Kamis, 30 Juni 2016

Kota Sukabumi

0 komentar

Mengenang Kesyahduan Sukabumi Tempo Doeloe

Sebenarnya sudah agak lama saya berkeinginan sedikit menulis tentang Sukabumi masa lalu dibandingkan dengan saat ini. Hal ini bermula dari ketakjuban akan kesyahduan Sukabumi masa lalu yang saya lihat dari foto-foto yang ditemukan dari searching via internet.
Tulisan ini hanya sekedar tulisan ringan saja. Tiada bermaksud untuk mengkritik kesana-kemari. Hanya sekedar upaya untuk berkaca tentang apa yang dilakukan manusia modern atas lingkungan yang terus berkembang sesuai tuntutan zaman. Syukurluh bila tulisan ringan ini bisa menjadi semacam masukan bagi pemangku kekuasaan untuk membenahi kondisi kota Sukabumi tercinta ini.
Baklah, kita mulai penelaahan sederhana ini…
Kantor Balai Kota Sukabumi
Kita mulai saja dari kantor Balai Kota Sukabumi, tempat dimana seluruh kebijaksanaan penataan kota Sukabumi bermula. Dibawah ini foto kantor Balai Kota tempo dulu yang saya temukan. Tidak jelas foto ini diambil tahun berapa.  Tampak syahdu suasananya. Dua delman di bagian kiri dan kanan saya pikir menambah kesyahduan akan suasana saat itu.
Balai Kota Sukabumi tempo doeloe…
Berikut, foto Balai Kota saat ini. Hanya bagian atap bangunan yang masih dipertahankan keasliannya. Dikiri dan kanan sudah ditambah dengan bangunan baru. Mungkin salah satu alasan perluasan gedung bala kota adalah untuk menampung jumlah birokrat yang semakin bertambah banyak dan menjamin aktifitas rutin mereka berjalan lancar setiap harinya. Mungkin…
Balai Kota Sukabumi saat ini. Perhatikan bentuk atap yang tetap dipertahankan keasliannya…
Stasiun Kereta Sukabumi
Selanjutnya, kita bergeser ke stasiun Sukabumi. Berikut foto yang saya temukan berhubungan dengan kondisi stasiun masa lalu. Lagi, saya tidak menemukan data kapan foto tersebut diambil. Lihatlah halaman stasiun yang demikian lapang. Nampak beberapa delman menunggu calon penumpangnya. Hmmm, terbayang sejuk dan nyamannya suasana saat itu…
Stasiun Sukabumi tempo doeloe. Halaman yang lapang dan delman yang menanti calon penumpang…
Stasiun Sukabumi dari sudut pandang lain…
Nah, dibawah ini adalah foto kondisi stasiun saat ini. Yang mencolok adalah halamannya. Kalau dahulu halaman ini demikian lapang, saat ini demikian sempit. Dibatasi oleh pagar yang memanjang. Diluar pagar ini sekarang terdapat pasar yang bernama Pasar Pelita. Ah, anda tahulah bagaimana semrawutnya kondisi kebanyakan pasar-pasar kita. Hal ini mengurangi keasrian suasana sekitar stasiun Sukabumi saat ini.
Kondisi Stasiun Sukabumi saat ini. Halaman yang menyempit…
Sudut lain keadaan Stasiun Sukabumi saat ini…
Masjid Agung Sukabumi
Tempat berikut yang saya perhatikan adalah Mesjid Agung Sukabumi. Saya pribadi familiar dengan foto Mesjid Agung Sukabumi seperti dibawah ini. Familiar dengan dua menara di sebelah kiri dan kanan Mesjid Agung tersebut. Rasanya sampai dengan saya SMP masih bisa menatap bangunan tersebut.
Mesjid Agung Sukabumi tempo doeloe…
Bagaimana dengan Mesjid Agung saat ini? Mohon maaf sekali, Mesjid Agung sedang dibongkar habis-habisan sekarang. Membangun Mesjid Agung yang sama sekali baru. Menghilangkan seluruh jejak masa lalunya. Sayang sekali…
Pembangunan Mesjid Agung. Sama sekali tidak meninggalkan jejak masa lalu…

Capitol
Terakhir, saya menemukan foto yang demikian indah sekitar area Capitol masa lalu. Mungkin saat foto ini diambil, Capitol merupakan pusat kota Sukabumi. Semacam pusat perbelanjaan dan hiburan saat itu. Lihatlah foto Capitol masa lalu dengan seksama.
Suasana sekitar Capitol tempo doeloe. Betapa syahdu…
Bangunan tengah yang dimaksud dengan Capitol tersebut. Dibagian depan bangunan ada semacam atap yang memanjang kedepan. Disana terdapat teras untuk sekedar duduk bila telah letih berbelanja. Kondisi Capitol seperti ini masih saya alami ketika saya masih duduk dibangku SD, sekitar tahun 70-an. Sejajar namun diseberang Capitol terdapat bangunan yang membulat bagian samping depannya. Tertulis KHOE & Co. Mungkin semacam perusahaan swasta.
Apakah masih ada kesyahduan Capitol tempo dulu pada Capitol sekarang ini? Inilah…
Suasana sekitar Capitol saat ini…

