Senin, 23 Februari 2015

Sendratari sunda

0 komentar
RETNO HY/"PRLM"
RETNO HY/"PRLM"
DEWI Amba terus menerus menggoda Bisma yang menolak cinta Dewi Amba pada pegelaran Sendratari Asmara Amba bertempat di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Kamis (24/5/12) malam.*
BANDUNG, (PRLM).- Kisah “Asmara Amba” dari epos Mahabharata dalam bentuk karya seni sendratari yang di gelar di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Kamis (24/5/12) malam pukau ratusan penonton. Untaian cerita dalam bentuk gerak tari dan musik di dukung tata cahaya dan tata artistik panggung membuat alur cerita dengan mudah dipahami penonton.
Kisah cinta seorang Dewi Amba kepada Bisma dibawakan mahasiswa jurusan seni tari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia (FPBS UPI) Bandung, berlangsung selama dua hari. “Tema yang diangkat masih sangat relevan dengan wacana kekinian, dengan mengangkat dan mengedepankan budaya lokal tanpa harus menutup mata terhadap kecenderungan global,” ujar Dekan FPBS UPI Bandung, Prof. DR. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd., dalam sambutannya.
Dramatari “Asmara Amba” berceritakan tentang perasaan cinta Dewi Amba, puteri sulung raja Kasi. Bersama dua adiknya Ambika dan Ambalika diboyong ke Hastina oleh Bisma dalam suatu sayembara.
Ketiganya dibawa ke Hastina untuk dinikahkan dengan Wicitrawirya, raja Hastina. Namun rasa cinta Amba hanya untuk Bisma seorang, karenanya Amba terus mengoda agar Bisma yang sudah bersumpah untuk tidak menikah.
Hingga puncaknya, rasa cinta Dewi Amba berujung pada kematian dirinya karena mata pedang yang terlepas dari busur Bisma. Rasa cinta Dewi Amba kepada Bisma dibawa mati, dan menurut cerita Dewi Amba kembali lahir sebagai Srikandi dan di perang Kurusetra Bisma mati di tangan Srikandi. (A-87/A-88)***

Minggu, 22 Februari 2015

pendapat yuliawan mpd tentang "Bangsa Sunda" on Januari 7, 2015 pukul 3:40 am

0 komentar
samprazaan…
Yang saya ketahui orang sunda itu keturunan dari sebuah bangsa bernama LEMURIAN, letak wilayah yang mereka diami itu ya di tepatnya di kita, karena nuswantara/indonesia itu dulunya dataran tinggi benua Lemurian yang tenggelam, lalu datanglah bangsa ATLANTIS dan mengklaim bahwa nuswantara /Indonesia itu benuanya sedangkan informasi sebenarnya yaitu benua Lemurian di hilangkan ,tujuan nya jelas agar keturunan bangsa Lemurian yaitu suku sunda tidak mengetahui leluhurnya.
SUNDA itu berasal dari ZHUNDA yaitu nama gunung besar yg meledak dan hanya menyisakan kaki kaki gunungnya saja yaitu gunung krakavta/krakatau, ciremai ,burangrang ,gede,dsb. ZHUNDA juga merupakan bahasa yg di pergunakan bangsa ini.
Wilayah suku sunda oleh bangsa lain di kenal juga dengan sebutan PARAHYANGAN ,yang berarti PARA = kumpulan, HYANGAN= dewa jadi kumpulan para dewa. disebut seperti itu karena peradaban bangsa Lemurian memiliki peradaban yang sangat modern jauh lebih modern dari sekarang tapi karena kepentingan kelompok bangsa ATLANTIS (leluhur yahudi) yang bersekutu dengan bangsa RAMA (leluhur india) yang sengaja menghilangkannya lalu di klaim lah bahwa nuswantara/indonesia sebagai benua Atlantis hingga sekarang dalam sejarah pun seperti itu.
Salah satu bukti bangsa LEMURIAN ada di wilayah kita terdapat di gunung Padang, gunung Putri, gunung sadahurip. dza rampiaza

pendapat @Sandi Kaladia tentang "Bangsa Sunda"

