Rabu, 12 Agustus 2015

Bahasa Bangsa Lemuria ( Sunda Kuno )

0 komentar
Mengenal Bahasa Bangsa Lemuria (Sunda Kuno)
AMÉNNA
adalah panggilan untuk adik dari ayah atau ibu, seperti untuk paman, pada masa sekarang menjadi MANG dikatakan di bahasa Sunda. Mungkin karena sulit melafalkan pada zaman tidak jauh dari sekarang ke belakang, jadinya dikatakan AMÉNANG, karena masih susah juga jadinya EMANG, tapi masih susah juga jadi MANG, seperti MANG ASEP, padahal panggilan aslinya adalah AMÉNNA ASEP. AMÉNNA juga yang sekarang menjadi panggilan MÉNAK untuk katanya seorang bangsawan, padahal akar katanya dari AMÉNNA yang berarti Paman. Jadi selama ini kita menyebut MÉNAK bagi bangsawan itu kalau orang LÉMURIAN pasti senyum-senyum, karena sebetulnya dulu orang yang menjadi raden-raden itu adalah adiknya raja, makanya disebut AMÉNNA juga, lama kelamaan jadi MÉNAK. Sebetulnya panggilan MÉNAK itu adalah sindiran untuk adik-adik raja yang suka ngajarago dan sombong-sombong, merasa hebat tapi bodoh-bodoh, dan kalau disebut MANG pasti ngamuk-ngamuk, makanya dipanggil MÉNAK biar senang sedikit, padahal itu adalah ledekan, yang berasal dari panggilan AMÉNNA yaitu para paman. MÉNAK itu jadinya adalah para paman yang kurang ajar, ngajarago, sombong-sombong, tapi tidak becus apa-apa.


ANJANA AMBIKA, ANJANA BALGIKA
ANJANA AMBIKA, ANJANA BALGIKA adalah Pepatah Bangsa LÉMURIAN yang artinya anda marah, anda bodoh. Kemarahan memicu Tritophan hydroxylase `yang akan menurunkan Intelegensi ke tingkat sangat rendah, dan membuat kita tidak akan bisa berpikir dengan baik dan benar.


APHAREKYA
APHAREKYA adalah benua yang dihuni oleh Clone NEGRIDA, yang sekarang dikenal dengan Afrika.


ARDH GRUMMA
ARDH GRUMMA adalah Planet Bumi. ARDH berarti bumi atau tanah. Dalam istilah Bangsa LEMURIAN, ARDH adalah sebutan bagi semua Planet tipe M, karena mengandung tanah. GRUMMA berarti berkembang. Dikatakan demikian karena Planet Bumi banyak dibantu oleh proses GRANUMA yang dilakukan oleh Bangsa LEMURIAN sehingga menjadi berkembang dan subur.


ARKHYTIRÉMA
Dikenal dalam cerita rakyat atau legenda sebagai Aki Tirem, Angling Dharma, atau Wali Jangkung dan sebagainya. ARKHYTIRÉMA memiliki kemampuan super yang sebenarnya adalah kemampuan manusia standar ADHAMA, bahkan kemampuan ARKHYTIRÉMA masih di bawah kemampuan ADHAMA yang sesungguhnya. Nama ARKHYTIRÉMA diberikan oleh RHAMIDAAR, pemimpin LEMURIAN. Arti ARKHYTIRÉMA adalah: ARK (bahtera) Khy (energi), TI (dari), REM (berhentinya ke-12 planet pada satu garis) dan A (anak, yang biasa dipakai bangsa KHAINA untuk memanggil anak). ARKHYTIRÉMA adalah anak dari AMNARUTTA dan BRINIRHA. Ia dilahirkan bertepatan dengan proses RHEM, atau tata surya berada dalam satu garis lurus, yang terjadi 3 jam lebih cepat dari prediksi bangsa LÉMURIAN. Hal itu terjadi karena Bangsa TARX mengambil hidrogen matahari untuk proses kloning matahari di Planet KRAIRON. ARKHYTIRÉMA juga menjadi penjaga piramida bawah laut yang terletak di laut selatan pulau jawa. Piramida ini berfungsi sebagai penjaga kaki benua.


