Senin, 02 Mei 2016

CERITA SEX GAY "TENTARA MASUK DESA"

0 komentar
bertahun-tahun setiap musim kemarau tiba, daerahku mengalami kekeringan. Sebenarnya ada sebuah sumber air dari mata air yang melimpah, namun jarak dari desaku menuju sumber air itu cukup jauh dan terjal. Seandainya saja ada saluran air yang bisa mengalirkan air dari mata air itu menuju pesawahan dan perkebunan kami, setiap musim kemarau petani di desaku tidak akan mengalami gagal panen. Syukurlah, minggu itu datang puluhan anggota TNI AD yang akan membantu warga desa membuat saluran air dari mata air menuju desa kami. Wah, ternyata banyak yang gagah dan tampan juga para personel tentara itu. Karena aku adalah anak kepala desa dan sudah remaja, aku ikut ambil bagian dalam kerja bakti membangun saluran air tersebut.
Ada satu tentara yang mencuri perhatianku. Dibandingkan dengan yang lain, tubuh tentara itu paling besar dan paling kekar. Sepertinya dia sendiri sadar akan hal itu dan dengan bangga menunjukkannya dengan cara melepas kausnya saat bekerja, padahal matahari bersinar terik pagi itu.
Sengaja aku bekerja membersihkan tanah yang akan dijadikan saluran air dengan memotong rumput liar itu dekat dengan tentara tersebut agar aku bisa leluasa mencuri-curi pandang melihat tubuh kekarnya yang menggelap akibat terpapar matahari sekaligus tampak seksi karena basah oleh keringat.
“Dik! bantuin abang cangkul sebelah sini!”
Tiba-tiba tentara itu menyuruhku membantunya. Jantungku berdegup kencang dan dengan gugup menghampirinya.
“Bisa nyangkul enggak?” tanyanya.
“Bi.. bisa bang!” jawabku tak yakin.
“Coba cangkul sebelah sini dulu!” perintahnya sambil menunjuk sebuah gundukan tanah.
Aku mengikuti perintahnya dan mulai mencangkul. Rupanya gerakanku masih kurang benar hingga tentara itu beranjak dan membantuku mencangkul yang benar.
“Begini megangnya dik,” ujarnya sambil memelukku dari belakang dan sama-sama menggenggam cangkul. Aku menjadi salah tingkah saat dada bidangnya yang basah oleh keringat menekan punggungku hingga kurasakan putingnya menusuk cukup keras.
Selama beberapa saat aku menikmati posisi seperti itu. Kuharap tak ada yang sadar kontolku mengeras karena mengkhayalkan yang tidak-tidak oleh si tentara itu.
Malamnya, para tentara itu beristirahat di berbagai tempat. Karena ayahku seorang pemuka desa, dan memiliki teras rumah yang cukup luas, dengan rumah semi-panggung dan alas kayu licin yang dingin, lima orang tentara itu tidur di depan rumahku. Termasuk Bang Heru, nama tentara yang paling kekar itu.
Bang Heru tidur dengan memakai kaus hijau ketat dan sarung. Entahlah, apakah dia memakai celana dalam dibalik sarungnya atau tidak, tapi tadi aku sempat mengintip dari kamarku yang jendelanya menghadap teras dan mengagumi tubuh kekar Bang Heru yang sulit disembunyikan oleh kaus ketatnya itu.