0 komentar
Ga masalah asal usul Manusia Sunda mau dikatain dari SUKU MONGOL atau dari SUKU JEBRAG, SUKU KUDA, SUKU MUNDING, dll, sbb muatan yang sangat tendensius tsb akan dilumat oleh pergerakan waktu. Percayalah.
SUNDA SESUNGGUHNYA PEMILIK PERADABAN DUNIA YANG TITIK PUSATNYA ADALAH PARAHYANGAN.
JANGAN MENSTIGMA SUNDA SEBAGAI POTENSI ETNIS & LOKAL GENIUS, TAPI SUNDA ADALAH POTENSI GLOBAL & UNIVERSAL GENIUS.
JANGAN SALAH MAKOM DAN JANGAN COBA-COBA BERBICARA LOKAL GENIUS, SEBAB POTENSI SUNDA AKAN MELAHIRKAN MANUSIA GLOBAL GENIUS, BAHKAN UNIVERSAL GENIUS.
SUNDA AKAN MENGECIL KETIKA BERBICARA LOKAL GENIUS, SEBAB SUNDA SESUNGGUHNYA PEMILIK OTORITAS “HIPER MAKOM”.
Jika Manusia Sunda berbicara Lokal Genius, maka akan terjebak menjadi manusia “PANAS BARANAN”. Inilah salah satu contoh Manusia Sunda dengan wawasan UNIVERSAL GENIUS yang siap menghancurkan penyelewengan ilmu pengetahuan dan peradaban destruktif:
——————————
MANDALAJATI NISKALA
Seorang Filsuf Sunda Abad 21
Menjelaskan Dalam Buku
SANG PEMBAHARU DUNIA
DI ABAD 21,
Mengenai
HAKEKAT DIRI
Salah seorang peneliti Sunda yang sedang menulis buku
“SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21,
bertanya kepada Mandalajati Niskala:
“Apa yang anda ketahui satu saja RAHASIA PENTING mengenai apa DIRI itu? Darimana dan mau kemana?
Jawaban Mandalajati Niskala:
“Saya katakan dengan sesungguhnya bahwa pertanyaan ini satu-satunya pertanyaan yang sangat penting dibanding dari ratusan pertanyaan yang anda lontarkan kepada saya selama anda menyusun buku ini.
Memang pertanyaan ini sepertinya bukan pertanyaan yang istimewa karena kata “DIRI” bukan kata asing dan sering diucapkan, terlebih kita beranggapan diri dimiliki oleh setiap manusia, sehingga mudah dijawab terutama oleh para akhli.
Kesimpulan para Akhli yang berstandar akademis mengatakan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA.
Pernyataan semacam ini hingga abad 21 tidak berubah dan tak ada yang sanggup menyangkalnya. Para Akademis Dunia Barat maupun Dunia Timur banyak mengeluarkan teori dan argumentasi bahwa diri adalah unsure dalam dari tubuh manusia. Argumentasi dan teori mereka bertebaran dalam ribuan buku tebal. Kesimpulan akademis telah melahirkan argumentasi Rasional yaitu argumentasi yang muncul berdasarkan “Nilai Rasio” atau nilai rata-rata pemahaman Dunia Pendidikan.
Saya yakin Andapun sama punya jawaban rasional seperti di atas.
Tentu anda akan kaget jika mendengar jawaban saya yang kebalikan dari teori mereka.
Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya ingin mengajak siapapun untuk menjadi cerdas dan itu dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana.
Coba kita mulai belajar melacak dengan memunculkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kata DIRI, JIWA dan BADAN, agar kita dapat memahami apa DIRI itu sebenarnya. Beberapa contoh pertanyaan saya susun seperti hal dibawah ini:
1)Apa bedanya antara MEMBERSIHKAN BADAN, MEMBERSIHKAN JIWA dan MEMBERSIHKAN DIRI?
2)Apa bedanya KEKUATAN BADAN, KEKUATAN JIWA dan KEKUATAN DIRI?
3)Kenapa ada istilah KESADARAN JIWA dan KESADARAN DIRI sedangkan istilah KESADARAN BADAN tidak ada?
4)Kenapa ada istilah SEORANG DIRI tetapi tidak ada istilah SEORANG BADAN dan SEORANG JIWA?
5)Kenapa ada istilah DIRI PRIBADI sedangkan istilah BADAN PRIBADI tidak ada, demikian pula istilah JIWA PRIBADI menjadi rancu?
6)Kenapa ada istilah KETETAPAN DIRI dan KETETAPAN JIWA tetapi tidak ada istilah KETETAPAN BADAN?
7)Kenapa ada istilah BERAT BADAN tetapi tidak ada istilah BERAT JIWA dan BERAT DIRI?
8)Kenapa ada istilah BELA DIRI sedangkan istilah BELA JIWA dan BELA BADAN tidak ada?
9)Kenapa ada istilah TAHU DIRI tetapi tidak ada istilah TAHU BADAN dan TAHU JIWA?
10)Kenapa ada istilah JATI DIRI sedangkan istilah JATI BADAN dan JATI JIWA tidak ada?
11)Apa bedanya antara kata BER~BADAN, BER~JIWA dan BER~DIRI?
12)Kenapa ada istilah BER~DIRI DENGAN SEN~DIRI~NYA tetapi tidak ada istilah BER~BADAN DENGAN SE~BADAN~NYA dan BER~JIWA DENGAN SE~JIWA~NYA?
13)Kenapa ada istilah ANGGOTA BADAN tetapi tidak ada istilah ANGGOTA JIWA dan ANGGOTA DIRI?
Beribu pertanyaan seperti diatas bisa anda munculkan kemudian anda renungkan. Saya jamin anda akan menjadi faham dan cerdas dengan sendirinya, apalagi jika anda hubungkan dengan kata yang lainnya seperti; SUKMA, RAGA, HATI, PERASAAN, dsb.
Kembali kepada pemahaman Akhli Filsafat, Ahli Budaya, Akhli Spiritual, Akhli Agama, Para Ulama, Para Kyai dan masyarakat umum BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA. Mulculnya pemahaman para akhli seperti ini dapat saya maklumi karena mereka semuah adalah kaum akademis yang menggunakan standar kebenaran akademis.
Saya berani mengetasnamakan Sunda, bahwa pemikiran di atas adalah SALAH.
Dalam Filsafat Sunda yang saya gali, saya temukan kesimpulan yang berbeda dengan pemahaman umum dalam dunia ilmu pengetahuan.
Setelah saya konfirmasi dengan cara tenggelam dalam “ALAM DIRI”, menemukan kesimpulan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR LUAR DARI TUBUH MANUSIA. Pendapat saya yang bertentangan 180 Derajat ini, tentu menjadi sebuah resiko yang sangat berat karena harus bertubrukan dengan Pendapat Para Akhli di tataran akademik.
Saya katakan dengan sadar ‘Demi Alloh. Demi Alloh. Demi Alloh’ saya bersaksi bahwa diri adalah UNSUR LUAR dari tubuh manusia yang masuk menyeruak, kemudian bersemayam di alam bawah sadar. ‘DIRI ADALAH ENERGI GAIB YANG TIDAK BISA TERPISAHKAN DENGAN SANG MAHA TUNGGAL’. ‘DIRI MENYERUAK KE TIAP TUBUH MANUSIA UNTUK DIKENALI SIAPA DIA SEBENARNYA’. ‘KETAHUILAH JIKA DIRI TELAH DIKENALI MAKA DIRI ITU DISERAHTERIKAN KEPADA KITA DAN HILANGLAH APA YANG DINAMAKAN ALAM BAWAH SADAR PADA SETIAP DIRI MANUSIA’.
Perbedaan pandangan antara saya dengan seluruh para akhli di permukaan Bumi tentu akan dipandang SANGAT EKSTRIM. Ini sangat beresiko, karena akan menghancurkan teori ilmu pengetahuan mengenai KEBERADAAN DIRI.
Aneh sekali bahwa yang lebih memahami mengenai diri adalah Dazal, namun sengaja diselewengkan oleh Dazal agar manusia sesat, kemudian Dazal menebarkan kesesatan tersebut pada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan ‘DI UFUK BARAT’ maupun ‘DI UFUK TIMUR’.
Sebenarnya sampai saat ini DAZAL SANGAT MEMAHAMI bahwa DIRI adalah unsur luar yang masuk menyeruak pada seluruh tubuh manusia. DIRI merupakan ENERGI KEMANUNGGALAN DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Oleh karena pemahaman tersebut DAZAL MENJADI SANGAT MUDAH MENGAKSES ILMU PENGETAHUAN. Salah satu ilmu yang Dia pahami secara fasih adalah Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Ilmu ini dibongkar dan dipraktekan hingga dia menjadi SAKTI. Dengan kesaktiannya itu Dia menjadi manusia “Abadi” dan mampu melakukan apapun yang dia kehendaki dari dulu hingga kini. Dia merancang tafsir-tafsir ilmu dan menyusupkannya pada dunia pendidikan agar manusia tersesat. Dia tidak menginginkan manusia mamahami rahasia ini. Dazal dengan sangat hebatnya menyusun berbagai cerita kebohongan yang disusupkan pada Dunia Ilmu Pengetahuan, bahwa cerita Dazal yang paling hebat agar dapat bersembunyi dengan tenang, yaitu MENGHEMBUSKAN ISU bahwa Dazal akan muncul di akhir jaman, PADAHAL DIA TELAH EKSIS MENCENGKRAM DAN MERUSAK MANUSIA BERATUS-RATUS TAHUN LAMANYA HINGGA KINI.
Ketahuilah bahwa Dazal bukan akan datang tapi Dazal akan berakhir, karena manusia saat ini ke depan akan banyak yang memahami bahwa DIRI merupakan unsur luar dari tubuh manusia YANG DATANG MERUPAKAN SIBGHOTALLOH DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Sang Maha Tunggal keberadaannya lebih dekat dari pada urat leher siapapun, karena Sang Maha Tunggal MELIPUT SELURUH JAGAT RAYA dan kita semua berada TENGGELAM “Berenang-renang” DALAM LIPUTANNYA.
Inilah Filsafat Sunda yang sangat menakjubkan.
Perlu saya sampaikan agar kita memahami bahwa Sunda tidak bertubrukan dengan Islam, saya temukan beberapa Firman Allohurabbul’alamin dalam Al Qur’an yang bisa dijadikan pijakan untuk bertafakur, mudah-mudahan semua menjadi faham bahwa DIRI adalah “UNSUR KETUHANAN” yang masuk ke dalam tubuh manusia untuk dikenali dan diserah~terimakan dari Sang Maha Tunggal sebagai JATI DIRI, sbb:
1)Bila hamba-hambaku bertanya tentang aku katakan aku lebih dekat (Al Baqarah 2:186)
2)Lebih dekat aku daripada urat leher (Al Qaf 50:16)
3)Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami disegenap penjuru dan pada nafasmu sendiri (Fushshilat 41:53)
4)Dzat Allah meliputi segala sesuatu (Fushshilat 41:54)
5)Dia (Allah) Bersamamu dimanapun kamu berada (Al Hadid 57:4)
6)Kami telah mengutus seorang utusan dalam nafasmu (AT-TAUBAH 9:128)
7)Di dalam nafasmu apakah engkau tidak memperhatikan (Adzdzaariyaat 51:21)
8)Tuhan menempatkan DIRI antara manusia dengan qolbunya (Al Anfaal 8:24)
9)Aku menciptakan manusia dengan cara yang sempurna (At Tin 95:4)
Jawaban mengenai APA DIRI ITU. DARIMANA & MAU KEMANA (Sangkan Paraning Dumadi), akan saya jelaskan secara rinci dan tuntas pada sebuah buku.
Di masa kini ke depan Sunda akan melahirkan Para Filsuf Handal yang siap menghancurkan kesalahan cara berpikir & manipulasi ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Para Filsuf Dunia.
MARI KITA MEMBUAT KARYA FILSAFAT AGAR KITA MENJADI SEORANG FILSUF, YANG BERTANGGUNG JAWAB MENGHADIRKAN KEMBALI KEBENARAN ILMU SANG MAHA PENCIPTA, sebagai mana yang dilakukan oleh Filsuf Sunda Mandalajati Niskala, yang sebagian hipotesisnya sbb:
1) Menurut para akhli di seluruh Dunia bahwa GRAVITASI BUMI EFEK DARI ROTASI BUMI.
Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala SALAH BESAR, bahwa Gravitasi Bumi TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN ROTASI BUMI. Sekalipun bumi berhenti berputar Gravitasi Bumi tetap ada.
2) Bahkan kesalahan lainnya yaitu semua akhli sepakat bahwa panas di bagian Inti Matahari mencapai 15 Juta Derajat Celcius.
Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala panas Inti Matahari SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN”.
Beliau menambahkan:“KALAU TIDAK PERCAYA SILAKAN BUKTIKAN SENDIRI”.
3) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala sangat logis menjelaskan kepada banyak pihak bahwa MATAHARI ADALAH GUMPALAN BOLA AIR RAKSASA YANG BERADA PADA RUANG HAMPA BERTEKANAN MINUS, SEHINGGA DI BAGIAN SELURUH SISI BOLA AIR RAKSASA TERSEBUT IKATAN H2O PUTUS MENJADI GAS HIDROGEN DAN GAS OKSIGEN, YANG SERTA MERTA AKAN TERBAKAR DISAAT TERJADI PEMUTUSAN IKATAN TERSEBUT. Suhu kulit Matahari menjadi sangat panas karena Oksigen dan Hidrogen terbakar, tapi suhu Inti Matahari TETAP SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN.
4) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala menegaskan: “CATAT YA SEMUA BINTANG TERBUAT DARI AIR DAN SUHU PANAS INTI BINTANG SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN. TITIK”.
5) Menurut para akhli diseluruh Dunia bahwa Gravitasi ditimbulkan oleh adanya massa pada suatu Zat.
Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala: “GAYA GRAVITASI BUKAN DITIMBULKAN OLEH ADANYA MASSA PADA SEBUAH ZAT ATAU BENDA”.
Mandalajati Niskala menambahkan: “Silahkan pada mikir & jangan terlalu doyan mengkonmsumsi buku2 Barat.
6) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala membuat pertanyaan di bawah ini yang cukup menantang bagi orang-orang yang mau berpikir:
a) BAGAIMANA TERJADINYA GAYA GRAVITASI DI PLANET BUMI?
b) BAGAIMANA MENGHILANGKAN GAYA GRAVITASI DI PLANET BUMI?
c) BAGAIMANA MEMBUAT GAYA GRAVITASI DI PLANET LAIN YG TIDAK MEMILIKI GAYA GRAVITASI?
7) Menurut para akhli diseluruh Dunia bahwa Matahari memiliki Gaya Gravitasi yang sangat besar.
Menurut Filsuf Sunda Mandalajati Niskala Matahari tidak memiliki Gaya Gravitasi tapi memiliki GAYA ANTI GRAVITASI.
8) Pernyataan yang paling menarik dari Filsuf Sunda Mandalajati Niskala yaitu:
“SEMUA ORANG TERMASUK PARA AKHLI DI SELURUH DUNIA TIDAK ADA YANG TAHU JUMLAH BINTANG & JUMLAH GALAKSI DI JAGAT RAYA, MAKA AKU BERI TAHU, SBB:
a) Jumlah Bintang di Alam Semesta adalah 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000
b) Jumlah Galaksi di Alam Semesta adalah 80.000.000.000.000
c) Jumlah Bintang di setiap Galaksi adalah sekitar 13.000.000.000.000
9) Dll produk Filsafat seluruh cabang ilmu dari Filsuf Sunda Mandalajati Niskala YANG SIAP MENCENGANGKAN DUNIA seperti Wahyu Cakra Ningrat, Trisula Weda, Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Diri, Sastra Jendra, Filsafat Ilmu Pengetahuan & Jagat Raya, dll.
Selamat berfilsafat
@Sandi Kaladia