ATLANTIS
Atlantis adalah bangsa agresor atau penjajah bangsa lain dan selalu menyerang bangsa Lemurian. penduduknya disebut ATLANTEAN. bangsa ini bekerja sama dengan bangsa RHAMA untuk menjajah bangsa bangsa lain.

Bangsa ini mencatat dirinya sendiri di dalam sejarah sebagai bangsa yang besar, makmur, bermartabat, berintelegensi, tinggi, baik hati, cantik/tampan, berjiwa heroik, dan semua hal yang baik baik.

bangsa ini juga menghilangkan penemuan-penemuan bangsa lain, dengan tujuan agar masyarakat dunia tidak memiliki kemampuan berpikir yang baik.


CUCARA
CUCARA adalah kecoa, binatang yang sebelumnya berasal dari TRILOBITH yang kemudian punah dan direkayasa gentetik oleh bangsa LEMURIAN. Istilah CUCARA, kemudian berubah menjadi CECORO oleh ANTARADA, berkembang menjadi LACUCARACA, lantas diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi COCROACH.


GALLUR
GALLUR adalah jalan yang mendasar atau hakiki dan semua tidak akan bisa melawan GALLUR, GALLUR ini diserap ke bahasa Indonesia menjadi Jalur.


GENTE
GENTE adalah Genta atau lonceng. Benda dan teknologinya sudah ada sejak masa ADHAMA. Fungsi GENTE ini adalah gelombang suaranya bisa menyelaraskan alam, termasuk manusia. GENTE yang bagus terbuat dari logam yang sangat bagus, salah satunya yang terbuat dari campuran perak, tembaga, dll. Biasanya, ketika membuatnya, si pembuat terlebih dahulu berpuasa. Bila digetarkan atau dibunyikan dengan ritme yang pas, misalnya untuk di gunung PADRANG adalah satu-satu secara syahdu, akan memancing anomali magnetik DORPHAL memancarkan gelombangnya. Efeknya dapat berlipat kali. Setiap tempat mempunyai spesifikasi intrinsik. Besaran/ritme dentangnya akan berbeda-beda.


GRAMANDOA
GRAMANDOA adalah nama ikan paus ketika masih di darat dan terus berevolusi karena meletusnya Gunung ZHUNNDA.


IDI
Artinya mohon, namun terjadi pergeseran menjadi WIDI atau “mohon ijin”. Mirip dengan Bahasa BROPA yaitu IDIUS berarti “mohon” tapi dipergunakan bagi mereka yang berpangkat sangat tinggi, seperti pada Raja atau Ratu.


INDARRINA
INDARRINA adalah suku pertama yang berdomisili di benua amerika. Kulit mereka agak kemerahan dengan bahasa MANTURGA yaitu bahasa khas mereka. INDARRINA adalah yang sekarang dinamakan bangsa INDIAN, suatu bangsa yang dianiaya oleh keturunan Atlantis.


JANÉVALLA
JANÉVALLA artinya, “selamat datang”. Ini digunakan sebagai nama pulau yang sekarang bernama Pulau JAVA atau Pulau JAWA. Maka oleh sebab itu, pulau inilah yang menjadi pusat kegiatan dari keseluruhan aktivitas di Nusantara. Orang datang dan pergi melalui Pulau ini, jadi wajar apabila Pulau ini disebut Pulau “selamat datang” atau JANÉVALLA, yang mungkin karena sulit di penyebutan menjadi Pulau JAVA. Di sana juga menjadi pusat pemerintahan.


KAWAZA
KAWAZA adalah bahasa LÉMURIA untuk Sang Maha Kuasa


KHABAR IANN
KHABAR berarti berita. IANN berarti aku atau kita untuk anak-anak. KHABAR IANN adalah berita/cerita yang disajikan untuk anak-anak, tapi saat ini berubah menjadi KABAYAN yang menceritakan tentang seseorang yang penuh kecerdasan dari LÉMURIAN.