Capitol Plaza. Dinding yang sudah demikian “tergadai”…
Foto diatas adalah foto Capitol saat ini. Namanya sudah berubah menjadi Capitol Plaza. Saya sebagai orang awam kadang menghela nafas dalam melihat kondisi Capitol saat ini. Betapa tidak, sebagian besar dindingnya sudah “tergadai” kepada salah satu operator telekomunikasi. Ah, mungkin nama Capitol Plaza sudah tidak cocok lagi digunakan…
Bagaimana dengan banguan membulat KHOE & Co yang khas itu sekarang? Bangunan membulat itu ternyata masih dipertahankan hingga saat ini. Sekarang berubah menjadi Toko DUNIA seperti dapat dilihat pada foto dibawah ini.
Bandingkan situauasi ini dengan situasi Capitol tempo doeloe…

Kesan yang didapat dari foto terakhir pastilah bernada sama. Ya, betapa semrawutnya kondisi sekitar Capitol saat ini. Baik kondisi lalu lintasnya maupun kondisi didepan dan disamping bangunan yang bernama keren Capitol Plaza itu…
Sekali lagi tulisan ini tiada bermaksud mengkritik kesana-kemari. Saya pribadi hanya sekedar mengajak bercermin dari kesyahduan masa lalu dan direfleksikan ke keadaan saat ini. Mungkin kita mendapat pelajaran berharga sebagai hasil proses bercermin tersebut.

Rabu, 29 Juni 2016

Hari Jadi Sukabumi 1 April 2016 Ke 102 Tahun Sementara Sukabumi Telah ada sejak Jaman Kerajaan Pajajaran