Nusantara = Sunda = Bumi Parahyangan

0 komentar

Review Buku “Peradaban Atlantis Nusantara” di Good Reads

Peradaban Atlantis Nusantara

Peradaban Atlantis Nusantara


Kenyataan bahwa sebuah peradaban besar pernah mengambil tempat di bumi Nusantara kini bukan hanya cerita belaka. Berbagai penemuan spektakuler dan mencengangkan terbaru, diungkap dalam buku ini. Penulisnya adalah orang Indonesia, dan pembahasannya pun dikaitkan dengan beberapa teks yang termuat pada Kitab Suci. Sehingga siapa pun yang membacanya dapat mengambil  manfaat besar dari berbagai sudut pandang. Sangat Lengkap, dan sesuatu yang direkomendasikan untuk dibaca. Ditemukan:
• Piramida di Jawa Barat yang lebih besar dari piramida Mesir
• Situs Gunung Padang di Cianjur
• Situs Batujaya di Kerawang-Bekasi
• Situs Pasemah di Pagar Alam, Sumatra
• Relief-relief di Candi Penataran, Blitar.
• Berbagai situs purba yang belum tereksplor, dll
Paperback, 560 pages
Published by Ufuk Press
ISBN : 6029159305 (ISBN13: 9786029159301)
edition language:  Indonesian
original title : Peradaban Atlantis Nusantara, Paperback, 560 pages, Oct 18, 2011
Review Buku: Peradaban Atlantis Nusantara

Penemuan spektakuler dua sarjana terkemuka dunia: Prof.Dr. Aryisio Nunes des Santos dan Prof.Dr.Stephen Oppenheimer terhadap bukti-bukti faktual sejarah besar Nusantara kuno tentu saja sudah kontroversial dan mengguncangkan kemapanan dominasi paradigma ilmu pengetahuan Barat moderen saat ini. Melalui ketekunan dan kegigihan penelitian mereka berdua –walau masing-masing menggunakan pendekatan interdisipliner dan fokus penelitian yang berbeda– ditemukan fakta bahwa tanah Nusantara adalah tanah kelahiran Induk Peradaban besar dunia.
Santos dengan bukunya “Atlantis, The Lost Continent Has Finaly Found, The Definitive Localization of Platos’s Lost Civilization” yang dalam edisi terjemahan Indonesianya bertajuk: “Indonesia Ternyata Tempat Lahir Peadaban Dunia”. Sedangkan Oppenheimer dengan bukunya: “Eden in The East, Benua Tenggelam di Asia Tenggara” dengan fokus utama pada hasil penelitian penelusuran jejak genetika umat manusia, akhirnya menyimpulkan bahwa Indonesia atau tepatnya Nusantara adalah lokasi Tanah Surga-nya Nabi Adam dan Siti Hawa, Bapak dan Ibu Agung Umat manusia se-dunia, serta habitat tempat persemaian peradaban, budaya dan ilmu pengetahuan awal umat manusia cerdas yang menjadi lahan garapan para Nabi Allah SWT.
Namun demikian kedua hasil penelitian para profesor tersebut terasa belum lengkap dan komprehensif karena belum menyertakan sumber-sumber dan data mutakhir dari khazanah pemikiran filsafat dan agama, khususnya sejarah filsafat Islam dan pendekatan mistisisme atau ilmu Tasawuf (Irfan/islamic Mysticism) sebagai sebuah disiplin ilmu dan kajian interdisipliner bidang kearifan lokal dan sejarah Nusantara dari anak-anak warga pribumi Nusantara itu sendiri. Nah, pada dimensi yang terakhir inilah buku karya Ahmad Y. Samantho  ini mengambil peran dan posisi strategisnya dalam wacana dan upaya penelitian lanjutan terhadap “Misteri Sejarah Agung Peradaban Kuno Nusantara”.
Lebih dari itu, dari kajian yang dilakukan Samantho  dalam buku ini, ditemukan warisan Peradabaan Agung dan Luhur Nusantara yang sangat berharga dan bernilai tinggi, yaitu kearifan filsafat dan kebijaksanaan abadi dan universal (Perennial Wisdom) berupa “Kesadaran dan Ajaran Ketuhanan-Kemanusiaan” yang abadi, lintas peradaban-budaya bangsa-bangsa, lintas zaman dan tradisi-tradisi agama-agama.Inilah signiikansi pentingnya buku PERADABAN ATLANTIS NUSANTARA, yang menyingkap Hikmah di balik dilema ANTARA MITOS DAN REALITAS yang berada di alamnya.
Sekali lagi buku ini dengan jelas telah mengupas secara kritis kelemahan dan kegalatan atau kerancuan serta kegagalan dominasi paradigma sains (ilmu pengetahuan) Barat Modern yang masih kental dengan Modernisme-nya yang sekular-materalistis dan “bermata sebelah” dalam memandang dan mengungkap Realitas Mutlak Ketuhanan dan manifestasi-Nya dalam Sejarah Induk Peradaban Umat Manusia.Buku ini juga mengungkap kecenderungan kontroversial berbagai sarjana dan pemikir dunia Barat yang kini telah berpaling dan berupaya menengok kembali kepada Nilai-nilai dan Tradisi Luhur Ilmu Pengetahuan dan Kearifan Timur sebagai suatu “Jalan Alternatif” dalam menyongsong “Fajar Kebangkitan Spiritual Dunia Baru” di Milenium ketiga di Timur.
Hal ini diyakini sebagai solusi terbaik untuk menanggulangi krisis multidimensional global umat manusia saat ini, melalui jalan kembali ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan-Perwakilan, serta Keadilan Sosial, berdasarkan kesadaran penuh dan kearifan “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hanna Dharma Mangrwa” (“Keaneka-ragaman dalam Kesatuan ‘sumber dan Tempat Kembali’, dan Tiada Kebenaran yang Mendua”).
Tentu saja apa yang dibahas dalam buku ini masih harus ditindaklanjuti dengan berbagai penelitian interdisipliner dari berbagai cabang ilmu pengetahuan dan metodologi, karena masih banyak misteri yang belum terungkap dengan jelas. Salah satunya, misalnya dengan diketemukannya beberapa bentang alam bukit atau gunung berbentuk piramida di Nusantara, seperti bukit Lalakon, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, dan bukit Sadahurip, kabupaten Garut, Jawa Barat, baru-baru ini. Juga berbagai penemuan situs-situs bersejarah lainnya di berbagai penjuru Nusantara yang berusia ribuan tahun seperti fosil hutan mangrove di kedalaman laut Jawa dan perairan pantai selatan Kalimantan Selatan.
1920473_10201720312188958_834802114_n
Sudah tentu, sejarah nasional Indonesia harus ditulis dan disusun ulang kembali. Tulis ulang tersebut bukan sekedar untuk penelitian dan pengembangan ilmu sejarah itu sendiri, tapi demi kepentingan banyak aspek dan dimensi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan alam maupun humaniora (ilmu-ilmu kemanusiaan), dan lain-lain aspek peradaban bangsa.Lebih dari itu, pengungkapan sejarah peradaban Nusantara kuno, yang menurut beberapa peneliti terkait dengan fakta sejarah Atlantis-Lemuria atau negeri Eden in The East (Surga di Timurl) jelas sangatlah penting dalam membangun kembali “National Character Buiding”. Yaitu, membangun kembali jati diri dan watak bangsa, kebanggaan dan harga diri sebagai sebuah bangsa besar dengan peradaban unggul dan mulia, yang menjadi contoh dan prototype bagi semua peradaban besar lainnya di dunia.
12592-1467187_10152195217262354_660008389_n
Kesadaran dan kebanggaan baru ini bukanlah untuk menjadikan kita sombong dan takabur, melainkan untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara giat dan tekun bekerja dan berbuat kebaikan bagi seluruh alam semesta dan dunia. Bersyukur dengan giat dan tekun belajar dari sejarah, agar dapat meneruskan semua kebaikan dan kemajuan leluhur Nusantara, dan tidak lagi mengulangi berbagai kesalahan dan keburukan mereka. Untuk kembali bersatu dengan alam, bersatu dengan penuh cinta kasih dan tanggung jawab memelihara dan menjaga kelestariannya, memanfaatkannya dengan penuh kearifan dan hikmah serta membagikannya bagi kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat dan bangsa dengan penuh keadilan dan kemanusiaan. Terhindar dari keserakahan dan kerakusan egois pribadi, keluarga dan kelompok sendiri yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dan NKRI karena itu akan merusak sendi-sendi nilai keadilan, kemanusiaan dan ketuhanan.

Tentang buku ini, budayawan Indonesia terkemuka, Dr. Radhar Panca Dahana berkomentar: “Bahwa negeri kepulauan ini memiliki kejayaan sejak dulu, sebenarnya semakin terang dalam tahun-tahun belakangan ini. Bukan hanya melulu karena imajinasi dan ilusi sebagian dari kita, tapi juga karena fakta ilmiah yang berurutan membuktikannya. Sehingga kini tiadalah alasan bagi siapa pun untuk tidak mempercayai kemampuan, keberdayaan dan potensi luar biasa yang terpendam dalam diri kita, sebagai manusia, juga sebagai bangsa. Terlalu banyak alasan untuk meyakini: bahwa kita memiliki semua modal untuk menjadi besar. Buku Ahmad Samantho (dan Oman Abdurahman) ini menelisik dengan rajin dari mulai isyu, fakta, hingga opini tentang semua persoalan itu. Ia menyiapkan banyak alasan bagi siapa pun manusia Indonesia untuk meyakini dan mengembalikan kejayaan itu. Kecuali bagi mereka yang tidak mempercayai diri sendiri, lebih mempercayai pihak lain, mendustai, memanipulasi dan mengkhianati realitas historisnya ini. Semoga buku ini menjadi obat bagi mereka.”

Prof.Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, mantan ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, yang pernah menyarankan agar tema tentang Atlantis di nusantara ini agar dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional, berkomentar: “Saya bersyukur bahwa melalui buku ini saudara Ahmad Samantho turut memperkenalkan teori Profesor Santos mengenai benua “Atlantis Indonesia” kepada khalayak pembaca yang semakin luas. Kadang-kadang, sejarah memang bukan hanya soal salah dan benar. Untuk mendorong impian warga bangsa menuju masa depan, kita memerlukan kesadaran sejarah tentang kebesaran-kebesaran masa lalu, makin jauh kita menghargai masa lalu, makin terbuka peluang dan tantangan bagi kita untuk berusaha mewujudkan mimpi tentang masa depan. Hanya dengan kesediaan dan kemampuan menghargai masa lalu itulah, kita berhak untuk bermimpi untuk membangun peradaban bangsa kita di masa depan.”

