok raksasa untuk menampung air, sekitar 4 meter dari batu yang berbentuk seperti kujang, bertumpuk pula beberapa dolmen-dolmen kecil yang di tengahnya terdapat beberpa batu manhir, jika dilihat batu-batu tersebut seperti membentuk sebuah kuburan. Didekat pintu masuk terdapat pua beberpa manhir, dan diluar gerbang ada sebuah dolmen dan menhir yang berbentuk seperti kuburan.
            Situs ini dikelola oleh tiga orang yang saling terikat ikatan keluarga yaitu abah omo sebagai kuncen pertama dari situs tersebut, yang sekarang digantikan oleh anaknya yaitu pak Wawan dan dibantu oleh istrinya, menurut pak Wawan penelitian lebih rinci mengenai Situs ini belum pernah dilakukan oleh badan arkeologi hanya survey-survey saja yang pernah dilakukan jadi pemaparan mengenai usia batu belum bisa di paparkan secara gamblang, hanya menurut survey usia batu diperkirakan 2000 tahun sebelum masehi, lebih tua dari batu tulis yang berada di Bogor, masih minimnya catatan mengenai batu ini juga mengakibatkan minimnya kunjungan dari masyarakat umum, pelajar, mahasiswa atau bahkan peneliti dalam satu bulan rata-rata pengunjung yang datang hanya sekitar 50 orang itu juga didominasi oleh orang-orang yang berniat untuk ziarah karena mereka mengeramatkan wilayah situs ini, menurut para peziarah situs ini adalah peninggalan raja pajajaran yaitu prabu siliwangi. Bagi mereka yang mengeramatkan wilayah situs ini mereka berpendapat bahwa raja pajajaran pernah berdiam ditempat ini atau sering disebut patilasan,
            Dilansir dari Kalangsunda.net kisah mengenai situs ini adalah, dahulu kala di kaki gunung Salak tersebutlah sebuah padepokan yang dihuni oleh puluhan resi, selain tempat tinggal, padepokan ini juga menjadi tempat para pembesar di kerajaan Paran Siliwangi (Cikal bakal kerajaan Tarauma Negara dan Padjajaran) meminta masukan dan nasehat tentang urusan Negara. Suatu ketika para resi kedatangan tamu pemimpin para Sang Hyang yaitu Sang Hyang Nagandini, Sang Hyang Nagandini membawa tiga bayi mungil, Nagandini bermaksud menitipkan ketiga anaknya itu untuk dididik oleh para Resi yang bijaksana.
            Para Resi menerima permintaan dari Sanghyang Nagandini kemudian memberikan nama kepada ketiga anak tersebut yaitu Taji Malela, Surya Kencana, dan Balung Tunggal, kelak ketiga anak itu akan menurunkan raja-raja yang berkuasa di Padjajaran sementara Sang Hyang Nagandini meninggalkan monumen pahatan kujang bagi ketiga anaknya, para resi pun membuat batu Jolang untuk memandikan anak-anak tersebut
            Hingga saat ini tidak banyak bukti historis yang bisa disajikan baik pemerintah dinas pariwisata Sukabumi atau para arkeolog.
Pembacaan Situs Tenjolaya Girang
            Menurut Jacob Sumardjo Tritangtu atau azas kesatuan tiga merupakan azas dasar masyrakat sunda lama, azas demikian itu bukan hanya terdapat di masyrakat sunda tetapi juga di Minangkabau, Melayu, Sawu, Batak, Itulah pandangan dunia masyarakat peladang. Azas tritangtu ini mendasari semua cara berpikir masyarakat dalam memamknai duniannya, cara berpikir, aktivitas dan karya-karya budayannya disusun dalam hubungan tritangtu yang dapat menjelaskan makna kausalitas keberadaan.
            Seperti dalam situs Tenjolaya Girang yang dibangun oleh masyrakat sunda lampau yang sudah menjadi masyrakat peladang dimasanya, hal tersebut bisa dilihat dari letak geografis situs, yang berada dilembah diantara bukit-bukit, bukit-bukit ini dijadkan sebagai tempat menanam kebutuhan sehari-hari seperti sayur-sayuran dan buah-buahan,  
            Situs Ini pun diapait oleh dua suangai yang mengutkan situs ini sebagai kabuyutan yaitu sungai Cileueur dan Sungai Cisaat, dari wilayah masuk situs ini terdapat dipertemuan sungai tersebut ditandai oleh dua batu basar yang menyerupai gerbang kemudaian masuk kedalam area situs yang sudah membentuk tiga tahapan/umpkan di tahapan pertama terletak beberapa batu mahir, dan batu dolmen yang di sebut warga sebagai batu kujang dua, di ingkat kedua didominasi oleh batu manhir, dengan yang memiliki dolmen kecil ditengahnya, di tingkat ketiga terletak batu dolmen yang besar yaitu batu kujang satu, dan beberpa menhir kecil serta batu dolmen yang ditidurkan, dan juga ada batu jolang yang bebentuk seperti mangkuk.