0 komentar
Diskusi Bulanan Analog, Polemik Hari Jadi Sukabumi, mana yg lebih membumi – red
(Irman ‘Sufi’ Firmansyah)
Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa hari jadi Sukabumi diperingati setiap tanggal 1 April atas dasar keputusan pemerintah Hindia Belanda untuk merubah onderafdeling Sukabumi menjadi Gementeraad van Soekaboemi tahun 1914. Hari jadi ini sempat menjadi polemik yang berkembang di masyarakat kota Sukabumi beberapa tahun yang lalu. Pada dasarnya minimal ada tiga hal untuk menentukan hari jadi sebuah kota, yang pertama adalah titi mangsa tertua, umur sangat penting dalam ilmu sejarah dan Arkeolog karena semakin tua umurnya maka sebuah benda bersejarah lebih bernilai. Yang kedua adalah fakta sejarah, artinya hari jadi tersebut memang sesuai bukti-bukti sejarah bukan dibuat-buat, dan yang ketiga adalah falsafah, yaitu mempunyai nilai-nilai yang akan berpengaruh dan menjadi kebanggaan masyarakat kota seperti heroisme atau lokalitas. Saya coba paparkan fakta-fakta mengenai hari jadi kota Sukabumi dari ketiga faktor tadi:
1. Faktor Titi Mangsa Tertua
Timbul pertanyaan benarkah Kota Sukabumi baru lahir 102 tahun yang lalu? Faktanya Bogor lahir lebih dari 500 tahun yang lalu dan cianjur lebih dari 300 tahun yang lalu, benarkah demikian? adakah sebenarnya titi mangsa lain yang lebih tua selain 1914? Data berikut sebenarnya bisa menjadi option untuk kembali menggali dan mengkaji mengenai titi mangsa hari jadi kota Sukabumi:
* Pertama, Dalam buku Preanger karya F. De Haan, Tanggal 21 Juli 1687 Sersan Scipio bersama kepala kampung Baru Tanujiwa diminta untuk melakukan survey ke Pelabuhan Ratu melalui Gunung Guruh, tujuannya adalah untuk melihat situasi pasca penyerahan wilayah antara gunung salak dan gunung gede tahun 1677, Gunung Guruh saat itu bisa dianggap mewakili kota sukabumi karena Haan menjelaskan bahwa Gunung Guruh adalah wilayah dikaki Blauwenberg (Gunung Gede) diantara Sungai Cimandiri dan Sungai Cigunung. Saat itu wilayah Gunung Guruh, Kampung Baru (Bogor) dan Cianjur sama-sama disebut Negorij yaitu desa/kampung yang lumayan besar. Scipio adalah orang Eropa pertama yang mengunjungi wilayah kota sukabumi sekarang, orang eropa kedua yang berkunjung ke Gunung Guruh adalah Abraham Van Riebeeck tahun 1709. Sementara orang Eropa yang mengunjungi wilayah kabupaten yaitu pelabuhanratu, menurut pendapat prof. Veth adalah Jan Jacobz yang berbisnis wine disana tahun 1626 sehingga disebut Wijnkoopsbaai.
* Kedua, Tahun 1776 bersamaan dengan tahun kemerdekan Amerika Serikat, dilakukan pembagian distrik di wilayah sukabumi oleh Wirataudatar VI atau Raden Enoh salah satunya adalah penetapan distrik Gunung Parang, sementara wilayah jampang dan pelabuhanratu sudah menjadi distrik cianjur sejak VOC menghadiahkan wilayah tersebut atas hasil panen kopi yang memuaskan pada 1711 dan 1715 pada masa kekuasaan Wiratanudatar III. Sejak jaman pajajaran wilayah utara Jampang serta Pelabuhanratu adalah hutan yang disebut tataran awatan pagadungan yang pernah dilewati oleh rombongan resi manikmaya saat dihadiahi wilayah Kendan (Nagreg sekarang) oleh Raja Tarumanegara Suryawarman yang menurut sejarawan melewati wilayah kota sukabumi sekarang. Di wilayah ini kemudian muncul nama Gunung Parang yang kemudian diformalkan sebagai sebuah distrik, bukti mengenai hal ini adalah keberadaan Wedana Ciheulang yang pertama yaitu Raden Raksadipraja (1739-1830) yang kuburannya masih ada di nagrak serta peta wilayah Sukabumi tahun 1778 yang menunjukkan batas-batas wilayah distrik.