Sementara, Dr. Ir. Cahyana Ahmad Jayadi, MH, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, menyatakan: “Mengenal dan memahami peradaban masa lalu bagi setiap bangsa, merupakan salah satu kunci keberhasilan membangun karakter bangsanya. Hanya bangsa yang memiliki karakter-lah yang bisa survive menghadapi tantangan zaman di era globalisasi hari ini dan esok. Oleh karena itu, penerbitan buku karya Kang Ahmad Samantho  ini, merupakan salah satu iktiar menyediakan referensi tentang sebuah peradaban yang pernah hadir di wilayah Nusantara ini, di mana dengan memahami keunggulan dan kelemahan peradaban Atlantis, kita dapat jadikan modal dasar untuk mengembangkan peradaban maju berbasis keunggulan budaya dan karakter bangsa Indonesia, Insya-Allah, Amin.”

Prof.Dr. Abdul Hadi WM, budayawan, Sastrawan dan Penyair Sufi Nusantara yang juga dosen PMIAI Universitas Paramadina-ICAS Jakarta, mengungkapkan: “Buku ini mempunyai pandangan apokaliptik, sebagaimana beberapa buku lainnya. Dari pandangan apokaliptik itu kemudian dikembangkan menjadi pandangan sejarah. Di antara buku seperti ini, misalnya oleh Ibnu Khaldun, Hegel, Oswald Spengler dan Toynbee. Mengikuti jejak Ibn Khaldun dan Spengler, Toynbee melihat sejarah dalam perputaran musim. Suatu peradaban berkembang subur dan marak pada mula pertamanya, ibarat tetumbuhan di musim semi. Lalu datanglah musim panas, peradaban mulai kerontang. Kemudian disusul musim gugur, krisis dan kerontokan mulai mengancam peradaban, antara lain ini disebabkan oleh dekadensi moral dan dehumanisasi, sehingga akhirnya tiba masa kematiannya di musim dingin. Perputaran musim berikutnya terus bergulir, menanti fajar musim semi.”


Tebal : 540 halaman
Cetakan I: 1, Juli 2011, Cetakan Kedua:  Oktober 2013
Penerbit : Ufuk Press
Harga : Rp 89.000,00
Membicarakan mengenai Atlantis seolah memang tidak akan pernah ada habisnya. 1463041_549068048512282_2049824817_nAtlantis sendiri secara tiak langsung melambangkan masyarakat utopis yang luar biasa ideal, dan inilah sebabnya peradaban ini menjadi salah satu yang paling menarik untuk terus diteliti dan diperbincangkan.
Tempat ini disebutkan pertama kali oleh filsuf Plato dari Yunani Kuno sekitar abad 4 SM, dan sampai sekarang tidak kurang dari 500 buku dan film telah ditulis dan diangkat berdasarkan benua legendaris yang konon ditenggelamkan di dasar samudra.
Selain keberadaannya yang seolah “ada tapi tiada”, kontroversi ini juga berkaitan dengan letak sesungguhnya dari benua yang ditenggelamkan ini. Plato sendiri dalam karyanya Timeaus and Critias (ditulis pada 360 SM) menjelaskan bahwa pulau Atlantis terhampar di seberang pilar-pilar Hercules (yang selama ini dianggap sebagai semenanjung Gibraltar karena menghadap langsung ke samudra Atlantik).
Pulau makmur ini tenggelam ke laut hanya dalam waktu satu malam akibat hukuman para dewa yang murka kepada penduduk Atlantis. Entah Atlantis versi Plato ini hanya melambangkan suatu konsep Philosopher King dalam Republic-nya, ataukah dulu Atlantis ini memang benar-benar ada, yang jelas pencarian terhadap lokasi Atlantis tidak pernah berhenti.Beragam dugaan tentang letak tepat dari benua Atlantis pun bermunculan. Berbagai klaim dan perkiraan diajukan, di antaranya di Samudra Atlantik, di laut Mediterania, di pulau Siprus, hingga di laut Karibia di benua Amerika. Masalahnya, pada masa Plato (dan juga pada masa Herodotud dan Aristoteles), Atlantik digunakan untuk merujuk pada seluruh samudra atau lautan di seluruh dunia.
Bahkan, Plato merujuk kata “Atlantik” ini kepada Samudra Hindia sekarang. Seolah semua kontroversi itu belum cukup, pada tahun 2005 seorang profesor geologi dari Brazil yang bernama Prof. Dr. Aryo Santos meluncurkan bukunya Atlantis, the Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Ufuk) yang tidak kalah menghebohkan dunia. Santos, melanjurkan hipotesis Oppenheimer, mengajukan klaim bahwa Atlantis itu terletak di Nusantara, tepatnya di paparan Sunda atau laut dangkal antara pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan India.Alkisah, sekitar 10.000 tahun SM, ketika Bumi mengalami zaman es yang terakhir, diperkirakan memang ada sebuah peradaban besar yang maju.
Karena saat itu kawasan Amerika Utara, Asia, Timur Tengah, Eropa dan sebelah Selatan Afrika masih tertutup oleh tudung es yang luas, maka satu-satunya daratan yang memungkinkan munculnya peradaban adalah di wilayah tropis yang suhu udaranya hangat di samping datarannya yang luas. Dugaan ini lah yang digunakan Santos untuk mengajukan klaim bahwa Atlantis dulunya berada di kawasan Sundaland, sebuah dataran luas yang menyatukan India, Sumatra, Jawa dan Kalimantan.
164703_1710666839517_1023504567_31882230_4525865_nKondisi geografis Indonesia yang bergunung-gunung serta keadaan alamnya yang subur juga semakin menguatkan klaim Santos. Ledakan Megavolcano Toba, Krakatao, Tambora dan gunung-gunung lain di Nusantara Purba inilah yang kemudian menyebabkan tenggelamnya Atlantis.Buku Peradaban Atlantis Nusantara karya Ahmad Y. Samantho  et.All ini ibarat bunga rampai yang sangat komprehensif untuk menguak misteri keberadaan benua Atlantis, terutama kaitannya dengan klaim bahwa Atlantis dulunya memang berada di Nusantara Purba.
Bagi Anda yang merasa buku Oppenheimer dan Santos—yang harganya di atas ratusan ribu—terlalu mahal, maka buku ini bisa menjadi semacam penghalang dahaga keingintahuan yang sangat memuaskan. Di dalamnya, kita bisa membaca rangkuman atau mungkin malah pemaparan secara lebih komprehensif mengenai karya Oppenheimer Eden in the East dan karya Santos Atlantis, Lost Continent finally Found. Lebih keren lagi, di buku ini juga ditampilkan sejumlah tulisan yang lebih lokal, yakni terkait dengan dugaan-dugaan dan/atau temuan-temuan sejumlah pakar Indonesia dari beragam ranah keilmuwan yang intinya hendak mendukung klaim bahwa Atlantis itu berada di Nusantara atau Sundaland. Misalnya saja, adanya kemiripan bentuk candi Sukuh yang menyerupai piramida bangsa Aztec, juga sebuah bukit di Jawa Barat yang diperkirakan adalah sebuah piramida yang tertimbun tanah karena bentuknya yang sangat simetris.
Bagian paling menarik dari buku ini bisa ditemukan pada bab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 10, dan 13. Dengan tidak memungkiri pentingnya bab-bab yang lain; membaca bab-bab favorit di atas bisa diibaratkan seperti memutar film tentang Atlantis, mulai dari kemunculannya dalam karya Plato, hingga klaim bahwa Atlantis itu memang berada di Sundaland. Dalam bab-bab ini, pembaca akan menemukan jawaban dari mengapa peradaban yang besar itu bisa musnah tanpa meninggalakn jejak, sedahsyat apa bencana yang terjadi kala itu, apa keterkaitan antara tenggelamnya Atlantis dengan penyebaran atau diaspora penduduk dunia, benarkan nenek moyang bangsa-bangsa India dan Mesopotamia itu berasal dari Nusantara, bagaimana kisah terbentuknya selat Sunda terkait dengan tenggelamnya Atlantis, apakah pilar-pilar Herkules yang dimaksud Plato itu adalah gunung-gunung di Sumatra dan Jawa, dan masih banyak lagi tema-tema menarik seputar Atlantis yang luar biasa menarik untuk dibaca.
Karena formatnya yang berupa bunga rampai, mungkin sejumlah pembaca agak kecewa karena buku setebal 540 halaman ini tidak melulu membahas Atlantis. Beberapa bab di bagian belakang, bahkan membahas ranah filsafat ala Yunani yang mungkin sengaja dimasukkan dalam buku ini karena keterkaitan erat antara Atlantis, Plato, dan Yunani. Selain itu, masih dijumpai typo serta kekurangsempurnaan editan di halaman 70–90. Namun, secara garis besar, buku ini sangat memuaskan dahaga intelektual para pembaca yang mengidam-idamkan tema-tema Atlantis yang dibahas secara komprehensif dan ilmiah. Dan, para penyusun yang turut menyumbangkan tulisannya dalam buku ini pun sudah terbukti keandalannya dalam ranah masing-masing. Inilah yang membuat buku ini begitu bermutu dan berbobot. Sungguh sebuah karya yang mengajak kita untuk meneguhkan diri kita kembali sebagai bangsa yang besar. Dengan membaca buku ini, sejarah Nusantara mungkin harus sedikit direvisi kembali.

Peradaban Atlantis Nusantara /Peradaban Bangsa Sunda

0 komentar

Bangsa Sunda =Bangsa Atalntis/Lemuria

0 komentar
 Atlantis Sunda Land

 NEFOSNEWS, Jakarta – Bencana tenggelamkan peradaban. Situs Gunung Padang diteliti. Tim Katastropik Purba sebut ada peradaban sangat tinggi pada 11.600 SM, di Cianjur, Jabar. Gunung Padang bawa terang?
Atlantis menurut Plato adalah peradaban tinggi yang kaya raya namun hilang terkena bencana. Dan belakangan, menarik merujuk buku “Atlantis: The Lost Continent Finally Foud” (2010) karya Arysio Santos, ahli geologi dan fisikawan nuklir asal Brazil. Dia menyatakan bahwa di wilayah Indonesia pernah menjadi pusat peradaban dunia.