Sudah lewat tengah malam. Aku terbangun karena ingin buang air kecil dan haus. Kamar mandi di rumahku letaknya di luar rumah dan aku harus keluar melalui dapur untuk menuju kamar kecil.
Betapa terkejutnya aku saat keluar, Bang Heru sudah berdiri di sana.
“Eh, bang? mau ke toilet?” tanyaku.
Bang Heru mengangguk sambil menguap malas. Aku meneguk ludah melihat putingnya yang menonjol dibalik kausnya. Setelah itu, aku menuju dapur untuk mengambil segelas air. Tak lama Bang Heru keluar dari toilet dan melewatiku.
“Gerah Bang?” tanyaku.
“Gerah sih enggak dik, tapi nyamuknya itu loh..” ujar Bang Heru.
“Mmmm.. iya Bang, maklum musim pancaroba..” kataku.
Bang Heru tak membalas. Dia kemudian berjalan menuju teras kembali. Aku memberanikan diri untuk memanggilnya.
“Bang! kalau banyak nyamuk tidur di kamarku aja…” tawarku.
Bang Heru berbalik dan menatapku lama. Dia kemudian mengawasiku dari atas sampai bawah.
“Bener boleh?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk. “Iya bang, gapapa..”
Bang Heru kemudian menuju kamarku. Kamarku pun sederhana. Aku tidur di lantai namun kasurku cukup ditiduri oleh dua orang. Bang Heru ikut rebahan di sebelahku sambil membetulkan sarungnya. Jantungku berdebar kencang mendapati tentara gagah dan macho itu tidur di sebelahku.
“Bang.. Abang udah punya istri?” tanyaku.
“Udah.. anak juga udah, baru satu, umurnya dua tahun,” jawab Bang Heru.
“Kangen mereka dong bang?” pancingku.
“Iya dek, kangen pastinya. Ini aja udah hampir dua bulang abang tinggalin mereka…” keluhnya. Aku melihat Bang Heru. Wajahnya memang tidak terlalu tampan. Rahangnya tegas dan membuatnya terlihat sangat jantan. Kulitnya coklat gelap sehingga menambah keseksian tentara ini.
“Abang.. abang sering latihan ya? kok badan abang lebih bagus dari yang lain?”
Bang Heru tertawa. “Iya dek, abang hobi angkat beban. Seneng aja kalau bisa ngebentuk badan, biar istri seneng sama makin hot di ranjang. Hahaha..”
“Wah.. beruntung banget istri abang…”
“Beruntung kenapa?” tanya Bang Heru curiga.
“Mmm.. punya suami yang sayang kayak abang…” kataku nakal sambil meletakkan tanganku ke atas perutnya yang rata.
Bang Heru tidak memprotes. Sekilas dia melihat tanganku yang mengusap-usap perutnya namun tak menghentikannya.
“Kalau abang kangen istri, terus gimana bang?” pancingku.
“Abang ngocok sendiri, dek..” jawabnya.
“Kok sendiri bang? enggak minta dibantuin?” tanyaku lagi. Kali ini aku memberanikan diri mengelus dadanya dan mengusap putingnya.
“Ehm… eh… kamu.. kamu mau bantuin?” tanyanya.
Aku mengangguk senang. Lalu Bang Heru melepas kausnya sehingga tubuh kekarnya terekspos jelas. Apalagi bang Heru meletakkan tangannya di kepala hingga ketiaknya yang berbulu itu terpampang jelas menantang.
Tanpa menunggu lama, aku mulai menciumi dada bidang Bang Heru. Kuserang langsung puting Bang Heru dan mengulumnya serta mengisapnya. “Aaah…” desah Bang Heru keenakan. Kugunakan gigiku untuk menggigit lembut daerah sensitif itu dan kugunakan lidahku untuk menekan-nekannya hingga Bang Heru mendesis dan menggelinjang nikmat.
Kutelusuri tubuh Bang Heru hingga sampai di selangkangannya. Ternyata Bang Heru memakai celana dalam kecil di balik sarungnya. Kusingkap sarung itu dan langsung kuturunkan celana dalamnya hingga kontol Bang Heru yang besar gelap dan berurat itu menyembur tegak keluar.
Aku memerhatikan kepala kontol Bang Heru yang cukup besar bak cendawan di musim hujan. Aku membayangkan Istri Bang Heru yang menjerit keenakan setiap kali kepala jamur ini merobek memeknya tiap malam. Pantatku pun berdenyut denyut ngeri membayangkan kontol kepala jamur ini menembus lubang pantatku.