* Titi mangsa ketiga adalah penamaan Sukabumi oleh Andries De Wilde dimasa pemerintahan Inggris yaitu sejak pembelian wilayah Sukabumi pada tahun 1813, Menurut Wilde dalam bukunya Preanger Regentschappen, nama sukabumi sendiri disampaikan oleh Kokolot pada akhir 1814 dalam pertemuan di rumahnya, yang kemudian disampaikan melalui surat kepada Engelhard yang merupakan tangan kanan Raffles pada tanggal 13 Januari 1815 dengan kalimat “Ik mag U. E. G. Achtbare niet onkundig laten dat ik opverzoek van de Inlandsche Hoofden den naam van Tjicolle in die van Soeka Boemi veranderd heb (Campbell: 1905) .
* Titi mangsa keempat, pemisahan afdeling Sukabumi tahun 1871 dari Cianjur yang berimbas pada perubahan status gunung parang dari distrik dibawah wilayah onderafdeling Ciheulang, afdeling Cianjur, menjadi onderafdeling mandiri terpisah dari Ciheulang dibawah afdeling Sukabumi yang terjadi pada tanggal 17 maret 1891.
Titi mangsa lain yang mungkin lebih tua lagi bisa digali kembali oleh sejarawan untuk menentukan titi mangsa yang tepat seperti yang pernah dilakukan oleh pemerintah Cianjur.
2. Faktor Fakta Sejarah
Benarkah 1 April 1914 adalah hari jadi pemerintahan kota Sukabumi? hari jadi tersebut didasarkan atas staatsblad nomor 310 tahun 1914 yang ditandatangani oleh Gubernur Jendral Idenburg di Cipanas tanggal 28 Maret 1914 termasuk persetujuan anggaran biayanya, namun disebutkan berlaku sejak 1 April 1914.
Fakta ini agak sedikit rancu mengingat 1 April 1914 ternyata bukan awal mula pemerintahan kota sukabumi karena Surat Kepurusan tersebut belum bisa dijalankan terkait belum disiapkan para pejabatnya, dan kekosongan berlangsung sampai 12 tahun, baru pada 1 Mei 1926 ditunjuk seorang Burgemeester pertama yaitu J Rambounet yang ditetapkan pada 31 Mei 1926.
Tanggal 27 Agustus 1926 barulah Gemeente menjadi wilayah otonom sejak disahkannya syarat tentang komposisi Dewan Rakyat Kota yaitu 7 orang Belanda, 3 Pribumi dan 1 Timur Asing. Kemudian Rambounet dilantik bulan oktober 1926
Pertanyaan kedua, Benarkah hari jadi kota harus mengacu kepada keputusan Belanda tentang terbentuknya gemeente atau terbentuknya suatu pemerintahan?
Faktanya Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya tidak mengacu kepada keputusan tersebut meskipun ada juga yang mengikutinya misalnya Kota Malang yang kebetulan hari jadinya sama karena keputusan tentang Gementee dilakukan pada waktu yang sama dengan Sukabumi. Jikalau adanya pemerintahan diharuskan menjadi syarat hari jadi sebuah kota maka kita akan menemukan fakta yang lebih membingungkan lagi, bahwasanya pemerintahan di wilayah kota sukabumi sekarang sudah terbentuk jauh sebelum 1 April 1914, diantaranya sebagai
berikut:
* Sukabumi sudah terbentuk distrik sejak tahun 1776 dengan dikepalai seorang Wedana/Cutak.
* Sejak penjualan wilayah Sukabumi tahun 1813 Sukabumi disebut sebagai Vrijeland yaitu suatu wilayah otonom yang dikuasai kepala perkebunan yang berhak mengelola secara mandiri layaknya raja kecil yang memerintah sendiri.
* Tahun 1869 VJ Veth menyebut sukabumi sebagai HoofdPlaats van het districts Goenoeng parang, atau kira-kira “Lokasi Balai Desa Gunung Parang”.
* Staatsblaad nomor 80 tertanggal 17 Maret 1891 memisahkan Sukabumi dari onderafdeling Tjiheulang (Cibadak sekarang) dan membentuk onderafdeling mandiri bernama Soeka Boemi dibawah afdeling Sukabumi.
Fakta-fakta tersebut menegaskan bahwa “pemerintahan” dalam skup lebih kecil sudah terbentuk di Sukabumi sejak lama. Kemudian muncul pertanyaan menggeliik lainnya yang menyangkut hari jadi kota, apakah penentuan hari jadi kota Sukabumi harus mengacu pada perubahan Sukabumi menjadi sebuah kota? nampaknya lebih membingungkan lagi mengingat definisi kota yang berbeda-beda, namun beberapa fakta dibawah ini mugkin akan menguatkan bahwa sukabumi udah menjadi ‘kota” sebelum gementee terbentuk, diantaranya adalah:
* Surat resmi dakwaan dan pembelaan di pengadilan sukabumi tahun 1865 sudah menyebut Sukabumi sebagai kotta, jika kota yang dimaksud adalah sama dengan istilah kuta dalam bahasa sansekerta yang mirip dengan istilah fort atau town, maka sejak saat tersebut ‘kota’ sukabumi telah ada (Steenbrink:1988).
* Tahun 1866 dalam sebuah laporan A.E Crockewitt berjudul Ze Werken in de Preanger Regentschappen saat bertemu wedana sukabumi menyebutkan bahwa sukabumi layaknya kota-kota dipriangan lainnya yang ditandai dengan pagar tembok rapi di kanan kiri jalan.
* Tahun 1893 William Basil dalam bukunya berjudul A Visit to Java dalam perjalanannya menuju perkebunan Ciwangi di Cireunghas menyebut Sukabumi sebagai Town.
* Sangat beralasan jika Sukabumi sebagai sebuah kota sudah terbentuk
sebelumnya karena secara formal pembangunan kota sudah dilakukan sejak pemisahan afdeling Sukabumi pada 1871, munculnya jabatan baru seperti asisten residen, patih, chalifah, khetib, modzin serta perangkat administrasi lainnya membutuhkan struktur dan infrastruktur untuk mengakomodirnya misalnya jalan, alun-alun, rumah asisten residen, pendopo, rumah patih, mesjid, perkantoran dan lain sebagainya.
3. Faktor Falsafah
Pertanyaan terakhir ini sedikit sentimentil karena menyangkut keterlibatan masyarakat, apakah ciri yang membanggakan masyarakat dari penentuan hari jadi 1 April 1914 tersebut?, adakah nilai-nilai heroisme atau lokalitas yang bisa meningkatkan citra masyarakat sukabumi? Fakta ini agak sedikit menyakitkan mengingat terbentuknya gemeente Sukabumi seperti juga gemeente-gemeente lainnya dilandasi atas euforia orang Eropa atas munculnya Undang-undang Desentralisasi 1903 yang mendorong warga Eropa disukabumi untuk mengajukan perubahan status pada tanggal 13 Juni 1913, hal ini disebabkan banyaknya warga Eropa yang menghuni wilayah kota sukabumi yang tidak mau diperintah oleh patih lokal, pasca Andries De Wilde orang Eropa hanya ada 4 orang dikota sukabumi, tahun 1905 sudah berubah menjadi 600 orang, bahkan sesudah disahkannya gementee naik drastis menjadi 1.261 orang pada 1921, dan naik lagi menjadi 2.259 orang pada tahun 1930 (Danaputra:2004) artinya pembentukan gemeente merangsang orang belanda untuk bermukim, Komposisi dewan kota yang terbentukpun dengan jumlah orang eropa yang banyak jelas mencerminkan penguasaan orang Eropa secara total atas bangsa lain. Fakta ini memperlihatkan bahwa tidak ada (jika adapun sangat kecil) nilai-nilai falsafah yang membanggakan masyarakat kota Sukabumi dengan penetapan 1 April tersebut karena sesungguhnya hari jadi tersebut sangat berbau kolonial.
Jadi masih relevankah 1 April menjadi hari jadi kota Sukabumi? mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi pengingat untuk mencoba merenungkan kembali relevansi 1 April sebagai hari jadi kota Sukabumi, bahkan mungkin bisa menjadi pendorong untuk mewacanakan kembali tentang perubahan hari jadi kota Sukabumi tentunya melalui proses konstitusional karena faktor lain dalam penentuan hari jadi ini adalah proses politik dimana konsensus atau kesepakatan harus terjadi diantara eksekutif dan legislatif sehingga dapat berujung keputusan politik, dan didasari hasil riset yang akurat mengenai hari jadi Sukabumi yang bisa diterima oleh masyarakat
(Disampaikan dalam diskusi di coffee analog cafe 3 April 2015 oleh Irman ‘Sufi’ Firmansyah Koordinator riset dan kesejarahan Soekaboemi Heritages)
"SUKABUMI TELAH ADA SEJAK JAMAN KERAJAAN PAJAJARAN....,SUKABUMI DAHULU BERNAMA KABUYUTAN SANGHYANG TAPAK YANG MENJADI BAGIAN DARI KERAJAAN PAJAJARAN"