Peta Situs Megalit Tenjolaya Girang
            Tiga Umpakan atau tahapan dalam situs ini sudah menggambarkan tahap satu (paling bawah) adalah rama, tahap kedua (ditengah) adalah ratu dan tahap ketiga (paling atas) adalah resi, di tandai dengan batu-batu yang ada ditahapan-tahapan tersebut
Situs Tenjolaya Girang Komplek Batu Kujang
2. Ratu
1. Resi
3. Rama
 


Situs Tenjolaya Girang Keseluruhan
1.      Batu Kujang    (Bawah / Bumi)
2.      Batu Korsi (Tengah / Bumi )
3.      Batu Garuda Mupuk (Atas / Langit)
Batu yang terletak di tahap 1 komplek Situs Tenjolaya Girang (Batu Kujang)
            Gerbang
Batu Laki-laki
Batu Laki-laki
Batu Perempuan
 


Batu Kujang Dua
Tampak Depan                                                Tampak Samping


           
Batu Laki-Laki
Batu Laki-Laki
Batu Perempuan
 


            Di Batu Kujang dua ada posisi Perempuan yang dilaki-lakikan
            Ditahap paling atas di komplek situs ini, terdapat batu kujang satu atau batu Manhir yang berbentuk kujang, dengan beberapa manhir yang diposisikan tertidur, menyerupai tempat duduk diantara batu kujang ini, jika dilihat dengan seksama posisinya, dari batu-batu ini menyimbolkan tempat pemujaan pada masa lampau, dengan batu kujang sebaga objek pemujaannya, batu-batu mahhir yang ditiudrkan sebagai tempat duduknya dan Batu Jolang yang berbentuk seperti mangkuk sebagai penyimpanan air suci, atau tempat untuk membasuh diri sebelum melaksanakan pemujaan seperti berwudhu dalam agama islam.
             
Batu Kujang satu sebagai batu perempuan yang dilaki-lakikan posisinya
                                                           
 


                                                          
Batu manhir yang berada di samping Batu Kujang merupakan batu laki-laki yang diperempuankan posisinya
                                                          
                                                                                          
Tiga buah batu Manhir yang berada di samping batu kujang  memiliki ukuran yang lebih besar batu laki-laki ini diposisikan menjadi batu perempuan.
Batu Jolang yang berbentuk seperti mangkuk yang berisi air di tengahnya merupakan batu simbol perempuan letaknya ada di depan batu kujang.
 


            Komplek batu kujang tahap 1 sebagai resi atau sebagai dunia atas (Langit), memiliki komposisi batu yang lebih beragam, sebagai tempat paling tinggi dalam komlpek ini, batu-batu ini di khususkan untuk pemujaan , dilihat dari bentuk batunya dan pemosisianya yang menjadi paradok adalah banyaknya pemosisian batu perempuan yang dijadikan batu laki-laki sebagai bentuk kontaradiksi atau penyatuan, namun akan menciptkana nilai yang berbeda dari paradoks tersebut, menurut Jacob Sumardjo konsep teritangtu pada dasarnya adalah perkawinan pasangan oposisu segala hal, pasangan oposisi dasar adalah adalah pembagian laki-laki dan perempuan perkawinan keduanya menghasilakan lahirnya eksistenti ketiga yaitu anak, anak ini merupakan dunia abivalen, mengandung unsur laki-laki dan perempuan  ini lah dunia tengah yang berfungsi medium dari dua oposisi, konsep tri tangtu ini terbentuk di Situs Batu Kujang ini, dengan banyaknya proses pengawinan batu perempuan menjadi batu laki-laki, ini adalah pembentukan dunia tengah atau dunia keseimbangan, keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah dunia tengah yaitu dunia manusia.   
            Komposisi batu di komplek batu kujang ini memang digunakan orang-orang masa lampau untuk melakukan pemujaan, dan jika kita menuju ke utara ke gunung salak kita akan menemukan beberapa tumpukan batu yang merupakan runtutan dari komplek situs megalit tenjolaya girang, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguak rahasia di komlplek situs ini, karena masih banyak batu-batu terkubur yang bersatu dengan tanaman-tanaman warga yang masih bisa dibaca keberadaannya.
Daftar Pustaka :
Sumardjo, Jacob. 2011, Sunda Pola Rasionalitas Budaya, Bandung: Kelir
www.disparbud.jabarprov.go.id