Kujilat kontol Bang Heru hingga kembali dia mendesis keenakan. Kukerahkan kemampuanku agar Bang Heru menikmati isapanku. Tubuh tentara itu menggeliat-geliat keenakan saat aku terus mengulum dan berusaha memasukkan kontol gemuk dan berurat itu ke dalam mulutku.
Tapi seperti pria beristri lainnya, Bang Heru tak bisa keluar hanya dengan servis oral. Dia membutuhkan lubang. Dan apabila lubang memek istrinya tak ada, satu-satunya cara dia melampiaskan syahwatnya adalah dengan menyetubuhiku.
Bang Heru kemudian melepas kaus dan celanaku hingga aku telanjang bulat. Bang Heru mengganti posisi dan kini dia berada di atasku. Dengan penuh nafsu melihat pemandangan tubuh kekar seorang tentara di atasku, kucoba meraih putingnya dan berusaha menjilatinya dengan lidahku.
Bang Heru kemudian membuka pahaku lebar-lebar dan menekuknya hingga lubang pantatku terlihat. Bang Heru kemudian meludah tepat di mulut anusku dan berniat menggunakannya sebagai pelicin.
“Pelan-pelan bang…” aku memohon ngeri melihat batang kontolnya yang tegak sempurna dan siap untuk ditusukkan ke dalam pantatku.
“Pelan-pe.. Akhhh!!!” aku memekik saat kepala jamur kontol Bang Heru mulai menembus paksa lubang pantatku. Walau telah dilumuri air liurnya, tetap saja kontol sebesar itu membuat anusku terasa nyeri.
“Sabar ya dek.. ooh.. pantat kamu sempit juga…” racaunya.
“Bang… Bang…” tadinya aku hendak protes, lama kelamaan kontol Bang Heru terasa enak berada di dalam pantatku.
“Ya..?” tanya Bang Heru.
“Genjot bang…” kataku memohon.
Bang Heru pun mengabulkan permohonanku. Aku mengerang kenikmatan saat kontol Bang Heru menghantam anusku berkali-kali hingga Bang Heru terpaksa membungkam mulutku dengan sarungnya.
“Aaah.. aaaah…” erang Bang Heru. Matanya terpejam sambil pinggangnya terus bergoyang menyetubuhi lubang anusku.
Aku menggelinjang keenakan menikmati entotan tentara seksi itu. Bang Heru kemudian meraih tubuhku dan merangkulnya sementara gerakan pinggangnya semakin cepat dan semakin panas. Aku meremas pantat Bang Heru yang bergerak-gerak ganas menyemangatinya untuk terus merojokkan kontolnya ke dalam pantatku.
“Terus Bang.. terus…” desahku. Tubuhku berkeringat dan ikut menghentak setiap kali Bang Heru menghujamkan kontol besarnya itu.
Aku tak tahan lagi. Kontol Bang Heru membuatku kontolku menegang dan akhirnya menyemburkan cairan hangat yang mengalir pada perutku.
“Aaaaah…” desahku panjang. Bang Heru masih terus menggenjot pantatnya dan menghujamkan rudal besarnya berulang-ulang.
“Abang mau keluar sayang…” desahnya.
“Ayo bang.. keluarin.. keluarin bang… adek pengen rasain pejuh abang di dalam pantat…” kataku menyemangatinya.
“Aaah… abang mau ke… aaahh..” Bang Heru memekik tertahan. Kurasakan kontolnya berdenyut-denyut mengerikan sebelum akhirnya menyemburkan cairan spermanya yang terasa bergalon-galon mengisi terowongan anusku hingga terasa hangat dan lembab.
Tubuh berotot Bang Heru terjatuh di atas badanku. Kurasakan kontolnya mulai melunak sementara Bang Heru masih tersengal-sengal nafasnya. Kuusap punggung kekar Bang Heru yang berkeringat itu dengan tanganku dan mencium pipinya dan menujinya.
“Abang hebat banget…” kataku. Bang Heru menyeringai senang sambil terus mengatur nafasnya.
Kami berdua terkejut saat tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Masuklah dua orang tentara yang juga bertubuh kekar walau tak sebesar badan Bang Heru. Salah satu dari mereka menyahut.
“Gila lo Her..! ngentot enggak ngajak-ngajak…”
Aku langsung ngeri saat kedua tentara itu membuka kausnya dan menghampiri kami berdua