KOGA
Dalam waktu 3,5 tahun bagaimana caranya JEPANG bisa membuat goa di berbagai tempat di Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Jawa dan pulau lainnya? Membangun goa adalah sebuah tehnik yang tidak sederhana. Salah satu infrastruktur yang dikenal rumit. Apakah Jepang merebutnya dari Belanda? Atau sebagian sudah di bangun Belanda dan sebagian diteruskan Jepang? Atau sebelum Belanda sudah ada yang membuatnya? Atau murni hadiah dari alam? apakah ada hubungannya dengan perlindungan dari bencana dan sebagai alat pertahanan? Kearifan lokalkah sebenarnya dasar goa-goa itu dibangun? Link tentang goa-goa ini bisa dilihat di: http://www.indonesiabox.com/s/sejarah-goa-jepang/

Sebetulnya sebagian goa yang dipergunakan Jepang sudah ada, kalau yang baru banyak dan tidak dalam. Jepang menggunakan goa sebagai tempat untuk mengamankan diri dan harta rampasan mereka. Kelokan-kelokan goa Jepang dibuat rumit untuk membingungkan lawan, bahkan ada lorong khusus yang sengaja ditutup untuk kemudian kalau kepepet bisa di bongkar dengan mudah untuk meloloskan diri. Biasanya letak goa Jepang di wilayah perbukitan, karena dari atas segalanya bisa terlihat dengan jelas. Sesuai dengan prinsip perang apabila kita menguasai wilayah yang lebih tinggi akan mendapatkan pertahanan yang lebih baik, kemudian apabila terdesak sekalipun mereka memiliki jalan rahasia dan lorong lorong rahasia pula agar bisa muncul di belakang lawan.

Prinsip perang ini dipakai Jepang dari suku KOGA. Sedangkan suku KOGA belajar dari RHINGGAMANA. Suku KOGA tinggal di gunung IGA yang merupakan cikal bakal dari para ninja. Sebetulnya ajaran itu berasal dari Nusantara karena RHINGGAMANA adalah Bangsa LÉMURIA yang bertugas mengajarkan pertahanan diri. Pengetahuan tentang suku di IGA sendiri banyak distorsi di Jepang, jadi wajar kalau hal ini banyak yang tidak tahu.


LAMUNTHRA
LAMUNTHRA adalah jikalau.


LANBIA
LANBIA adalah panggilan untuk adik perempuan ayah atau ibu. Karena pengucapannya susah, sekarang disingkat menjadi BI saja, contohnya BI EUIS.


LAYIWA
LAYIWA adalah panggilan untuk kakak dari ayah atau ibu. Karena pengucapannya susah, berubah menjadi WA saja, malah sekarang ditambah menjadi UWA, bedanya untuk LAYIWA ini tidak dibedakan jenis kelamin, tidak seperti adik dari ayah atau ibu.


LÉMURIA AYNNA
LÉMURIA AYNNA adalah nusantara atau Indonesia.


LÉMURIAN
Bangsa yang rendah hati, pemaaf, pekerja keras dan penyuka damai. Mereka tidak meninggalkan artefak atau penanda peradabannya. Bila artefak itu ada, disembunyikan oleh bangsa ATLANTIS dan RAMA.


Quote:NARATINA KAWAZA GALLUR NA KAWAZA
NARATINA KAWAZA GALLUR NA KAWAZA artinya yang datang dari Sang Kuasa akan kembali pada Sang Kuasa. NARATINA itu berarti “sesuatu yang berasal dari”, sekarang di bahasa Sunda diambil hanya sepotong yaitu TINA dengan arti yang sama, misalnya: “peuyeum didamel TINA naon?” Atau “peuyeum terbuat dari apa?” KAWAZA sekarang diadopsi menjadi “Kawasa” atau “Kuasa”, GALLUR itu “jalan yang mendasar” atau hakiki dan semua tidak akan bisa melawan GALLUR, yang sekarang diadposi menjadi kata “Jalur”, NA adalah “milik” yang tidak bisa diganggu gugat. Bahasa ini sudah sangat sulit karena sudah diasimilasikan ke bahasa sekarang.

NIRRANTHÉA
NIRRANTHÉA punya beberapa arti, yaitu: (1) Bulan; (2) Bangsa Pembuat Cahaya. Yaitu suatu bangsa yang memiliki keahlian dalam membuat cahaya dan hidup sejajar dengan Bangsa LEMURIA. Mereka hidup berdampingan dengan damai, suka sekali bergaul, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan kadang-kadang suka sekali kalau dipuji, Bangsa NIRRANTHÉA mempunyai penguasaan energy sebesar 30%; (3) Nama Planet tempat tinggal bangsa NIRRANTHÉA. Menjadi legenda turun temurun di suku SUNDA (JAWA BARAT) dengan sebutan Nini Antéh.