Batik Sunda

0 komentar


Karya Supranaturalis Sisa-sisa Pajajaran
  Padepokan Wangisagara, di Kampung Ciawigede, Desa Neglasari, Kecamatan Majalaya merupakan pusat kerajinan seni karya-karya budaya khas jaman Pajajaran. Padepokan ini telah memproduksi batik Pajajaran, sketsa Karaton Pajajaran, Puadeu Pajajaran, arsitektur Lawang gintung Pajajaran serta lukisan-lukisan supranaturalis tokoh-tokoh. Genre karya seni ini dipelopori oleh R. Lalam Wiranatakusumah (alm.) yang sekarang dikelola dan dikembangkan  oleh keluarganya.***

Kerajaan Kendan

0 komentar

Situs Batu Kerajaan Kendan
Situs Batu Kerajaan Kendan terletak di Kampung Kendan, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg. Situs ini merupakan lahan gunung batu cadas, yang diduga menjadi kawasan kekuasaan Kerajaan Kendan atau Kerajaan Kelang. Kerajaan ini didirikan oleh Resiguru Manikmaya sekitar tahun 536 Masehi. Dari kerajaan ini kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan besar bernama Galuh, manakala kekuasaan kerajaan Kendan dipegang oleh Prabu Wretikandayun pada tahu 612 Masehi..**
 
SITUS ‘KOTA KUNO’  KENDAN
Dituturkan oleh WA IKIM*)
 