Nikmatnya Kontol Pak Guru

0 komentar

Pernahkah kalian jatuh cinta pada guru kalian sendiri? Pasti pernah!
Ayo, ngaku saja, tak perlu malu-malu:) Saya sendiri pernah. Cerita ini
terjadi ketika pada tahun terakhir SMU-ku. Pada waktu itu, ada seorang
kepala sekolah baru yang merangkap sebagai guru. Dan kebetulan sekali,
kelasku merupakan salah-satu dari sedikit kelas yang dipegangnya.
Namanya Joko, tanpa embel-embel nama belakang. Dia memang orang Jawa
asli dan logat Jawa-nya kental sekali. Pasti kalian membayangkan seorang
pria jelek berkumis. Salah besar!:) Pak Joko itu tampan sekali, sama
sekali tak terlihat kampungan/udik. Dan tubuhnya pun kekar bak model

sampul Men's Health. Umurnya masih terbilang muda, sekitar tigapuluhan.
Dia memang tidak memelihara kumis, tapi di sekitar dagunya terdapat
brewok tipis. Brewok tipis itu membuatnya terlihat seksi sekali! Menurut
kabar burung (burungnya siapa hayo?), Pak Joko itu masih single, alias
belum married.

Tiap kali dia mengajar di kelasku, saya tak pernah capek memandangnya.
Aura keseksiannya begitu menggoda. Yang kusuka darinya adalah
kebiasaannya yang tak pernah memakai kaus dalam atau singlet. Kemeja
yang sering dipakainya pun berbahan tipis sehingga saya dapat hampir
melihat tubuhnya. Sering kali, kedua putingnya yang menegang tercetak
jelas di balik kemejanya itu. Tanpa malu, kedua puting itu menunjukkan
diri mereka. Lekuk-lekuk dadanya yang berotot pun ikut tercetak.
Beruntung bagiku karena saya duduk di meja terdepan:) Saya merasa telah
jatuh cinta pada Pak Joko. Saya ingin sekali memadu kasih denganya,
biarpun hanya sekali saja.

Lalu sebuah ide gila menyusup masuk ke dalam otakku yang mesum. Saya
mengambil secarik kertas dan mulai menulis sebuah surat cinta tanpa
nama. Kupikir, itulah satu-satunya cara agar si ganteng Pak Joko
menyadari bahwa dia mempunyai seorang penggemar rahasia. Suratku berbunyi:

Untuk guruku tercinta, Pak Joko.

Saya adalah salah satu muridmu yang jatuh cinta padamu. Tapi saya
laki-laki. Biarpun begitu, saya naksir Bapak. Tubuh Bapak begitu
menggodaku, sampai-sampai saya tak bisa konsentrasi belajar, terutama
dada dan puting Bapak. Saya ingin meraba-rabanya, meremas-remasnya,
menjilatinya. Saya ingin menyenangkan Bapak. Saya bahkan bersedia
memberikan pantatku yang masih eprjaka demi kepuasan seksual Bapak. Saya
akan membawa Bapak ke langit ketujuh, asalkan Bapak sudi mencintaiku.
Hanya Bapak yang dapat kupikirkan siang-malam. Saya ingin bersamamu,
Pak, meksipun hanya semalam saja.

Ciuman mesra, Penggemar rahasiamu.

Tak sulit untuk menyelipkan surat itu ke dalam tumpukan bukunya sebab
saya sering ditugasinya untuk membantunya membawakan buku-bukunya ke
kantornya. Sambil berpura-pura membereskan, tanganku menyelipkan surat
itu. Saya tak tahu apakah dia akan menemukan surat itu atau tidak.