ZEUS
ZANUURA ENYMPHEENA UREPHRATHA SYNCROONA atau ZEUS, adalah sebuah alat pengembangan kehidupan organik untuk meng-clone segala bentuk mahluk hidup termasuk manusia dan memodifikasi sesuai dengan kebutuhan lingkungannya, termasuk berapa tingkat sel otak yang diaktifkan, perlakuan mereka terhadap lingkungannya, dan berbagai ragam komunikasi dalam bentuk oral bisa di program disini

Suku Nias

0 komentar

Suku Nias


Tari Perang diperagakan di halaman tengah pedesaan tradisional. Foto koleksi Tropenmuseum, Amsterdam
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.

Daftar isi

Asal Usul

Mitologi

Tari Perang
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

Penelitian Arkeologi

Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 [1], [2]. Penelitian ini menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.
Penelitian genetika terbaru menemukan, masyarakat Nias, Sumatera Utara, berasal dari rumpun bangsa Austronesia. Nenek moyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu [3], [4].
Mannis van Oven, mahasiswa doktoral dari Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, memaparkan hasil temuannya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013). Dalam penelitian yang telah berlangsung sekitar 10 tahun ini [5], [6] Oven dan anggota timnya meneliti 440 contoh darah warga di 11 desa di Pulau Nias.
”Dari semua populasi yang kami teliti, kromosom-Y dan mitokondria-DNA orang Nias sangat mirip dengan masyarakat Taiwan dan Filipina,” katanya.
Kromosom-Y adalah pembawa sifat laki-laki. Manusia laki-laki mempunyai kromosom XY, sedangkan perempuan XX. Mitokondria-DNA (mtDNA) diwariskan dari kromosom ibu.
Penelitian ini juga menemukan, dalam genetika orang Nias saat ini tidak ada lagi jejak dari masyarakat Nias kuno yang sisa peninggalannya ditemukan di Goa Togi Ndrawa, Nias Tengah. Penelitian arkeologi terhadap alat-alat batu yang ditemukan menunjukkan, manusia yang menempati goa tersebut berasal dari masa 12.000 tahun lalu.
”Keragaman genetika masyarakat Nias sangat rendah dibandingkan dengan populasi masyarakat lain, khususnya dari kromosom-Y. Hal ini mengindikasikan pernah terjadinya bottleneck (kemacetan) populasi dalam sejarah masa lalu Nias,” katanya.
Studi ini juga menemukan, masyarakat Nias tidak memiliki kaitan genetik dengan masyarakat di Kepulauan Andaman-Nikobar di Samudra Hindia yang secara geografis bertetangga.
Jejak terputus
Menanggapi temuan itu, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Sony Wibisono mengatakan, teori tentang asal usul masyarakat Nusantara dari Taiwan sebenarnya sudah lama disampaikan, misalnya oleh Peter Bellwood (2000). Teori Bellwood didasarkan pada kesamaan bentuk gerabah.
”Masalahnya, apakah migrasi itu bersifat searah dari Taiwan ke Nusantara, termasuk ke Nias, atau sebaliknya juga terjadi?” katanya. Sony mempertanyakan bagaimana migrasi Austronesia dari Taiwan ke Nias itu terjadi.
Herawati Sudoyo, Deputi Direktur Lembaga Eijkman yang juga menjadi pembicara, mengatakan, migrasi Austronesia ke Nusantara masih menjadi teka-teki. ”Logikanya, dari Filipina mereka ke Kalimantan dan Sulawesi. Tetapi, sampai saat ini data genetika dari Kalimantan dan Sulawesi masih minim. Masih ada missing link,” katanya.
Di Kalimantan, menurut Hera, yang diteliti genetikanya baru etnis Banjar. Hasilnya menunjukkan, mereka masyarakat Melayu. Di Sulawesi yang diteliti baru Sulawesi Selatan. ”Masih banyak studi yang harus dilakukan,” katanya.