“Pertama adalah Atlantis Lemuria yang sebenarnya (Ibu yang perawan) yang terletak di Indonesia dan dihancurkan oleh bencana Toba pada 75 ribu yang lalu. Kedua adalah Atlantis yang sebenarnya (Putra) dihancurkan oleh letusan Krakatau pada 11.600 tahun lalu diakhir zaman,” tulis Santos.
Selain itu, ada pula ilmuwan genetika Stephen Oppen Heimer dalam buku “Eden in The East, Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara”. Dalam bukunya, dokter lulusan Oxford University itu menyebut, Sundaland merupakan tempat peradaban masyarakat nusantara yang tenggelam karena peristiwa banjir besar berkali-kali pada 14.500, 11.500 dan 8.400 tahun lalu.
Terkait bencana, Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, mengumpulkan para ahli kebumian. Dalam perjalanan, Tim ini menemui berbagai catatan penting terkait dengan bencana katastropik purba. Tim Kantastropik ini kemudian diperkuat dan menjelma menjadi  Tim Riset Mandiri.  Situs Gunung Padang adalah satu di antara tempat yang diteliti tim ini.
Ali Akbar, arkeolog, adalah satu di antara anggota Tim Riset Mandiri ini. Catatan napak tilas ini  dirangkum Ali Akbar dalam bukunya “Situs Gunung Padang; Misteri dan Arkeologi”.
Ali Akbar mengungkapkan, tim yang diinisiasi oleh Andi Arief, staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana, telah mengungkap adanya indikasi bencana besar pada masa lalu di Gunung Padang.
“Gunung Padang ini dari sudut pandang ilmu kebumian, terletak di daerah rawan bencana karena berada pada sesar Cimandiri yang dapat menimbulkan gempa bumi,” jelas Ali Akbar di Krida Bakti, Gedung Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, pada peluncuran buku “Situs Gunung Padang; Misteri dan Arkeologi”, Rabu (29/1/2014).
Terkait banyaknya pertanyaan bahwa situs Gunung Padang merupakan peradaban tertua di dunia, Ali Akbar menyebut, penelitian telah mendeteksi bawah permukaan tanah Gunung Padang menggunakan metode dan teknik geofisika, seperti geolistrik dan georadar oleh Tim Katastropik Purba.
“Hasil uji (carbon dating) itu menunjukan angka belasan ribu sebelum Masehi. Itu angka yang tergolong tua untuk kebudayaan Indonesia,” jelas Ali.
Lanjut Ali, Tim Katastropik Purba juga menungkapkan, permukaan tanah Gunung Padang telah terdapat campur tangan manusia.
Senada dengan itu, tes laboratorium Beta Analytic Miami, Florida, Amerika Serikat juga pernah merilis, bahwa usia sempel bawah permukaan Gunung Padang usianya mencapai belasan ribu.
‘’Itu penelitian yang kami hasilkan. Yang jelas, misteri dan mitos akan Atlantis pun akhirnya terangkat ke permukaan,” tambah Ali kepada NEFOSNEWS.COM di sela-sela acara peluncuran buku. Misteri Atlantis lambat laun semoga terungkap. Apakah situs Gunung Padang  adalah jejak peradaban yang dimaksud? Wallahualam. (aprilia hariani)
Caption foto: Peluncuran buku “Situs Gunung Padang; Misteri dan Arkeologi”. (Aprilia Hariani/NEFOSNEWS.COM)

Bangsa Sunda Adalah Bangsa Atlantis/Lemuria Yang Hilang

2 komentar

Asal Usul Orang (Suku) Sunda Adalah Suku Pendatang Aria ?

Pengantar Redaksi:
“Ada beberapa teori tentang dari mana asal orang-orang Nusantara datang? Dari Yunan China Selatan?, Atau Dari Persia, Iran Utara? Atau yang dari utara ini cuma arus balik mudik pulang kampung warga Sundaland ke tanah airnya yang sejati Puluhan ribu tahun yang lalu (antara 200.000 sd 75.000 tahun yang lalu sebelum Ledakan Supervulcano Gunung Toba dan Karakatau) ?? Hi[potesi di bawah ini, mirip dengan argumen hipotetis yang dikemukankan oleh salah seorang peneliti Melayu dari Malaysia, Al-Semantani.”  (Ahmad Y. Samantho)

Fakta sejarah ?

Asal Usul Orang (Suku) Sunda Adalah Suku Pendatang
Banyak pakar yang menyatakan bahwa orang Sunda khususnya dan Indonesia umumnya adalah para pendatang dari daerah Yunan. benarkah itu ? (Ada sebuah fakta yang dapat dianggap dongeng tapi perlu kita cermati dengan seksama).
Di daratan Asia, kira-kira antara Pegunungan Hindukusj dan Pegunungan Himalaya ada sebuah dataran tinggi (plateau) yang bernama Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib. Namun, mereka mendapat wangsit dalam Uganya, bahwa suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis. Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus).

Dalam perjalanan sejarahnya, mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi. Dan tak lepas dari itu bangsa Persi, pada jaman Islam pun diserang dan ditaklukkan. Begitu pula oleh Jengis Khan dari Mongol, dan pada akhirnya diserang pula oleh bangsa Tartar yang dikepalai oleh Timur-Leng. Rentang perjalanan sejarah bangsa Persi ini, menyadarkan mereka untuk kembali kepada nama asalnya, yaitu Iran (dari Iran-Venj).
Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampailah di tanah Sunda, tepatnya di Pelabuhanratu (sekarang). آ Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya. Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat “sesembahan” orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang menjadi â€کsesembahan’ pendatang ditempatkan di bawahnya.
Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem “sesembahan” yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu, yaitu : Batara Guru di Jampang, Batara Iswara (Siwa), Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kala, Batara Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara), Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy). Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup budaya, melainkan dalam perkawinan.
Nun jauh di sana, di Fasifik sana, Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda. Nama-nama atau istilah-istilah yang dipergunakan, seperti Dr. Winata (kurang lebih tahun 60-an menjadi kepala Musium di Auckland). Nama ini tidak dibaca Winetou atau winoto tapi Winata . Beliaulah yang memberikan Asumsi dan teori bahwa orang Mauri berasal dari Pelabuhanratu. Hal yang lebih aneh lagi adalah di Selandia Baru tidak terdapat binatang buas, apalagi dengan harimau â€کmaung’, tapi â€کsima’ maung dipergunakan sebagai lambang agar musuh-musuh mereka merasa takut.
Memang tidak banyak yang menerangkan bahwa orangIndonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, kecuali tersirat dalam Encyclopedia Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan â€کtata – subita’ yang lebih tinggi, kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi “Kohao Rongo-rongoâ€‌ fungsinya sebagai â€کmnemo-teknik’ (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak ada bait yang terlewat.
Benarkah Parahiangan sebagai Pusat Dunia yang Hilang (Atlantis) ?
Untuk memudahkan menjawab pertanyaan di atas, mari kita buktikan dengan benda-benda hasil karya mereka. Salah satunya adalah Trappenpyramide, yaitu limas bertangga).
Di Jawa Barat (Tatar Sunda), Limas bertangga ini dahulu berfungsi sebagai tempat peribadatan begitu pula bagi orang Pangawinan (Baduy) dan bagi orang Karawang yang masih memegang teguh dalam adat tatali karuhun tidak boleh membangun rumah suhunan lilimasan. Bagi orang Jawa Tengah, menurut Dr. H.J De Graaf â€کhunnebedden’ dengan adanya candi-candi Hindu yang sudah sangat kental percampurannya, sehingga tidak lagi terlihat jati diri Jawa Tengahnya. Sedangkan candi-candi di Jawa Timur bentuk-bentuknya masih kentara keasliannya, karena tempelan budaya luar hanya sebagai aksesoris saja. Yang lebih jelas lagi di Bali, karena keasliannya sangat kentara.
Kembali ke daerah Polynesia, bangunan-bangunan purba â€کtrappenpyramide’ tersebar di pulau Paska hingga ke Amerika Selatan yaitu di Peru. Apa ada hubungannya dengan Sunda ?
Salah satu ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl, membuktikan dan memunculkan teorinya bahwa hal tersebut di atas merupakan hasil kebudayaan dari manusia putih berkulit merah (sawo matang). Walaupun teori ini banyak dibantah para ahli lainnya, namun dapat kita tarik satu asumsi bahwa manusia putih berkulit merah ini adalah manusia Atlantis yang hilang oleh daya magi.
Pembuktian ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl sekarang lebih terungkap itu ada benarnya. Sehingga bila melihat sejarah bahwa keturunan dari Tatar Sunda menyebrang hingga ke Polynesia itu adalah orang-orang Atlantis — yang memang karuhun kita selalu menyembunyikan dalam bentuk simbol — ekspansi kebudayaan dari Tatar Sunda ke daerah Polynesia, yaitu dengan adanya rombongan dari Palabuhanratu, dapat dibuktikan kebenaran-nya.
Seperti uraian benarkah orang Sunda pendatang atau benarkah Parahiangan pusat Atlantis ? Di sini, silahkan sidang pembaca untuk menilai lebih jeli kebenaran yang ada, karena benar adalah benar ia harus absolut tidak relatif.

Ono Niha (Orang Nias)

0 komentar

Suku Nias

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tari Perang diperagakan di halaman tengah pedesaan tradisional. Foto koleksi Tropenmuseum, Amsterdam
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.