Tapi paling tidak, saya telah berusaha.

Selama berhari-hari, tak ada yang terjadi. Sikap Pak Joko pun
biasa-biasa. Sampai pada suatu hari, tiba-tiba dia memanggilku untuk
menghadapnya. Saya sungguh tak tahu dalam rangka apa dia ingin bertemu
denganku. Begitu melihatku masuk, Pak Joko-ku yang tampan itu
mempersilahkanku untuk duduk. Ruangan itu memang terletak berdekatan
dengan ruang guru, tapi berhubung saya dipanggil di tengah jam
pelajaran. Ruangan guru itu kosong sama sekali. Jadi saya dapat sedikit
bersantai, tanpa harus khawatir ada guru-guru ynag hobi menguping.

"Endy, bisa kamu jelaskan ini?" tanyanya dengan suaranya yang berwibawa.

Dia menyodorkan secarik kertas yang nampak sangat familiar. Penasaran,
saya memngambilnya dan.. Astaga! Itu surat cintaku unntuk Pak Joko!

"Surat itu kamu yang menulisnya 'kan?" tanyanya.

"Bapak mengenal betul tulisan tanganmu. Jadi kamu tak perlu berbohong."

Sekujur tubuhku gemetaran. 'Astaga, apa yang telah kuperbuat? Kenapa
harus memakai tulisan tanganku? Kenapa tak pakai mesin tik saja?'
pikirku, keringat dingin menuruni wajahku. Tapi saya tahu bahwa tak ada
gunanya untuk berbohong. Maka, dengan wajah tertunduk, saya mengakui
semuanya.

"Benar, pak. Surat itu saya yang menulisnya. Saya.. Saya jatuh cinta
padamu.. Saya tahu saya salah. Jadi saya hanya dapat pasrah. Saya
siapjika Bapak ingin mengelaurkanku daris ekolah ini," kataku lemas.

Pak Joko bangkit dan memutari tempat dudukku. Kurasakan kedua tangannya
yang kokoh itu mendarat di atas kedua bahuku.

"Siapa yang bilang kalau Bapak akan mengeluarkanmu? Bapak harus akui,
Bapak suka sekali dengan suratmu itu. Meski singkat, suratmu begitu
erotis. Bapak sampai ngaceng membacanya."

Tentu saja saya terkejut mendengarnya. Kubalikkan badanku dan kulihat
Pak Joko sedang tersenyum ramah padaku. Kedua tangannya mulai menjalar
turun dari bahuku menuju dadaku. Saya tak melawan ataupun menahannya.
Saya ingin hal itu terjadi! Sentuhannya begitu menggoda, saya
mendesah-desah saat kedua tangannya sibuk meraba-raba dadaku.

".. Hhohh.. Ooohh.. Pak.. Enak sekali Pak.. Aahh.." Terlena, saya
memeluk tangannya dan mulai menciumnya.

Tiba-tiba Pak Joko menyuruhku berdiri. Begitu saya berdiri, Pak Joko
segera melucuti seragamku. Tak ada yang tersisa di tubuhku; semua
pakaianku lepas. Semenit kemudian, saya telah berdiri di hadapannya
telanjang bulat. Pak Joko pun, dengan bernafsu, menelanjangi dirinya
sendiri. Dan untuk pertama kalinya, saya dapat melihat tubuhnya tanpa
halangan. Benar-benar seperti yang kubayangkan dalam fantasi mesumku.
Tubuh Pak Joko sangat sempurna! Tubuhnya sangat proposional dan ototnya
pun cukup (tak terlalu bengkak seperti Hulk). Dadanya bidang sekali,
ditumbuhi bulu-bulu halus. Darahku berdesir melhat bulu dadanya. Ooohh..
Jantan sekali. Di antara dadanya yang berbulu itu, sepasang puting
kecoklat-coklatan menyembul keluar. Bulu-bulu itu tumbuh hampir di
sekujur tubuhnya, menuruni perutnya yang kotak-kotak dan berakhir di
semak-semak sekitar tempat kontolnya berada. Kontol Pak Joko lumayan
besar, menggantung di sana, masih tertidur.