Berbicara masalah kota tua atau kota lama di Tatar Sunda, janganlah lantas menggiring pikiran pada kota-kota lama di dunia. Orang Yunani atau orang Romawi mungkin boleh jadi merasa dikagumi oleh seluruh warga dunia karena masih menyisakan peninggalan-peninggalan kota lama dari zaman kuno sebagai pusat kegiatan kehidupan masa lalunya yang begitu mengagumkan. Tapi, bagaimana dengan nasib kota-kota tua di tatar Sunda.  Khususnya di Kabupaten Bandung.
Dalam khazanah bahasa Sunda, memang dikenal istilah dayeuh sebagai proses perkembangan kabahasaan dari istilah dayo dalam naskah kuno, yang memiliki pengertian sama dengan ‘kota’. Adanya istilah dayo atau dayeuh, kerapkali kita baca dalam  istilah kata majemuk ‘puseur dayeuh’, yang sering dimaknai sebagai pusat pemerintahan, tempat para penguasa bergumul melayani kepentingan rakyatnya.
Apabila kita merujuk pada perkembangan sejarah wilayah kabupaten Bandung dari jaman Kendan pada abad ke-6 hingga jaman masuk kekuasaan Mataram pada abad ke-17, hanya ada beberapa tempat saja yang disebut sebagai puseur dayeuh, yakni wilayah di sekitar Nagrek sebagai puseur dayeuh karajaan Kendan, Tegalluar  di Kecamatan Bojongsoang (?) sebagai puseur dayeuh Timbanganten dan Krapyak  di Kecamatan Dayeuhkolot sebagai puseur dayeuh Kabupaten Bandung. 
Di dalam beberapa cerita rakyat atau legenda,  disebutkan juga adanya puseur-puseur dayeuh yang tersebar di beberapa wilayah desa dan kecamatan, seperti Kadatuan (Kadatwan Pradetsya Iswara) di Kecamatan Paseh, Kadaleman sebagai puseur dayeuh Tatar Ukur (tersebar di beberapa wilayah kecamatan).
Selain itu, secara toponimi, ada beberapa tempat yang berhubungan dengan istilah puseur dayeuh dalam sistem pemerintahan tradisional masa lalu, seperti Dayeuhluhur (terdapat di Kecamatan Pacet dan Kecamatan Ibun), Kutawaringin di wilayah Soreang (sekarang menjadi nama kecamatan), Dayeuhkolot yang dalam bahasa Belanda disebut Oude Negorij (Negeri Lama). Jagabaya (nama sebuah desa di Kecamatan Cimaung), Langonsari (nama desa di Kecamatan Pameungpeuk), Langensari (di Kecamatan Solokanjeruk), dan  Pulosari (nama sebuah desa di Kecamatan Pangalengan, Drawati (asal dari kata dorawati) yang terdapat di Kecamatan Paseh atau sekitar wilayah Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Citaman di Kecamatan Nagreg serta kampung Balegede di Kecamatan Baleendah.
Kota Tua kerajaan Kendan
Wilayah Nagreg merupakan bekas ibukota kerajaan Kendan atau kerajaan Kelang, menurut versi masyarakat setempat.
Kerajaan Kelang ibukotanya bernama Kendan. Nama Kendan sendiri berasal dari kata kenan, yaitu sejenis batuan cadas, berongga, dan di dalamnya mengandung kaca (batu beling) berwarna hitam. Batuan ini tampak berkilauan saat terkena matahari. Permukaannya sangat kasar dan sedikit tajam. Jenis batuan ini hanya terdapat dalam wilayah kampung Kendan. Sedangkan di tempat lainnya, termasuk di kampung-kampung dekatnya, nyaris sangat sulit ditemukan.
Menurut versi lain, nama Kendan berasal dari kata kanda yang mendapat akhiran -an, yaitu sebuah sistem religi tradisonal yang menganut paham monoteisme (hyang tunggal) yang dikembangkan oleh Praburesiguru Manikmaya pada abad ke-6 sebagai norma kehidupan beragama jauh sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda sekitar abad ke 16. Salah satu kegiatan ritual keagamaannya berbentuk pasaduan yang dilakukan di seputar kabuyutan. Dan di dalam kabuyutan tersebut biasanya ditandai dengan bangunan punden berundak.
Punden ini tersebar di beberapa tempat yang sering disebut orang sebagai candi. Istilah ini didasarkan adanya kemiripan bahan material dengan bangunan umat Hindu. Meskipun sebenarnya antara arsitektur punden dan arsitektur candi sangat jauh berbeda. Candi merupakan bangunan tertutup atau berdinding, sedangkan punden merupakan bangunan terbuka tanpa dinding maupun atap. Di dalam konsep tata ruang puseur dayeuh kerajaan pra-Islam di Tatar Sunda, bangunan punden berfungsi sebagai goah.
Berbeda dengan beberapa daerah bekas kerajaan di beberapa belahan dunia, keberadaan kota lama sebagai puseur dayeuh mungkin tidak terlalu menonjol.
Sebuah petunjuk mengenai keberadaan puseur dayeuh,  pada saat ini yang dapat kita saksikan hanyalah sebuah perkampungan yang disebut Kampung Kendan. Wilayah ini merupakan sebuah bukit yang terletak 15 km sebelah tenggara Cicalengka. Di daerah ini pernah ditemukan pula sebuah arca manik (yang oleh para ahli sejarah disebut Patung Durga ) yang sangat halus pembuatannya. Dan sekarang disimpan di  Museum Nasional Jakarta.  Selain itu, di kawasan ini ditemukan beberapa situs makam keramat yang diduga merupakan tokoh-tokoh Kerajaan Kendan, seperti Sanghyang Anjungan, Embah Singa, Embah Cakra dan situs makam Kiara Janggot.
Perlu menjadi catatan, arca Manik(maya) bukanlah untuk dijadikan berhala, melainkan semata-mata bentuk penghormatan dan kekaguman masyarakat Kendan terhadap ketokohan Sang Prabu Rsiguru Manikmaya. Karena sang Prabu, selain seorang penguasa yang arif bijaksana, juga seorang Rsiguru yang mengajarkan berbagai tatanan peradaban baru pada masanya, maka tidak mustahil arca Manik ini  banyak menghiasi kabuyutan-kabuyutan sebagai ikon ketaatan dan kepatuhan masyarakat Kendan terhadap ajaran-ajaran Manikmaya sebagai gambaran kehidupan spiritual dalam sistem religi pada masa itu.
Pada bekas puseur dayeuh Kendan, selain ditemukan arca Manik, saat melakukan investigasi ke wilayah ini, sempat pula ditemukan sebuah ‘mahkota’ serta sebuah pusaka nagasasra (singkatan dari nagara rasa) yang tersimpan di salah seorang sesepuh Kampung Kendan. Sebagai nagara rasa, hanya orang yang memiliki kehalusan rasa dan ketajaman bathin yang dapat merasakan peninggalan-peningalan kerajaan Kendan yang sudah terkubur ratusan tahun lamanya. Dan sampai saat ini pun, belum dapat dipastikan dimana material bekas “karaton”-nya.
Nama kerajaan Kendan sendiri bagi masyarakat sekitarnya, sebenarnya tidak terlalu diabaikan. Sebab, menurut salah seorang penduduk, nama kerajaan Kendan itu sebenarnya kurang begitu diketahui. Mereka justru lebih mengenal kerajaan Kelang daripada kerajaan Kendan. Sedangkan Kendan merupakan ibukota pusat pemerintahannya.
Bila melihat konsep tata ruang kerajaan Kendan, bagaimana pun tidak akan sama dengan tata ruang wilayah Kabupaten Bandung pada setiap periode. Masa masa Kerajaan Kendan, konsepnya sangat sederhana. Yang dimaksud dengan Puseur Dayeuh itu, hanyalah terdiri dari kompleks karaton yang terletak di atas bukit, di bawahnya terdapat tajur, yang berfungsi sebagai alun-alun untuk melakukan upacara kerajaan yang melibatkan masyarakat banyak. Selebihnya adalah rumah-rumah penduduk yang tempatnya saling berjauhan.
Komplek karaton pun hanya terdiri dari bangunan bale gede untuk pelayanan rakyat dan bale bubut untuk tempat tinggal raja. Seluruh bangunan berbentuk panggung. Oleh karena itu, jika material bekas bangunan “karaton” Kerajaan Kendan sangat sulit ditemukan, adalah sesuatu yang wajar. Karena bahan dasar material bangunannya sendiri bukanlah terbuat dari bahan-bahan material permanen yang memungkin bisa saja rusak termakan waktu atau memang ada yang menghancurkan setelah lama ditinggalkan. Jika ada bekas-bekas karaton, paling yang bisa ditemukan hanya konsep tata ruang. Itu pun sudah dalam bentuk penamaan tempat.
Sedangkan, untuk artefak-artefak mungkin saja bisa ditemukan di sekitar bekas karaton. Diantaranya, yang pernah ditemukan adalah sebuah patung yang disebut arca Manik.***
 