Asal Usul

Mitologi

Tari Perang
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

Penelitian Arkeologi

Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 [1], [2]. Penelitian ini menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.
Penelitian genetika terbaru menemukan, masyarakat Nias, Sumatera Utara, berasal dari rumpun bangsa Austronesia. Nenek moyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu [3], [4].
Mannis van Oven, mahasiswa doktoral dari Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, memaparkan hasil temuannya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013). Dalam penelitian yang telah berlangsung sekitar 10 tahun ini [5], [6] Oven dan anggota timnya meneliti 440 contoh darah warga di 11 desa di Pulau Nias.
”Dari semua populasi yang kami teliti, kromosom-Y dan mitokondria-DNA orang Nias sangat mirip dengan masyarakat Taiwan dan Filipina,” katanya.
Kromosom-Y adalah pembawa sifat laki-laki. Manusia laki-laki mempunyai kromosom XY, sedangkan perempuan XX. Mitokondria-DNA (mtDNA) diwariskan dari kromosom ibu.
Penelitian ini juga menemukan, dalam genetika orang Nias saat ini tidak ada lagi jejak dari masyarakat Nias kuno yang sisa peninggalannya ditemukan di Goa Togi Ndrawa, Nias Tengah. Penelitian arkeologi terhadap alat-alat batu yang ditemukan menunjukkan, manusia yang menempati goa tersebut berasal dari masa 12.000 tahun lalu.
”Keragaman genetika masyarakat Nias sangat rendah dibandingkan dengan populasi masyarakat lain, khususnya dari kromosom-Y. Hal ini mengindikasikan pernah terjadinya bottleneck (kemacetan) populasi dalam sejarah masa lalu Nias,” katanya.
Studi ini juga menemukan, masyarakat Nias tidak memiliki kaitan genetik dengan masyarakat di Kepulauan Andaman-Nikobar di Samudra Hindia yang secara geografis bertetangga.
Jejak terputus
Menanggapi temuan itu, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Sony Wibisono mengatakan, teori tentang asal usul masyarakat Nusantara dari Taiwan sebenarnya sudah lama disampaikan, misalnya oleh Peter Bellwood (2000). Teori Bellwood didasarkan pada kesamaan bentuk gerabah.
”Masalahnya, apakah migrasi itu bersifat searah dari Taiwan ke Nusantara, termasuk ke Nias, atau sebaliknya juga terjadi?” katanya. Sony mempertanyakan bagaimana migrasi Austronesia dari Taiwan ke Nias itu terjadi.
Herawati Sudoyo, Deputi Direktur Lembaga Eijkman yang juga menjadi pembicara, mengatakan, migrasi Austronesia ke Nusantara masih menjadi teka-teki. ”Logikanya, dari Filipina mereka ke Kalimantan dan Sulawesi. Tetapi, sampai saat ini data genetika dari Kalimantan dan Sulawesi masih minim. Masih ada missing link,” katanya.
Di Kalimantan, menurut Hera, yang diteliti genetikanya baru etnis Banjar. Hasilnya menunjukkan, mereka masyarakat Melayu. Di Sulawesi yang diteliti baru Sulawesi Selatan. ”Masih banyak studi yang harus dilakukan,” katanya.

Marga Nias

Lihat pula: Daftar marga Nias
Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada.seperti BATEE(kamar) dan NDRAHA(akar) OZUI FANOLO BATE'E DAN ERNA TRISNAWATI NDRAHA sebagai leluhur nias

Khas Nias

Makanan Khas

  • Bae - Bae
  • Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)

Harinake (daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)

  • Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
  • Köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
  • Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
  • Ratigae (pisang goreng)
  • Tamböyö (ketupat)
  • löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)
  • Gae nibogö (pisang bakar)
  • Kazimone (terbuat dari sagu)
  • Wawayasö (nasi pulut)
  • Gulo-Gulo Farö (manisan dari hasil sulingan santan kelapa)
  • Bato (daging kepiting yang dipadatkan dalam bentuk bulat agar dapat bertahan lama; terdapat di Kepulauan Hinako)
  • Nami (telur kepiting dapat berupa nami segar atau yang telah diasinkan agar awet, dapat bertahan hingga berbulan-bulan tergantung kadar garam yang ditambahkan)

Peralatan Rumah Tangga di Nias

  • Bowoa tanö - periuk dari tanah liat, alat masak tradisional
  • Figa lae - daun pisang yang dipakai untuk menjadi alas makanan
  • Halu (alat menumbuk padi) - dfsf
  • Lösu - lesung

Gala - dari kayu seperti talam

  • Sole mbanio - tempat minum dari tempurung
  • Katidi - anyaman dari bambu
  • Niru (Alat untuk menapik beras untuk memisahkan dedak)
  • Haru - sendok nasi
  • Famofu - alat niup api untuk memasak
  • Fogao Banio (alat pemarut kelapa)

Amaedola Nias

  • Hulö harita, olifu ia gulinia (Bagaikan kacang lupa akan kulitnya) Artinya : Perumpamaan kepada seseorang yang melupakan asal-usulnya atau yang melupakan seseorang yang telah berbuat baik kepadanya.
  • Böi bunu gulö fasalatö (Jangan membunuh ular setengah-setengah jikalau masih hidup ular itu akan mematokmu kembali) Artinya: Hendaknya dalam melakukan sesuatu hal harusnya sampai tuntas agar tidak menjadi bumerang nantinya.
  • Hulö ni femanga mao, ihene zinga (Bagaikan kucing yang sedang makan di mulai dari pinggiran) Artinya: Dalam melakukan sesuatu hal, di mulai dengan hal yang mudah ke yang sulit.
  • Hulö la'ewa nidanö ba ifuli fahalö-halö (Bagaikan air di potong-potong tetap bersatu kembali) Artinya: Sesuatu yang tidak bisa untuk di pisahkan.
  • Abakha zokho safuria moroi ba zi oföna (Lebih dalam luka terakhir dari pada luka yang pertama) Artinya: Sesuatu tindakan akan sangat terasa pada akhirnya.

Minuman

  • Tuo nifarö (tuak) adalah minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe" dan pohon kelapa (dalam bahasa Nias "Pohon Kelapa" = "töla nohi") yang telah diolah dengan cara penyulingan. Umumnya Tuo nifarö mempunyai beberapa tingkatan (bisa sampai 3 (tiga) tingkatan kadar alkohol). Dimana Tuo nifarö No. 1 bisa mencapai kadar alkohol 43%.
  • Tuo mbanua / Sataha (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa atau pohon nira yang telah diberi 'laru' berupa akar-akar tumbuhan tertentu untuk memberikan kadar alkohol)

Akses Ke Nias

Udara

Jarak tempuh menuju Kepulauan Nias berkisar 45 menit dari Bandar Udara Internasional Kualanamu (Medan) - Bandar Udara Binaka (Nias) dengan harga tiket antara Rp 400.000 s/d Rp 700.000.

Darat

  • Dari Kota Medan menuju Kota Sibolga berkisar 10 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000
  • Dari Kota Medan menuju Kota Pelabuhan Aceh Singkil berkisar 8 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000

Laut

  • Sesampainya di Pelabuhan Sibolga, perjalanan laut menuju Pelabuhan Gunungsitoli dapat memakan waktu 10 jam dengan menggunakan Kapal Penyeberangan dengan harga tiket sekitar Rp 80.000 s/d Rp 130.00. Kapal ini beroperasi setiap hari dengan jadwal keberangkatan Malam dan sampai di Gunungsitoli pagi hari.
  • Dari Pelabuhan Aceh Singkil dapat menyeberang dengan menggunakan kapal penumpang yang beroperasi 2 kali seminggu yaitu hari Selasa dan Kamis.

Budaya Nias

Fahombo (Lompat Batu)
Dalam budaya Ono Niha (Nias) terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.

Galeri

Pranala luar

Referensi

apakah orang di jateng&jatim adalah sub-suku Bangsa Sunda?......