Bagai terhipnotis, saya menjatuhkan diriku di bawah kakinya dan langsung
mengulum kontolnya. Saya melakukannya dengan spontan, tahu bahwa Pak
Joko juga mengharapkannya. Untuk beberapa saat, saya merasa seperti
pelacur pria rendahan, haus akan kontol, tapi saya tak dapat
mengingkarinya. Saya memang membutuhkan dan memuja kontol. Kontol adalah
lambang kekuatan sejati pria, dan juga organ yang paling seksi. Pak Joko
hanya dapat mendesah-desah keenakkan, tubuhnya menggeliat-geliat,
menahan rasa nikmat yang dirasakan kontolnya. Sambil menyodokkan
kontolnya ke dalam mulutku, Pak Joko memegangi kepalaku. Rambutku
diremas-remas, menunjukkan padaku betapa dia sangat menikmati sedotanku.
Bosan dengan rambutku, kedua tangannya menjalari punggungku dan
mencakarinya. Tentu saja kuku-kukunya pendek semua. Lelaki macho sejati
tidak memanjangkan kukunya seperti perempuan. Cakaran Pak Joko terasa
tumpul, namun sanggup memompa semangatku agar saya menghisap kontolnya
lebih keras.

".. Hhhoohh.. Ooohh.. Jilat kontol Bapak.. Aaahh.. Buat Bapak ngecret..
Hhhoohh.." erang Pak Joko.

Dan saya pun semakin bersemangat menyedot seluruh isi kontol Pak Joko
yang amat kucintai itu. Sesekali kuremas-remas biji pelernya berharap
pejuhnya akan lebih mudah muncrat keluar. Saya sudah sering meminum
pejuhku sendiri. Biasanya saya mengocok kontolku dan ngecret di telapak
tanganku, lalu pejuhku kujilati habis. Saya tidak pernah meminum pejuh
orang lain. Pejuh Pak Joko akan menajdi pejuh pertama dari orang lain
yang kucicipi.

".. Hhhoohh.. Uuuhh.. Aaahh.. Hhoosshh.."

Tiba-tiba kontol Pak Joko membesar di dalam mulutku. Nampaknya kepala
kontolnya menggembung, bersiap-siap untuk menembakkan pejuh. Pak Joko
mendorong kontolnya ke dalam mulutku keras-keras dan kontol itu pun meledak.

CCRROOTT!! CCROOT!! CCRROOT!!

Tubuh Pak Joko yang telanjang itu menggeliat-gelait dan
mengejang-ngejang. Setiap kali tubuhnya mengejang, dia akan mengerang,

"UUGGH!! AAHH!! UUHH!!"

Napasnya memburu-buru, otot perutnya ebrkontraksi, dan keringat mulai
membasahi sekujur tubuhnya.

"AAHH.. UUHH.. HHOOHH.." desahnya saat tetes terakhir pejuhnya meluncur
turun ke kerongkonganku. CCROOTT!!

Dengan rakus, kutelan semuanya. Aaahh.. Enaknya. Manis dan agak asin.
Saya amat menyukai rasa pejuhnya.

Tubuh Pak Joko yang berotot itu pun lemas seketika. Dengan lembut, dia
memeluk tubuhku dan membimbingku untuk berbaring di atas meja kerjanya.
Sebelumnya, dengan tangannya yang kekar, dia menjatuhkan seluruh barang
yang berada di mejanya. Kini mejanya bersih dan dapat kutiduri. Saya
sadr apa yang dinginkan Pak Joko, dan saya akan memberikannya dengan
senang hati! Apapun untuknya, asalkan dia senang.