Minggu, 26 Juni 2016

KOTA SUKABUMI : Gate Of West Priangan

0 komentar

Kota Sukabumi


Kota Sukabumi
Sukabumi.JPG
Logo resmi Kota Sukabumi
Logo
Semboyan: Reugreug Pageuh Repeh Rapih
Letak Kota Sukabumi di Jawa Barat
Letak Kota Sukabumi di Jawa Barat
Kota Sukabumi berlokasi di Indonesia
Kota Sukabumi
Kota Sukabumi
Letak kota Sukabumi di Indonesia
Koordinat: 6°55′17,15″LU 106°55′33,04″BT
Negara Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Ibukota Sukabumi Barat
Hari jadi 1 April 1914
Pemerintahan
 • Wali Kota H. Mohamad Muraz, S.H, M.M.
 • Wakil Wali Kota H. Achmad Fahmi,S.Ag, M.M.
Area
 • Total 48.25 km2 (18.63 mil²)
Populasi (2010)
 • Total 298.681
 • Kepadatan 6,200/km2 (16,000/sq mi)
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode wilayah +62 266
Situs web http://www.sukabumikota.go.id
Kota Sukabumi, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Kota Sukabumi merupakan salah-satu kota dengan luas wilayah terkecil di Jawa Barat.

Daftar isi

Sejarah

Nama “SOEKA-BOEMI” pertama kali diperkenalkan pada tanggal 13 Januari 1815 ke dunia luar Sukabumi oleh administratur perkebunan bernama Andries Christoffel Johannes de Wilde, seorang berkebangsaan Belanda yang menjelajah di Sukabumi untuk mencari lokasi tanah yang cocok untuk perkebunan.
Dalam laporan surveynya, Andries Christoffel Johannes de Wilde mencantumkan nama Soeka Boemi (dalam dua suku kata) sebagai tempat ia menginap di kampung Tji Colle. Ada yang mengatakan bahwa nama Sukabumi berasal dari bahasa Sunda, yaitu Suka-Bumen, yang bermakna bahwa pada kawasan yang memiliki udara sejuk dan nyaman ini membuat orang-orang suka bumen-bumen atau menetap.
Penjelasan yang lebih masuk akal adalah bahwa nama "Sukabumi" berasal dari bahasa Sansekerta suka, "kesenangan, kebahagiaan, kesukaan" dan bhumi, "bumi, tanah". Jadi "Sukabumi" memiliki arti "Bumi yang disenangi/disukai".
Nama Soekaboemi sebenarnya telah ada sebelum hari jadi Kota Sukabumi yaitu 13 Januari 1815. Kota yang saat ini berluas 52,46 Km² ini mendapatkan namanya dari seorang ahli bedah bernama Dr. Andries de Wilde menamakan Soekaboemi. Perlu diketahu Andris de Wilde ini juga adalah seorang Preanger Planter (kopi dan teh) yg bermukim di Bandung, di mana eks rumah tinggal dan gudang kopinya sekarang dijadikan Kantor Pemkot Bandung.
Awalnya ia mengirim surat kepada kawannnya Pieter Englhard untuk mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk mengganti nama Cikole (berdasar nama sungai yg membelah kota Sukabumi) dengan nama Soekaboemi 13 Januari 1815. Sejak itulah Cikole resmi menjadi Soekaboemi. Namun, bukan berarti hari jadi Kota Sukabumi jatuh pada tanggal tersebut. Ceritanya memang tidak singkat, bermula dari komoditas kopi yang banyak dibutuhkan VOC, Van Riebek dan Zwadecroon berusaha mengembangkan lebih luas tanaman kopi di sekitar Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Tahun 1709 Gubernur Van Riebek mengadakan inspeksi ke kebun kopi di Cibalagung (Bogor), Cianjur, Jogjogan, Pondok Kopo, dan Gunung Guruh Sukabumi. Inilah salah satu alasan dibangunnya jalur lintasan kereta-api yg menghubungkan Soekaboemi dengan Buitenzorg dan Batavia di bagian barat dan Tjiandjoer (ibukota Priangan) dan Bandoeng di timur. Saat itu, de Wilde adalah pembantu pribadi Gubernur Jenderal Daendels dan dikenal sebagai tuan tanah di Jasinga Bogor.
Pada 25 Januari 1813, ia membeli tanah di Sukabumi yang luasnya lima per duabelas bagian di seluruh tanah yang ada di Sukabumi seharga 58 ribu ringgit Spanyol. Tanah tersebut berbatasan dengan Lereng Gunung Gede Pangrango di sebelah utara, Sungai Cimandiri di bagian selatan, lalu di arah barat berbatasan langsung dengan Keresidenan Jakarta dan Banten dan di sebelah Timur dengan Sungai Cikupa.
Suasana di Lapangan Merdeka Sukabumi saat malam hari tahun 2015
Sebelum berstatus kota, Sukabumi hanyalah dusun kecil bernama "Goenoeng Parang" (sekarang Kelurahan Gunungparang) lalu berkembang menjadi beberapa desa seperti Cikole atau Parungseah. Lalu pada 1 April 1914, pemerintah Hindia Belanda menjadikan kota Sukabumi sebagai Burgerlijk Bestuur dengan status Gemeente (Kotapraja) dengan alasan bahwa di kota ini banyak berdiam orang-orang Belanda dan Eropa pemilik perkebunan-perkebunan yang berada di daerah Kabupaten Sukabumi bagian selatan yang harus mendapatkan pengurusan dan pelayanan yang istimewa.
Selanjutnya pada 1 Mei 1926, Mr. G.F. Rambonnet diangkat menjadi Burgemeester. Pada masa inilah dibangun Stasiun Kereta Api, Mesjid Agung, gereja Kristen; Pantekosta; Katholik; Bethel; HKBP; Pasundan, pembangkit listrik Ubrug; centrale (Gardu Induk) Cipoho, Sekolah Polisi Gubermen yang berdekatan dengan lembaga pendidikan Islam tradisionil Pondok Pesantren Syamsul 'Ulum Gunung Puyuh yang didirikan oleh K.H.Ahmad Sanusi pada tahun 1933.

Perubahan Nama Pemerintahan

No Nama Pemerintahan Keterangan
1 Gemeente Soeka Boemi Tahun 1914-1942
2 Soekaboemi SHI Tahun 1942-1945
3 Kota Kecil Sukabumi Undang-undang No. 17 Tahun 1950
4 Kota Praja Sukabumi Undang-undang No. 1 Tahun 1957
5 Kotamadya Sukabumi Undang-undang No. 18 Tahun 1965
6 Kotamadya Daerah Tingkat II Sukabumi Undang-undang No. 5 Tahun 1974
7 Kota Sukabumi Undang-undang No. 22 tahun 1999, UU No 32 Tahun 2003

Nama-Nama Pimpinan Pemerintahan Daerah Sukabumi

No Nama Tahun
1 Mr. G.F. Rambonnet 1926-1933
2 Mr. W.M. Ouwerkerk 1933
3 Dr. A.L.A. van Unen 1934-1939
4 Mr. W.J.Ph. van Waning 1939-1942
5 Mr. Raden Syamsudin 1945-1946
6 Raden Mamur Soeria Hoedaja 1946-1948
7 Raden Ebo Adinegara 1948-1950
8 Raden Widjaja Soerija (Pejabat)
9 Raden S. Affandi Kartadjoemena 1950-1952
10 Raden Soebandi Prawiranata 1952-1959
11 Mochamad Soelaeman 1959-1960
12 Raden Soewala 1960-1963
13 Raden Semeru (Pejabat)
14 Drs. Achmad Darmawan Adi 1963-1961
15 Raden Bidin Suryagunawan (Pejabat)
16 Saleh Wiradikarta, S.H. 1966-1978
17 Soejoed 1978-1988
18 H. Zaenudin Mulaebary, S.H. 1988-1993
19 H. Udin Koswara, S.H. 1993-1997
20 R. Nuriana (Gubernur Jabar) PJS
21 Dra. Hj. Molly Mulyahati Djubaedi, M.Sc. Plh
22 Dra. Hj. Molly Mulyahati Djubaedi, M.Sc. 1998-2003
23 H. Mokh. Muslikh Abdussyukur, S.H., M.Si. 2003-2013
24 H. Mohamad Muraz, S.H., MM. 2013-2018