*) WA IKIM adalah kuncen situs Kendan yang sering dijadikan narasumber oleh para mahasiswa dan pemerhati sejarah mengenai keberadaan Kerajaan Kendan.
 

Selasa, 17 Juni 2014

Peninggalan Kerajaan Sumedang Larang

0 komentar
(http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang pernah berdiri di Jawa Barat, Indonesia. Namun, popularitas kerajaan ini tidak sebesar popularitas Kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Cirebon dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Tapi, keberadaan kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam penyebaraan Islam di Jawa Barat sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten.

(http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)
Kerajaan Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang) adalah salah satu dari berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Selain itu dikenal juga kerajaan sunda lainnya seperti kerajaan Pajajaran yang juga masih berkaitan erat dengan kerajaan sebelumnya (Galuh), namun keberadaan kerajaan Pajajaran ini berakhir di Pakuan (Bogor) karena serangan aliansi kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Kerajaan Sumedang Larang menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.

Mahkota Binokasih Sanghyang Pake merupakan Legitimasi Penerus Pajajaran kepada
Prabu Geusan Ulun selaku Nalendra Sumedang Larang 
(http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)
 
Kerajaan Sumedang Larang berasal dari kerajaan Sunda-Pajajaran yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Padjadjaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Adji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu Tadjimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari Insun Medal atau Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan, dan larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya).

Siger Mahkota Binokasih Sanghyang Pake (http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)

Pada pertengahan abad ke-16, Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslim menikahi Pangeran Santri(1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang Ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya.

Ikat Bahu Pasangan Mahkota Binokasih (http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)

Ikat Bahu Pasangan Mahkota Binokasih (http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)

Prabu Geusan Ulun dinobatkan sebagai Bupati Sumedang I (1580-1608 M) menggantikan kekuasaan Ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai Ibu kota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera kandungnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinan ayahnya. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang dijadikan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai 'kerajaan' dirubah menjadi 'kabupaten' olehnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda yang sedang mengalami konflik dengan Mataram.

Badik Curug Aul Senopati Pajajaran Jayaperkosa (http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)

Sultan Agung memberi perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika, pasukan Kerajan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan militer kabupaten Sumedang Larang dipergikan ke Madura atas titah Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten dan akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekalilagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Bokor (http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama, Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wirangunangun, Kedua, Kabupaten Parakanmuncang yang dimpimpin oleh Tanubaya dan Ketiga, kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha/ R. Wirawangsa.

Sisir (http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)

Hingga kini, Sumedang masih berstatus kabupaten, sebagai sisa peninggalan konflik politik yang banyak diinterfensi oleh Kerajaan Mataram pada masa itu. Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan, perlengkapan raja-raja dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang Larang masih dapat dilihat secara umum di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun kota Sumedang, bersatu dengan Gedung Srimanganti dan bangunan pemerintah daerah setempat.

Keris Ki Dukun Prabu Gajah Agung (http//exsperiencelife-andy.blogspot.com)

Keris Naga Sastra Pangeran Kornel (http://exsperiencelife-andy.blogspot.com)

Telusur Citarum Purba

0 komentar

Telusur Citarum Purba

Posted in Catatan Perjalanan on Oktober 24, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Nia Janiar