"Hhoohh.. Bapak cinta kamu. Bapak ingin mmemasukan kontol Bapak ke dalam
tubuhmu. Kamu mau 'kan?" Tentu saja saya menyetujuinya.

Dengan sensual, Pak Joko merentangkan kakiku selebar-lebarnya. Lubang
pantatku yang ketat berkedut-kedut di hadapannya. Selama beberapa saat,
Pak Joko hanya memain-mainkan ontolnya di pintu gerbang anusku. Saya
mengerang-ngerang penuh nafsu, emohonnya untuyk segera menusukku. Tapi
Pak Joko tak menghiraukanku. Dia menunggu sampai lubangku cukup licin
dengan precumnya. Dan kemudian, setelah puas melumasi lubang
pelepasanku, Pak Joko kemudian menancapkan kontolnya, jauh ke dalam tubuhku.

"AARRGGHH!!" erangku, kesakitan.

Untung saja ruangannya kedap suara sehingga takkan ada yang dapat
mendengar erangan mesum kami.

".. Hhohh.. Hhhohh.. Sakit sekali.. Hhohh.. Pak.. Hhohh.." keluhku.

"Sabar ya. Biarkan Bapak ngentotin kamu. Bapak janji, kamu akan merasa
puas, oke?" Pak Joko berusaha meyakinkanku.

Bagaimana saya dapat menolaknya? Pak Joko pun mulai menggenjot pantatku.
AARRGGHH!! Perih sekali. Lubangku terasa penuh sekali dan bibir anusku
serasa sobek. Kemudian Pak Joko menusukkan kontolnya masuk. AARGGH!!
Sakit tapi nikmat. Cintaku yang begitu besar pada Pak Joko mmbuatku
bertahan dalam kesakitan itu. Saya lega Pak Joko senang dengan tubuhku.
Saya ingin dia memakai tubuhku terus-menerus dan membuang pejuhnya dalam
tubuhku karena saya diciptakan hanya untuk melayaninya.

"Hhhooh.. Hhhoohh.. Ketat.. Hhhoosshh.. Sempit.. Aaahh.. Bapak suka
pantatmu.. Hhhohh.." komentar Pak Joko di sela-sela napsnya.

Sambil mengentotku, Pak Joko membungkukkan tubuhnya dan mulai menciumiku
dengan penuh nafsu. Tubuh kami menyatu dalam ciuman itu, dan juga dalam
persetubuhan kami. Kami disatukan oleh cinta dan nafsu birahi kami.

"Hhhooh.. Bapak suka kamu.. Ooohh.. Hhhoohh.. FUCK! Bapak akan ngentotin
kamu.. Ooohh.. Sampai kita puas.. Hhhohh.. Aaahh.."

Kini rasa nikmat mulai menghampiriku. Ternyata cerita-cerita homoseksual
yang kubaca di berbagai situ-situs porno benar apa adanya, bahwa
dingentotin kontol itu enak. Buktinya badanku mulai menggelepar-gelepar
seperti ikan kehabisan air. Nikmat sekali ukuran kontol Pak Joko,
apalagi dia mengentotinku dengan penuh nafsu dan cinta.

"Hhhoohh.. Pak Joko.. Hhhohhshh.. Terus Pak.. Hhohh.. Negntotin saay..
Aaahh.. Ayo Pak.. Lebih keras.. Hhhoohh.. Bapak.. Uuuhh.." erangku,
tubuhku terguncang-guncang. Bahkan meja yang kami pakai untuk ngentot
ikutan berderak-derak. Saya agak khawatir jika meja itu akan rubuh. Tapi
Pak Joko tak menghiraukannya. Dia tetap asyik menghajar pantatku dengan
kontol supernya.

"AARRGGHH!!" erangku.