Marga Nias

Lihat pula: Daftar marga Nias
Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada.seperti BATEE(kamar) dan NDRAHA(akar) OZUI FANOLO BATE'E DAN ERNA TRISNAWATI NDRAHA sebagai leluhur nias

Khas Nias

Makanan Khas

  • Bae - Bae
  • Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)

Harinake (daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)

  • Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
  • Köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
  • Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
  • Ratigae (pisang goreng)
  • Tamböyö (ketupat)
  • löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)
  • Gae nibogö (pisang bakar)
  • Kazimone (terbuat dari sagu)
  • Wawayasö (nasi pulut)
  • Gulo-Gulo Farö (manisan dari hasil sulingan santan kelapa)
  • Bato (daging kepiting yang dipadatkan dalam bentuk bulat agar dapat bertahan lama; terdapat di Kepulauan Hinako)
  • Nami (telur kepiting dapat berupa nami segar atau yang telah diasinkan agar awet, dapat bertahan hingga berbulan-bulan tergantung kadar garam yang ditambahkan)

Peralatan Rumah Tangga di Nias

  • Bowoa tanö - periuk dari tanah liat, alat masak tradisional
  • Figa lae - daun pisang yang dipakai untuk menjadi alas makanan
  • Halu (alat menumbuk padi) - dfsf
  • Lösu - lesung

Gala - dari kayu seperti talam

  • Sole mbanio - tempat minum dari tempurung
  • Katidi - anyaman dari bambu
  • Niru (Alat untuk menapik beras untuk memisahkan dedak)
  • Haru - sendok nasi
  • Famofu - alat niup api untuk memasak
  • Fogao Banio (alat pemarut kelapa)

Amaedola Nias

  • Hulö harita, olifu ia gulinia (Bagaikan kacang lupa akan kulitnya) Artinya : Perumpamaan kepada seseorang yang melupakan asal-usulnya atau yang melupakan seseorang yang telah berbuat baik kepadanya.
  • Böi bunu gulö fasalatö (Jangan membunuh ular setengah-setengah jikalau masih hidup ular itu akan mematokmu kembali) Artinya: Hendaknya dalam melakukan sesuatu hal harusnya sampai tuntas agar tidak menjadi bumerang nantinya.
  • Hulö ni femanga mao, ihene zinga (Bagaikan kucing yang sedang makan di mulai dari pinggiran) Artinya: Dalam melakukan sesuatu hal, di mulai dengan hal yang mudah ke yang sulit.
  • Hulö la'ewa nidanö ba ifuli fahalö-halö (Bagaikan air di potong-potong tetap bersatu kembali) Artinya: Sesuatu yang tidak bisa untuk di pisahkan.
  • Abakha zokho safuria moroi ba zi oföna (Lebih dalam luka terakhir dari pada luka yang pertama) Artinya: Sesuatu tindakan akan sangat terasa pada akhirnya.

Minuman

  • Tuo nifarö (tuak) adalah minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe" dan pohon kelapa (dalam bahasa Nias "Pohon Kelapa" = "töla nohi") yang telah diolah dengan cara penyulingan. Umumnya Tuo nifarö mempunyai beberapa tingkatan (bisa sampai 3 (tiga) tingkatan kadar alkohol). Dimana Tuo nifarö No. 1 bisa mencapai kadar alkohol 43%.
  • Tuo mbanua / Sataha (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa atau pohon nira yang telah diberi 'laru' berupa akar-akar tumbuhan tertentu untuk memberikan kadar alkohol)

Akses Ke Nias

Udara

Jarak tempuh menuju Kepulauan Nias berkisar 45 menit dari Bandar Udara Internasional Kualanamu (Medan) - Bandar Udara Binaka (Nias) dengan harga tiket antara Rp 400.000 s/d Rp 700.000.

Darat

  • Dari Kota Medan menuju Kota Sibolga berkisar 10 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000
  • Dari Kota Medan menuju Kota Pelabuhan Aceh Singkil berkisar 8 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000

Laut

  • Sesampainya di Pelabuhan Sibolga, perjalanan laut menuju Pelabuhan Gunungsitoli dapat memakan waktu 10 jam dengan menggunakan Kapal Penyeberangan dengan harga tiket sekitar Rp 80.000 s/d Rp 130.00. Kapal ini beroperasi setiap hari dengan jadwal keberangkatan Malam dan sampai di Gunungsitoli pagi hari.
  • Dari Pelabuhan Aceh Singkil dapat menyeberang dengan menggunakan kapal penumpang yang beroperasi 2 kali seminggu yaitu hari Selasa dan Kamis.

Budaya Nias

Fahombo (Lompat Batu)
Dalam budaya Ono Niha (Nias) terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.