Arti Lambang Kota Sukabumi

Dasar Hukum : Peraturan Daerah Kotamadya Sukabumi Nomor 12 Tahun 1993 Tentang Lambang Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Sukabumi.
Arti dari Lambang :
No Lambang Arti
1 Perisai Ketangguhan Fisik dan Mental
2 Warna Hijau Kesuburan dan Kemakmuran
3 Bintang Segi Lima PANCASILA yang merupakan Dasar Negara Republik Indonesia
4 Senjata Kujang Keberanian
5 Setangkai Padi dan Teh Ketentraman dan Perdamaian
6 Pita Merah Putih Kebangsaan Indonesia

Geografi

Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106° 45’ 50’’ Bujur Timur dan 106° 45’ 10’’ Bujur Timur, 6° 49’ 29’’ Lintang Selatan dan 6° 50’ 44’’ Lintang Selatan, terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang ketinggiannya 584 m di atas permukaan laut, dengan suhu maksimum 29 °C.
Kota ini terletak 120 km sebelah selatan Jakarta dan 96 km sebelah barat Bandung, dan wilayahnya berada di sekitar timur laut wilayah Kabupaten Sukabumi serta secara administratif wilayah kota ini seluruhnya berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi.

Pemerintahan

Wilayah Kota Sukabumi berdasarkan PP No. 3 Tahun 1995 adalah 48,0023 KM² terbagi dalam 5 kecamatan dan 33 kelurahan. Selanjutnya berdasarkan Perda Nomor 15 Tahun 2000 tanggal 27 September 2000, wilayah administrasi Kota Sukabumi mengalami pemekaran menjadi 7 kecamatan dengan 33 kelurahan. Kecamatan Baros dimekarkan menjadi 3 kecamatan yaitu Kecamatan Lembursitu, Kecamatan Baros, dan Kecamatan Cibeureum. Pada tahun 2010 Kota Sukabumi terdiri dari 7 kecamatan, meliputi 33 kelurahan, 1.521 RT, dan 350 RW.
Kecamatan di Kota Sukabumi adalah:
Jumlah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi pada Tahun 2010 5.733 orang yang terdiri dari Golongan I 213 orang, Golongan II 1.630 orang, Golongan III 2.209 orang, dan Golongan IV 1.681 orang. Berdasarkan tingkat pendidikan S3 3 orang, S2 205 orang, SI 2.070 Orang, DIV 21 Orang, DIII/DII/DI 1.496 orang, SLTA 1.584 orang, SLTP 183 orang, dan SD 171 orang.
Jumlah Keputusan DPRD Kota Sukabumi pada tahun 2009/2010, berdasarkan surat Keputusan Pimpinan DPRD sebanyak 9, sedangkan Surat Keputusan Dewan (DPRD) sebanyak 23.

Perwakilan

DPRD Kota Sukabumi 2014-2019
Partai Kursi
Lambang PDI-P PDI-P 6
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 6
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 4
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 4
Partai Hati Nurani RakyatLambang Partai Hanura 4
Lambang PPP PPP 3
Lambang PKS Partai Keadilan Sejahtera 3
Lambang PAN PAN 3
Partai Kebangkitan BangsaLambang PKB 1
Partai NasDemLambang Nasdem 1
Total 35 Sumber:[1]

Kependudukan

Perkembangan penduduk di Kota Sukabumi selama periode 1998-2002 terus meningkat, dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1,75 %.[2]
Tahun Jumlah penduduk
2010 Green Arrow Up.svg 298.681
2009 Green Arrow Up.svg 287.856
2008 Green Arrow Up.svg
2007
2006 Green Arrow Up.svg
2005 Green Arrow Up.svg
2004 Green Arrow Up.svg
2003 Green Arrow Up.svg 278.418
2002 Green Arrow Up.svg 259.045
2001 Green Arrow Up.svg 257.097
2000 Green Arrow Up.svg 252.420
1999 Green Arrow Up.svg 242.976
1998 241.396
Sejarah kependudukan kota Sukabumi
Sumber:[2]

Ketenagakerjaan

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Penanggulangan Bencana Kota Sukabumi tercatat bahwa jumlah pencari kerja yang terdaftar pada tahun 2010 mencapai 8.699 orang, yang terdiri dari 4.129 pencari kerja laki-laki dan 4.570 perempuan. Sedangkan pencari kerja yang berhasil ditempatkan sebanyak 2.014 orang.
Jumlah Pencari Kerja yang telah ditempatkan menurut tingkat pendidikan di Kota Sukabumi tahun 2010 meliputi lulusan SLTP 510 orang, lulusan SLTA 967 orang, lulusan diploma 155 orang, dan sarjana 123 orang.