Seks kami menjadi semakin panas dan bergairah. Pak Joko memutuskan untuk
memakai tubuhku sebagai latihan bebannya. Dengan berpegangan pada
pinggulku, dia mengangkatku. Takut jatuh, saya segera melingkarkan kedua
lenganku pada lehernya yang kokoh Tak lupa, kedua kakiku kupakai untuk
memeluk pinggangnya. Dengan susah payah, Pak Joko membawa tubuhku ke
tembok di depannya. Kontolnya masih tetap tertancap dlam pantatku, masih
tetap menyodomiku. Saya hanya dapat terengah-engah saja.

Rasa sakit dan nikmat yang diberikan kontolnya menjadi berlipat ganda.
Sesampainya kami di tembok itu, Pak Joko mendorong tubuhku ke tembok dan
mulai mengentotinku dengan liar.

"Hoohh.. Hhhoohh.. Bapak akan ngentotin kamu.. Hhhoohh.. Sampai kamu
ngecret.. Aaahh.. Kontol Bapak butuh pelepasan.. Aaahh.. Hhhoohh.." Pak
Joko sungguh-sungguh jantan!

Karena tak kuasa menahan rasa nikmat yang mendera tubuh dan kontolnya,
Pak Joko menggigit leherku. Terpengaruh, saya pun balas menggigitnya.
Kami saling menggigit dan meneteskan air liur ke tubuh kami. Seks kami
sangat liar dan bergairah! Kami seperti sepasang hewan buas yang sedang
ngeseks sejenis!

Tiba-tiba kontol Pak Joko mulai mengembang dan berkedut-kedut. Kemudian..

CCRROOTT!! CCRROTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!!

Dengan tak terkendali, kontol sang guru itu pun menembakkan kontolnya
secara bertubi-tubi. Bagian dalam tubuhku disemprotnya dnegan pejuh
bergalon-galon. Dan pejuh itu bukan sembarang pejuh. Tetapi PEJUH Pak Joko!

"AARRGGHH..!!" erangnya, tubuhnya kelojotan.

"AARRGGH!! UUGGHH!! OOHH!! AAHH!! HHOOHH!!" dengan susah payah, dia
berusaha menjaga agar tubuhku tak terlepas dan jatuh.

Selama seks itu, kontol ngacengku yang terus-menerus mengeluarkan precum
terperangkap antara perut kami berdua. Perut Pak Joko yang terasa
seperti papan cuci menggosok-gosok kontolku dengan kasar, tiap kali dia
bergerak untuk mengetotinku. Alhasil, kontolku mendapat servis coli yang
paling top darinya. Ketika tubuh Pak Joko mengejang-ngejang karena
orgasme, kontolku terpengaruh dan mulai menyemburkan sperma.

"AARRGGHH!!" teriakku.

CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Pejuhku menyembur
membanjiri perutku dan mneggenangi pusarku. Karena tubuh kami berdua
terguncang orgasm, genangan pejuhku jatuh menetes ke atas lantai. Kaki
telanjang Pak Joko tanpa sengaja menginjak-nginjak genangan itu sehingga
membuat lantai kantornya menjadi semakin kotor.

"UUGGHH!! AARRGGHH!! OOHH!! AAHH!! HHOOSSHH!! UUHH!!" erangku sampai
orgasme meninggalkan diriku. Kami saling berciuman mesra ketika semuanya
usai.

Dengan hati-hati, Pak Joko menurunkan tubuhku. Tersengal-sengal
kupandangi wajahnya. Meskipun mukanya terlihat capek, dia masih saja
tampan. Kontolnya muali menciut dengan pejuh yang masih menggantung di
kepala kontolnya.

Ketika saya akan buru-buru masuk ke kelas, Pak Joko menahanku. Dia berkata,

"Bapak 'kan juga merangkap sebagai kepala sekolah di sini. Akan Bapak
katakan pada wali kelasmu bahwa Bapak membutuhkan bantuanmu. Kita berdua
akan menghabiskan waktu berduaan saja di rumah Bapak."

Saya tersenyum dan kembali kucium wajahnya yang tampan itu. Sambil
mencium, saya mengambil kesempatan untuk meremas-remas dadanya yang