Saat SMS undangan ngaleut datang tanpa menyebutkan destinasinya, saya tidak memiliki bayangan hingga sms tersebut memberitahukan, “Seru beeng. Ngingetin sama ngaleut pertama kamu, Nia.” Karena ngaleut pertama saya adalah menyusuri Sungai Cikapundung, berarti kali ini juga akan menyusuri sungai. Apalagi di SMS tersebut ada biaya transportasi Rp30.000,00, maka saya jadi curiga bahwa Minggu (23/10) akan pergi ke Citarum Purba.
Buku catatan kecil sudah dibawa. Kamera sudah dipersiapkan. Dan asumsi saya ternyata benar.
Dulu saya bertanya pada teman dimana itu Citarum Purba saat melihat foto-fotonya, dia membalas, “Rahasiaa.” Meh. Melihat saya akan pergi ke sana, rasanya hati ini sudah senang duluan karena perjalanan sekarang ini akan menjawab sebuah rasa penasaran. Dengan carteran angkot di daerah alun-alun, masuk daerah Rajamandala-Padalarang hingga PLTA Saguling, sampailah saya ke sebuah sungai yang panjangnya kira-kira 225 kilometer ini.
Citarum ini dari kata Ci dan Tarum. Ci atau cai dalam bahasa Sunda berarti air, sementara Tarum atau nila itu adalah jenis tanaman. Citarum bukanlah sungai biasa. Bagaimana tidak, ia adalah aliran air yang pernah mampat oleh lahar letusan Gunung Sunda lalu membanjiri cekungan Bandung sehingga terjadi Danau Bandung Purba! Luar biasa.
Pertama kami ke sebuah gua Sangyang Tikorok. Ini merupakan aliran sungai bawah tanah dan menembus sebuah bukit. Menurut Pia, aleutians yang diminta menjelaskan tentang arti nama gua ini, Sangyang itu sama seperti The Almighty atau The Holly sementara Tikorok itu tenggorokan. Bahkan ada mitos jika sebuah kayu masuk ke dalam maka gua ini akan bersuara seperti tenggorokan yang tersedak.
Sangyang Tikorok
Tidak ada yang berani menyusuri gua yang panjangnya sekitar 200 meter ini. Kata Bang Ridwan, orang mungkin hanya berani masuk sekitar 80 meter. Tapi ternyata ada saja beberapa warga yang berani menelusuri panjang gua sampai habis. Membayangkan 200 meter yang gelap dan penuh dengan suara gemericik air saja sudah menyeramkan.
Setelah dari sana, kami ke Sangyang Poek, gua di daratan. Di balik gua ada sebuah ruang yang dikelilingi dan dinaungi oleh batu yang sangat besar. Sebenarnya menuju ruang itu bisa masuk gua Sangyang Poek. Tapi saya memilih lewat jalan yang agak memutar namun tetap terbuka. Untuk mengisi tenaga ke destinasi selanjutnya dan menunggu rintik hujan reda, kami makan siang dari bekal yang sudah kami beli di daerah Padalarang. Penting untuk dicatat karena daerah sini tidak ada warung apalagi Alfamart.
Oke, jika ini Citarum Purba, lalu kita mau kemana lagi? — itu yang terbesit oleh saya karena kalau tidak salah foto-foto teman saya hanya sampai batu besar itu saja. Ternyata, jika tidak jauh, bukan Aleut! namanya. Dan kalau pun jaraknya dekat, pasti aleutians juga kecewa. Kami terus berjalan menuju hulu, melewati, menginjak, dan melompati bebatuan yang begitu besar, sampai ke sebuah kolam hasil bendungan aliran air akibat celah batu yang menghimpit kecil. Maka ini adalah tujuan akhir kami, sebuah pemandian alam yang sesungguhnya dengan air bersih nan hijau di tengah hutan.
Edo–yang entah bagaimana–sudah ada di situ.
Semua orang malu-malu untuk menyebur. Saya sendiri punya ketakutan irrasional terhadap air yang tidak bening dan tidak terlihat dasarnya. Namun ketika Bang Ridwan dan Reza sudah masuk, saya memberanikan diri. Tidak ada yang menarik kaki mereka dan tenggelam ke dasar kolam, artinya di sana tidak ada binatang apa-apa. Begitu masuk … huah! Peluh langsung hilang begitu badan tersentuh segarnya air Citarum. Menyesal bagi mereka yang tidak berenang.
Setelah berenang, berendam, dan berganti pakaian, akhirnya kami pulang. Kala itu waktu sudah sore. Untung angkutannya mau menunggu sehingga kami tidak perlu jalan kaki sejauh 15 kilometer menuju jalan raya. Pipit, salah satu aleutian yang bersusah payah mengumpulkan tenaganya hingga pulang, akhirnya ‘khatam’ hingga tempat kami berakhir. Selamat untuk Pipit. Selamat juga untuk teman-teman yang sudah saling membantu dan merelakan tangan agar saling berpagut di perjalanan yang penuh tantangan ini. Budaya tolong menolong ini sudah saya kenal ketika saya pertama kali gabung Komunitas Aleut! dan masih terjaga hingga sekarang. Luar biasa.
Hari sudah menuju pukul 6 sore. Burung-burung hitam berterbangan di atas langit Citarum, pipa-pipa oranye yang besar tampak berpendar, dan pohon-pohon bergemerisik syahdu ditempa angin. Walau menyisakan pegal di tangan dan di kaki, semoga sebuah pengalaman dan panorama keindahan purba akan terus disajikan Sungai Citarum nan lestari.