0 komentar

Dayeuhluhur, akulturasi Sunda Pajajaran dan Jawa Mataram

II. KILASAN SEJARAH DAN SILSILAH RAJA-RAJA
DI TANAH SUNDA DAN JAWA
Dari berbagai sumber buku-buku sejarah maupun naskah dan file dalam blog internet utamanya ulasan pada wikipedia, kami berupaya merunut sejarah dan silsilah raja-raja di tanah sunda maupun jawa secara runtut dan komprehensif dan kami sajikan melalui alur chart periodik dan melalui skema silsilah agar lebih skematik tidak naratif semata yang menjenuhkan.
Baik chart maupun skema silsilah kami awali dari tahun 150 Masehi dekade kerajaan Salakanegara, Tarumanegara, Sunda, Galuh, Pajajaran, Cirebon dan Banten di tanah Sunda. Tanah Jawa kami awali dari Mataram Hindu yang didirikan oleh Sanjaya Haris Dharma (Rakeyan Jamri) yang berasal dan berkaitan dengan Sunda maupun Galuh, ia tokoh fenomenal sepanjang sejarah, sebagai Taraju Jawa Dwipa Maharaja di 3 (tiga) negara sekaligus di Pulau Jawa; Raja Sunda, Raja Galuh dan Raja Mataram Hindu di Jawa Tengah. Di tanah Jawa kami tampilkan Mataram Hindu, pralaya Mataram I (van Bamelen), Pralaya Mataram II, Kahuripan-Kediri, Singasari-Tumapel, Majapahit, Demak Bintoro, Pajang, Mataram Islam, Perjanjian Giyanti (Surakarta-Yogyakarta), Perjanjian Salatiga (Surakarta-Mangkunegaran), Serbuan Inggris (Yogyakarta-Pakualaman).
Kerajaan di Tanah Jawa dan Sunda saling berkaitan, Sanjaya berdarah sunda-jawa, Raden Wijaya pendiri Majapahit ayahnya dari Galuh ibunya keturunan Singosari (Ken Arok). Kerajaan di Pulau Jawa secara historis memiliki hubungan darah melalui perkawinan satu sama lain, biasanya untuk mendapatkan permaisuri lebih dipilih putri raja dari kerajaan lain. Namun demikian perpecahan justru sering terjadi pula akibat banyaknya keturunan raja karena banyaknya pula istri-istri raja. Permaisuri raja bisa hanya satu bisa pula dua, permaisuri utama biasanya bergelar Ratu Wetan dan permaisuri kedua bergelar Ratu Kilen, sedangkan selir jumlahnya bisa sangat banyak jumlahnya, jaman hindu budha bisa mencapai 40 selir, jaman Islam awal hanya 6 selir namun seringkali disubstitusi (yang dicerai diganti yang baru). Umur panjang para raja kadang menjadi nilai postif dalam menopang kejayaan kerajaan, namun kadang menjadi masalah ketika putra mahkota berulah baik berebut wanita cantik ataupun berebut pengaruh sehingga timbul perselisihan antara putra mahkota dan sang raja dan putra mahkota dengan putra raja yang lain.
Perang besar banyak diawali akibat perselingkuhan dan perebutan antar anak-anak raja. Perang besar jenis ini terjadi saat Purbasora mengkudeta Bratasena di kerajaan Galuh. Bratasena adalah raja Galuh ke 3 menggantikan ayahnya Amara Mandiminyak (putra ke 3 raja Wretikendayun pendiri Galuh) yang menjadi raja karena ia tampan dibandingkan kakaknya yang cacat (kakak pertama sempak waja-ompong, kakak kedua Jantaka cacat hernia). Purbasora anak yuridis sempakwaja yang merasa sebagai pewaris tahta dari seharusnya ayahnya sebagai anak pertama Wretikendayun, ia tampan karena sesungguhnya ia anak biologis dari Mandiminyak yang selingkuh dengan istri dari Sempakwaja kakaknya.
Perang besar kedua terjadi di Sunda saat perseteruan Siyung Wanara (Ciungwanara) dengan Arya Bangah, hal mana diawali oleh perilaku selingkuh ayahnya Arya Bangah, Prabu Tamperan Barmawijaya Raja Sunda atas Dewi Pangreyep istri Raja galuh Permana Dikusumah yang lebih rajin bertapa. Cinta buta Tamperan dan kesepiannya Dewi Pangreyep yang terlalu sering ditinggal bertapa membuahkan anak biologis Arya Bangah dan memicu Tamperan menjadi haus kekuasan dengan mengutus pembunuh menghabisi Permana Dikusumah di pertapaan, untuk menghilangkan jejak sang pembunuh pun dihabisi Tamperan, akhirnya ia menguasai Sunda dan galuh serta 2 istri Permana Dikusumah. Siyung Wanara anak Permanadikusumah dari istri pertama Dewi Naganingrum saat dewasa membongkar kasus ini dan memerangi ayah tirinya dan kakaknya arya Bangah, setelah Pangreyep dan Tamperan terbunuh, Arya bangah minta Bantuan Sanjaya Raja Mataram yang juga ayah dari Tamperan, sehingga Perang besar tak terelakan. Perang ini berakhir setelah seluruh sesepuh Sunda-Galuh berekonsiliasi, Arya Bangah dan Ciungwanara keduanya dinikahkan dengan kakak adik putri buyut Resi Demuwan (Kencanasari dan Kencanawangi) dan Arya Bangah jadi Raja Sunda, Ciungwanara (Prabu Surotama) jadi Raja Galuh.
Tragedi perang selanjutnya yang dampaknya masih terasa sampai sekarang sehingga menimbulkan kurang harmonisnya hubungan Jawa dengan Sunda adalah tragedi Perang Bubat, diawali jatuh hatinya Raja Besar Majapahit Prabu Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka putri Raja Pajajaran Prabu Linggabumi, gayung bersambut guna menyambung tali darah dimana pendiri Majapahit Raden Wiajaya (Jaka Sesuruh) juga putra dari putra mahkota Raja Sunda Jaya Dharma yang meninggal masih muda, Prabu Linggabuana, sang Ratu dan sedikit prajurit pengawal menghantarkan Dyah Pitaloka ke Majapahit, saat sampai desa Bubat Mahapatih Gadjahmada yang berambisi menyatukan seluruh Nusantara di bawah Majapahit menjadikan kondisi ini sebagai kesempatan emas untuk menundukan Pajajaran yang selama ini sangat sulit untuk ditaklukan, sehingga meminta rombongan raja Pajajaran ini menjadi bukan menyerahkan calon pengantin tetapi menundukan diri dan kerajaan di bawah Majapahit dan memberikan putri persembahan kepada Maharaja Majapahit, kelicikan ini ditolak secara ksatria oleh Prabu Linggabumi, akhirnya perang tak seimbang terjadi, seluruh rombongan tewas dibantai pasukan Gadjahmada, Hayam Wuruk merasa menyesal, Gadjahmada malu dan mengasingkan diri, Dampak tragedi ini memunculkan kebencian yang sangat mendalam etnis Sunda sampai saat ini, jika kita ke kota di Jawa Tengah maupun Jawa Timur masih ada jalan dengan nama jalan Siliwangi misalnya, namun di Jawa Barat tidak ada jalan Majapahit, Hayam Wuruk apalagi jalan Gadjahmada kecuali di Jakarta. Sudah lama ada larangan perempuan Sunda menikah dengan lelaki Jawa akibat tragedi bubat Dyah Pitaloka, sebaliknya ada larangan wanita Jawa menikah dengan lelaki Sunda karena akan cepat jadi janda sebagaiman ibunya Raden Wijaya, Dyah Lembu Tal yang ditinggal mati muda suaminya putra mahkota Sunda Jayadharma dan terlunta-lunta harus kembali ke tanah Jawa berstatus janda anak 1.
Dari silsilah raja raja tanah sunda dan Jawa ini baru kita dapat memperoleh informasi siapa Arya Gagak Ngampar pendiri Dayeuhluhur, siapa Wirapraja, Apa hubungan Dayeuhluhur dengan tragedy perang Ciancang Ciamis, Siapa Ngabehi Wiradika I III, kapan ia ada, kenapa wilayah eks Dayeuhluhur-Majenang-Sidareja didiami etnis Jawa dan Sunda, kapan Dayeuhluhur dibawah kekuasaan Galuh-Kawali, Kapan sisi Barat Dayeuhluhur utamanya Madura menjadi bagian dari Kab.Imbanegara-Ciamis, Kenapa batas Kab.Cilacap sisi barat itu sungai Cijolang, kenapa Dayeuhluhur tidak menjadi bagian dari Ciamis dan Jawa Barat??? Pada akhir penelusuran kami didapatkan bahwa Dayeuhluhur adalah bagian dari Pasirluhur dipimpin oleh keturunan Pamanah Rasa (Siliwangi saat blm menjadi raja, dari ibu Dewi Ambet Kasih) yang bernama Arya Banyak Ngampar (adik Arya Banyak Cotro/Kamandaka) alias Arya Gagak Ngampar alias Panembahan Haur, sampai dengan turunan ke-3, saat transisis keturunan ke-2 (Candi Kuning) beralih ke keturunan ke-3 (Candilaras)dibawah kekuasaan Demak Bintoro, saat akhir kekuasaan keturunan ke-3 dimana Demak Bintoro melemah dan digantikan Pajang, Dayeuhluhur diekspansi Galuh Pakuan Kawali dalam jangka waktu lama, sampai dengan Panembahan Senopati Raja Mataram menaklukan Galuh Pakuan Kawali, Dayeuhluhur dihidupkan lagi sebagai kabupaten bagian dari Blangkulon Mataram, ditunjuk keturunan ke-5 /Kai Arsagati (keturunan ke-4 menjadi ulama besar/ Kihadeg Cisagu dan Kihadeg Ciluhur) masa Mataram ini sampai dengan 7 (ke 6 : Kyai Ngabehi Raksagati, ke 7 : Kyai Ngabehi Raksapraja), Saat amangkurat II berkuasa di Kartasura, dari selir lahir Ngabehi Wirapraja menggantikan Raksapraja, Wirapraja membumihanguskan Ciancang Ciamis, namun akhirnya terbunuh oleh Belanda, ymt kembali dikendalikan Raksapraja s/d anak Wirapraja dewasa, turun temurun yaitu Wiradika I s/d Wiradika III (Tumenggung Prawiranegara) th 1831 Dayeuhluhur dibubarkan Belanda karena keterlibatan Wiradika III membela P.Diponegoro saat perang Jawa II.

Jumat, 20 Februari 2015

Tari Jayengrana ( Penari Oki Wulandari )

0 komentar

Kamis, 19 Februari 2015

Mahkota/Makuta Binokasih SangHyang Pake

0 komentar

Binokasih Sanghyang Pake

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Binokasih Sanghyang Paké adalah mahkota yang berasal dari Kerajaan Sunda dan kini tersimpan sebagai koleksi Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Replika mahkota ini terdapat di Museum Sri Baduga, Bandung.[1][2]

Sejarah


Mahkota Kerajaan Pajajaran Binokasih Sanghyang Pake
Menurut sumber turun-temurun, mahkota ini dibuat atas prakarsa Sanghyang Bunisora Suradipati, raja Galuh (1357-1371). Mahkota ini digunakan oleh raja-raja Sunda selanjutnya dalam upacara pelantikan raja baru dan menjadi benda pusaka kerajaan hingga kerajaan Sunda runtuh.[2]
Pada waktu ibukota kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran diserbu oleh pasukan Banten (1579), mahkota ini berhasil diselamatkan oleh para pembesar kerajaan Sunda yang berhasil meloloskan diri, yaitu: Sayang Hawu, Térong Péot, dan Kondang Hapa. Mahkota ini dibawa ke Sumedanglarang dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun dengan harapan dapat menggantikan dan melanjutkan keberadaan dan kejayaan kerajaan Sunda. sejak itu mahkota ini menjadi benda pusaka para raja Sumedanglarang dan kemudian para bupati Sumedang. Sejak pemerintahan Bupati Pangeran Suria Kusumah Adinata atau Pangeran Sugih (1937-1946) mahkota tersebut dipakai untuk hiasan kepala pengantin keluarga bupati Sumedang.[2]
MAHKOTA Binokasih dan Siger Emas menjadi daya tarik pengunjung yang datang ke Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Mahkota yang mempunyai nama lengkap Makuta Binokasih Sanghyang Pake ini merupakan salah satu simbol dan peninggalan Kerajaan Pajajaran (Sunda). Hingga kini, mahkota tersebut masuk dalam Pusaka Leluhur Sumedang dan menjadi peninggalan Prabu Geusan Ulun 1578 - 1601.
Mahkota ini disimpan di gedung pusaka kompleks Museum Prabu Geusan Ulun. Tersimpan dalam lemari kaca segi delapan dengan pengamanan super ekstra. Ini dilakukan, karena mahkota tersebut merupakan mahkota asli raja Pajajaran akhir sebelum runtag atau runtuh.
Terbuat dari emas dengan hiasan batu permata menjadikan mahkota ini sangat spesial. Tidak heran jika pengunjung yang datang ke Museum Prabu Geusan Ulun lebih tertarik melihat koleksi master piece ini. Para pengunjung pun mau berlama-lama di gedung ini. Selain mahkota Binokasi, terdapat pula siger, ikat pinggang, serta aksesoris raha lainnya yang merupakan peninggalan asli Raja Pajajaran terakhir. Untuk menambah daya tarik, di gedung ini terdapat pula berbagai jenis senjata pusaka kerajaan, seperti tombak, kujang, dan keris.