Senin, 16 Juni 2014

Atlantis Sunda ( Bangsa Lemuria )

0 komentar

Category Archives: Kajian Sundanologi

Sunda Wiwitan

Sunda Wiwitan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sunda Wiwitan (Bahasa Sunda: “Sunda permulaan”, “Sunda sejati”, atau “Sunda asli”) adalah agama atau kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dandinamisme) yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda.[1] Akan tetapi ada sementara pihak yang berpendapat bahwa Agama Sunda Wiwitan juga memiliki unsur monotheisme purba, yaitu di atas para dewata dan hyang dalam pantheonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di KanekesLebakBanten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; dan Cigugur, Kuningan. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam.
Continue reading

Manusia Gua Pawon, Manusia Beradab Pertama?

Dear All,
Terima kasih Bang Ken yg sudah mempertanyakan Adam AS itu berapa umur pastinya dan Homo Sapiens itu umurnya berapa?
Mohon info kalau ada yang punya data tentang eksistensi manusia Gua Pawon yang sedang atau pernah diteliti sama Tim Cekungan Bandung kalau ngak salah?
Kang Tatang sama Kang Budi Brahmantyo duet maut geologi Unpad feat ITB ya?
Pertanyaan lebih mendalam apakah Manusia Gua Pawon sudah beradab? Berakal sehat?
Kenapa pertanyaan itu dilontarkan untuk mencoba menjawab teka-teki, Kakek Mamang duluuuuw banget bilang bahwa Nabi Adam AS itu asalnya dari Tatar Sunda?
Kang Yadi Ahli Tafsir Al Qur’an menyampaikan bahwa Nabi Adam AS itu Khalifah Pertama di Muka Bumi, Noted ya Adam AS itu bukan manusia pertama tapi Khalifah/ Pemimpin artinya manusia yang diberikan Kecerdasan dalam berfikir secara Common Sense/ Akal Sehat.
Sebelum Adam masih banyak manusia-2 lainnya tapi sebut saja Manusia Purba :). Pithecantropus dan sejenisnya diantaranya.
Continue reading

Cipaku Jejak Monotheisme Nusantara Purba

mang kabayan dkabayan@gmail.com
Ternyata penamaan Nusantara itu berasal dari Kabuyutan :). Amanah Buyut mengatakan: “buyut dititipkeun ka puun 33 nusa, 65 bagawan/sungai, dan pancer 25 nagara“. Nusantara = Nusa Diantara/ Diapit Dua Sungai :).
Seperti kita ketahui hal dasar yang dibutuhkan seekor, eeeeeh, seorang manusia adalah Minuman dan Makanan :). Minuman/ Air harus dipenuhi dari mata air atau sungai :). Dan Makanan bisa dari hutan atau mulai bercocok tanam :). Protein bisa dari ikan di sungai atau berburu hewan.
Continue reading

SEJARAH SINGKAT SUMEDANG

Status Update
By Kp Norman Pangerannorman
SEJARAH SINGKAT SUMEDANG I. ASAL KATA “SUMEDANG”
Kata Sumedang berasal dari “inSUn MEdal insun maDANGan”, Insun artinya saya Medal artinya lahir Madangan artinya memberi penerangan jadi kata Sumedang bisa berarti “Saya lahir untuk memberi penerangan”. Kalimat “Insun Medal Insun Madangan” terucap ketika Prabu Tajimalela raja Sumedang Larang I melihat ketika langit menjadi terang-benderang oleh cahaya yang melengkung mirip selendang (malela) selama tiga hari tiga malam. Kata Sumedang dapat juga diambil juga dari kata Su yang berarti baik atau indah dan Medang adalah nama sejenis pohon, Litsia Chinensis sekarang dikenal sebagai pohon Huru, dulu pohon medang banyak tumbuh subur di dataran tinggi sampai ketinggi 700 m dari permukaan laut seperti halnya Sumedang merupakan dataran tinggi.
Continue reading

Salaka Domas dan Salaka Nagara : Sejarah Sundapura

Salaka Domas dan Salaka Nagara
Sejarah Sundapura
Peradaban “Sunda” telah ada antara 30.000 – 12.000 tahun sebelum Masehi, jauh lebih tua dari peradaban bangsa Mesir (6000 SM). Namun demikian perlu dipahami terlebih dahulu bahwa istilah “SUNDA” sama sekali bukan nama etnis (suku) yang tinggal di Jawa Barat, sebab Sunda merupakan nama wilayah besar yang ditimbulkan oleh adanya ajaran “SUNDAYANA” (yana=ajaran) yang disebarluaskan oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang (bapak dari Da Hyang Su-Umbi=Dayang Sumbi). Inti ajaran Prabhu Sindhu atau Sintho (di Jepang) dan di India menjadi HINDU (Hindus) adalah ajaran ‘budhi-pekerti’ dan ketata-negaraan yang disebut sebagai La-Hyang Salaka Domasdan La-Hyang Salaka Nagara. Continue reading

Siapa sih Bujangga Manik?