Rujukan

  1. ^ Iskandar, Yoseph.1997.Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa).Bandung:Geger Sunten.
  2. ^ a b c Rosidi, Ajip.2000.Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya, Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi.Bandung:Pustaka Jaya.

Referensi


Selasa, 10 Februari 2015

Kidung Sundayana (Perjalanan Orang Sunda)

0 komentar
Kidung Sunda
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan naskahnya ditemukan di Bali. Dalam kidung ini dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin mencari seorang permaisuri, kemudian beliau menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tidak disebutkan namanya. Namun patih Gajah Mada tidak suka karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada orang Majapahit. Kemudian terjadi pertempuran yang tidak seimbang antara rombongan pengantin Sunda dengan prajurit Majapahit di pelabuhan tempat berlabuhnya rombongan Sunda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang ini rombongan Kerajaan Sunda dibantai dan putri Sunda yang merasa pilu akhirnya bunuh diri.

Daftar isi

Versi kidung Sunda

Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr. f, menemukan beberapa versi KS. Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya:
  1. Kidung Sunda
  2. Kidung Sundâyana (Perjalanan (orang) Sunda)
Kidung Sunda yang pertama disebut di atas, lebih panjang daripada Kidung Sundâyana dan mutu kesusastraannya lebih tinggi dan versi iniliah yang dibahas dalam artikel ini.

Ringkasan

Di bawah ini disajikan ringkasan dari Kidung Sunda. Ringkasan dibagi per pupuh.

Pupuh I

Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.
Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.
Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.
Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak dari Sunda disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.
Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini.
Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)
Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong Raja Sunda yang seharusnya menjadi raja bawahan. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.
Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.
Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn, untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.
Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia menjadi negara bawahan Majapahit. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.
Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.

Pupuh II (Durma)

Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan pertempuran tidak dapat dihindarkan.
Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.
Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi karena kalah jumlahnya, akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian sesuai ajaran Hindu mereka melakukan belapati (bunuh diri). Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.

Pupuh III (Sinom)

Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.
Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.
Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).
Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.

Analisis

Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat, meski kemungkinan besar tentunya bisa berdasarkan kejadian faktual.
Secara garis besar bisa dikatakan bahwa cerita yang dikisahkan di sini, gaya bahasanya lugas dan lancar. Tidak berbelit-belit seperti karya sastra sejenis. Kisahnya memadukan unsur-unsur romantis dan dramatis yang memikat. Dengan penggunaan gaya bahasa yang hidup, para protagonis cerita ini bisa hidup. Misalkan adegan orang-orang Sunda yang memaki-maki patih Gajah Mada bisa dilukiskan secara hidup, meski kasar. Lalu Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda bisa dilukiskan secara indah yang membuat para pembaca terharu.
Kemudian cerita yang dikisahkan dalam Kidung Sunda juga bisa dikatakan logis dan masuk akal. Semuanya bisa saja terjadi, kecuali mungkin moksanya patih Gajah Mada. Hal ini juga bertentangan dengan sumber-sumber lainnya, seperti kakawin Nagarakretagama, lihat pula bawah ini.
Perlu dikemukakan bahwa sang penulis cerita ini lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan, seringkali bertentangan dengan sumber-sumber lainnya. Seperti tentang wafat prabu Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, penulisannya berbeda dengan kakawin Nagarakretagama.
Kemudian ada sebuah hal yang menarik, nampaknya dalam kidung Sunda, nama raja, ratu dan putri Sunda tidak disebut. Putri Sunda dalam sumber lain sering disebut bernamakan Dyah Pitaloka.
Satu hal yang menarik lagi ialah bahwa dalam teks dibedakan pengertian antara Nusantara dan tanah Sunda. Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara, kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang, orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?), Wandan (Banda, Maluku Tengah), Tanjungpura (Kabupaten Ketapang) dan Sawakung (Pulau Sebuku?) (contoh bait 1. 54 b.) . Hal ini juga sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit di mana mereka harus membayar upeti. Tapi di Nagarakretagama, Madura juga tak disebut.

Penulisan

Semua naskah kidung Sunda yang dibicarakan di artikel ini, berasal dari Bali. Tetapi tidak jelas apakah teks ini ditulis di Jawa atau di Bali.
Kemudian nama penulis tidaklah diketahui pula. Masa penulisan juga tidak diketahui dengan pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, tetapi ini tidak bisa digunakan untuk menetapkan usia teks. Sebab orang Indonesia sudah mengenal senjata api minimal sejak datangnya bangsa Portugis di Nusantara, yaitu pada tahun 1511. Kemungkinan besar orang Indonesia sudah mengenalnya lebih awal, dari bangsa Tionghoa. Sebab sewaktu orang Portugis mendarat di Maluku, mereka disambut dengan tembakan kehormatan.

Beberapa cuplikan teks

Di bawah ini disajikan beberapa cuplikan teks dalam bahasa Jawa dengan alihbahasa dalam bahasa Indonesia. Teks diambil dari edisi C.C. Berg (1927) dan ejaan disesuaikan.

Gajah Mada yang dimaki-maki oleh utusan Sunda (bait 1. 66b – 1. 68 a.)

Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.
Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.
Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.
Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.
Alihbahasa:
  • “Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami? Kita ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti? Sama seperti dari Nusantara. Kita lain, kita orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.
  • Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan. Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang. Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur.
  • Kedua mantrimu yang bernama Lěs dan Beleteng diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri. Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup.
  • Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti tahi anjing. Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!”

Raja Sunda yang menolak syarat-syarat Majapahit (bait 2.69 – 2.71)

[...], yan kitâwĕdîng pati, lah age marĕka, i jĕng sri naranata, aturana jiwa bakti, wangining sĕmbah, sira sang nataputri.
Wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing ati, ah kita potusan, warahĕn tuhanira, nora ngong marĕka malih, angatĕrana, iki sang rajaputri.
Mong kari sasisih bahune wong Sunda, rĕmpak kang kanan keri, norengsun ahulap, rinĕbateng paprangan, srĕngĕn si rakryan apatih, kaya siniwak, karnasula angapi.
Alihbahasa:
  • [...], jika engkau takut mati, datanglah segera menghadap Sri Baginda (Hayam Wuruk) dan haturkan bukti kesetianmu, keharuman sembahmu dengan menghaturkan beliau sang Tuan Putri.
  • Maka ini terdengar oleh Sri Raja <Sunda> dan beliau menjadi murka: “Wahai kalian para duta! Laporkan kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi menghantarkan Tuan Putri!”
  • “Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, atau hancur sebelah kanan dan kiri, tiada akan ‘silau’ beta!”. Sang Tuan Patih juga marah, seakan-akan robek telinganya mendengarkan (kata-kata pedas orang Majapahit).

Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda yang telah tewas (bait 3.29 – 3. 33)

Sireñanira tinañan, unggwani sang rajaputri, tinuduhakěn aneng made sira wontěn aguling, mara sri narapati, katěmu sira akukub, perěmas natar ijo, ingungkabakěn tumuli, kagyat sang nata dadi atěmah laywan.
Wěněsning muka angraras, netra duměling sadidik, kang lati angrawit katon, kengisning waja amanis, anrang rumning srigading, kadi anapa pukulun, ngke pangeran marěka, tinghal kamanda punyaningsun pukulun, mangke prapta angajawa.
Sang tan sah aneng swacita, ning rama rena inisti, marmaning parěng prapta kongang mangkw atěmah kayêki, yan si prapta kang wingi, bangiwen pangeraningsun, pilih kari agěsang, kawula mangke pinanggih, lah palalun, pangdaning Widy angawasa.
Palar-palarěn ing jěmah, pangeran sida kapanggih, asisihan eng paturon, tan kalangan ing duskrěti, sida kâptining rawit, mwang rena kalih katuju, lwir mangkana panapanira sang uwus alalis, sang sinambrama lěnglěng amrati cita.
Sangsaya lara kagagat, pětěng rasanikang ati, kapati sira sang katong, kang tangis mangkin gumirih, lwir guruh ing katrini, matag paněděng ing santun, awor swaraning kumbang, tangising wong lanang istri, arěrěb-rěrěb pawraning gělung lukar.
Alihbahasa:
  • Maka ditanyalah dayang-dayang di manakah gerangan tempat Tuan Putri. Diberilah tahu berada di tengah ia, tidur. Maka datanglah Sri Baginda, dan melihatnya tertutup kain berwarna hijau keemasan di atas tanah. Setelah dibuka, terkejutlah sang Prabu karena sudah menjadi mayat.
  • Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka, bibirnya indah dilihat, gigi-giginya yang tak tertutup terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading. Seakan-akan ia menyapa: “Sri Paduka, datanglah ke mari. Lihatlah kekasihnda (?), berbakti, Sri Baginda, datang ke tanah Jawa.
  • Yang senantiasa berada di pikiran ayah dan ibu, yang sangat mendambakannya, itulah alasannya mereka ikut datang. Sekarang jadinya malah seperti ini. Jika datang kemarin dulu, wahai Rajaku, mungkin <hamba> masih hidup dan sekarang dinikahkan. Aduh sungguh kejamlah kuasa Tuhan!
  • Mari kita harap wahai Raja, supaya berhasil menikah, berdampingan di atas ranjang tanpa dihalang-halangi niat buruk. Berhasillah kemauan bapak dan ibu, keduanya.” Seakan-akan begitulah ia yang telah tewas menyapanya. Sedangkan yang disapa menjadi bingung dan merana.
  • Semakin lama semakin sakit rasa penderitaannya. Hatinya terasa gelap, beliau sang Raja semakin merana. Tangisnya semakin keras, bagaikan guruh di bulan Ketiga*, yang membuka kelopak bunga untuk mekar, bercampur dengan suara kumbang. Begitulah tangis para pria dan wanita, rambut-rambut yang lepas terurai bagaikan kabut.
*Bulan Ketiga kurang lebih jatuh pada bulan September, yang masih merupakan musim kemarau. Jadi suara guruh pada bulan ini merupakan suatu hal yang tidak lazim.

Referensi

Lihat pula

Menu navigasi