Sampurasun, Kumaha Daramang para sahaba semua? mudah2an sehat selalu… Lama tak menyapa karena banyak keluar kota.. kali ini saya akan bercerita ttg Napak Tilas Perjalanan Bujangga Manik. … Siapa sih Bujangga Manik?
Beliau adalah seorang Bangsawan Kerajaan Pajajaran yang memilih menjadi Bramesta Agama Sunda daripada menjadi Pangeran. Disebut Bramesta karena dalam agama Sunda, seseorang yang menjadi ahli agama disebutnya Bramesta. Bujangga Manik melakukan perjalanan dari Kota Pakwan ke Nusa Bali. Dalam perjalanannya Beliau singgah di suatu tempat di daerah Brebes, tempat itu bernama Jalatunda dan Agrajati. Beliau berkata bahwa “Jalatunda , Sakakala Silihwangi”.

Perjalanan Para Resi dari Sunda Kecil (Upa Sunda) menuju Sunda Besar.

Perjalanan dari Sunda Kecil (Upa Sunda) menuju Sunda Besar.by LQ Hendrawan Sampurasun.
Perjalanan dari Sunda Kecil (Upa Sunda) menuju Sunda Besar.
Sejak ribuan tahun lalu para RESI dari pulau DEWATA menempa diri di NUSALARANG (pulau Suci / pulau Nandi / nusa Jawi / nusa Jawa) dan perjalanan mereka berakhir di bagian barat pulau Jawa di Gn. Agung Bataraguru / Gn. Sunda yang pada masa itu merupakan wilayah RAMA. Maka masyarakat Balai Agung hingga saat ini menganggap “saudara tua” kepada para pemeluk Ajar Pikukuh Sunda yang menghormati SANG BATARAGURU / HYANG SIWA.
Setelah kembali dari PA-RA-HYANG, para RESI akan menjadi GURU (Guru Besar) di Balai Agung untuk mengajarkan berbagai kaweruh kepada para Datuk serta Raja-raja yang datang dari seluruh penjuru dunia.
Jadi dapat dipahami, itu sebabnya “kebudayaan” masyarakat di Bali sangat kuat, mereka teguh memeluk Ajar Pikukuh Sunda (Siwa / Bataraguru)… namun sekitar tahun 60an mereka diberi cap oleh pemerintah Indonesia sebagai “Hindu” (Hindu Bali)… dan kebanyakan bangsa Indonesia menganggap bahwa itu semua berasal dari INDIA.
“SUNDA SAAMPAR JAGAT SATUNGKEBING LANGIT… GEUS WANCI KEBO MULIH PAKANDANGAN”
Bersama-sama KITA Kembalikan Kejayaan Leluhur Bangsa Nusantara…!!!
Mugia Rahayu Sagung Dumadi _/|_
Unlike ·  · Follow Post · Share

Gunung Salak tempat Persemayaman Raja-raja Sunda

Rakean Heulang Kasundan
Gunung Salak tempat Persemayaman Raja-raja Sunda
By Rakean Heulang Kasundan and Daniels Wairata
in Kampung Budaya Sindangbarang (KBS)
Sampurasun, Kumaha sahabat Kp Budaya Damang sadayana? lama tak menyapa karena byk di lembur maklum sinyalnya jelek buat internet di kp Budaya.
Kali ini saya coba bercerita ttg Gunung Salak dan Fenomenanya. Saat ini di Gunung Salak banyak sekali ditemukan Punden berundak, diantaranya Punden berundak Arca Domas, Pasir Manggis, Batu Jolang, Girijaya, Cimelati dan beberapa Punden berundak lainnya.
Terus terang hal ini menjadi pemikiran saya untuk apa sih para leluhur kita itu membuat punden berundak di Gunung? Jauh pula….Ternyata setelah saya perhatikan punden2 berundak di Gunung Salak itu bukan hanya sebagai sarana peribadatan akan tetapi juga tempat disemayamkannya Raja-raja Sunda.

Bukti Ilmiah tambahan Bahwa Bangsa Jepang Berasal dari Jawa

The Origin of Japan from Java