Perekonomian

Pasar Sukabumi pada tahun 1920-an
Grand Hotel Selabintana (1900-1935)
Jika dilihat dari kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kota Sukabumi masih relatif kecil yaitu berada di bawah 20 persen setiap tahunnya.[3]
Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Penanaman Modal Kota Sukabumi pada tahun 2010, diketahui bahwa perusahaan yang memilki SIUP mengalami peningkatan sebesar 7,67 % yaitu dari 4.899 perusahaan pada tahun 2009 menjadi 5.275 perusahaan pada tahun 2010. Dari sebanyak 5.275 perusahaan yang memiliki SIUP tersebut terdiri dari 154 perusahaan besar, 519 perusahaan menengah dan 4.602 perusahaan kecil. Sedangkan jumlah perusahaan yang mengajukan Permintaan Tanda Daftar Perusahaan pada tahun 2010 mengalami penurunan sebanyak 32,35 % dibanding tahun 2009. Dari sejumlah 366 perusahaan yang mengajukan Tanda Daftar Perusahaan, tercatat sebanyak 50 perusahaan berbentuk badan usaha PT, 8 perusahaan berbentuk Koperasi, 110 perusahaan berbentuk CV, 197 perusahaan berbentuk PO dan ada 1 perusahaan berbentuk BUL.
Kegiatan perhotelan di Kota Sukabumi dapat dilihat dari banyaknya perusahaan akomodasi dan tamu yang menginap. Pada tahun 2010 jumlah perusahaan akomodasi di Kota Sukabumi sebanyak 33 buah yang terdiri dari 598 kamar dan 875 tempat tidur.
Sementara itu banyaknya tamu yang menginap pada tahun 2010 sebanyak 107.679 orang yang terdiri dari wisatawan mancanegara sebanyak 2.794 orang dan wisatawan nusantara sebanyak 104.885 orang. Jumlah tamu yang menginap tersebut 35,54% jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang berjumlah 38.275 orang. Jika dilihat per kecamatan, dapat diketahui bahwa tamu yang menginap di hotel, masih didominasi di wilayah Kecamatan Cikole, yaitu mencapai 68.94%. Hal ini dimungkinkan karena wilayah Kecamatan Cikole berada di pusat Kota Sukabumi.
Sedangkan kegiatan pariwisata di Kota Sukabumi relatif masih sangat kecil. Secara keseluruhan hanya tercatat 2 obyek wisata, 47 penginapan remaja, 6 kolam renang serta beberapa usaha pariwisata lainnya yang meliputi bilyard, golf, karaoke, dan ketangkasan.

Pendidikan

Di kota ini telah berdiri beberapa perguruan tinggi di antaranya sekolah tinggi ilmu ekonomi penguji sebagai perguruan tinggi tertua di sukabumi, Politeknik Sukabumi, Politeknik BBC, Universitas Muhammadyah Sukabumi (UMMI), Sekolah Tinggi Teknologi Nusa Putra (NSP),Amik CBI,Amik BSI, STMIK Nusa Mandiri, STMIK PASIM, STIE PASIM, STIKES Sukabumi, STISIP Syamsul Ulum, STIE PGRI, STKIP PGRI, STAI Sukabumi, STAI Syamsul 'Ulum, STH Pasundan juga sekolah lanjutan yang berasaskan islam yaitu Madrasah Aliyah Baiturrahman.
Pada tahun 2010 di Kota Sukabumi terdapat 56 Taman Kanak-Kanak, 123 Sekolah Dasar, 35 SLTP, 16 SMU, dan 21 SMK yang meliputi sekolah negeri dan swasta. Sementara itu murid yang tertampung di TK pada tahun 2010/2011 sebanyak 2.648 siswa, murid SD sebanyak 33.785 siswa, murid SLTP negeri sebanyak 11.174 siswa, murid SLTP swasta sebanyak 3.086 siswa, murid SMU negeri dan swasta sebanyak 7.858 siswa dan sebanyak 10.999 murid SMK negeri dan swasta.

Kesehatan

Rumah sakit Sukabumi pada tahun 1920-an
Fasilitas kesehatan di Kota Sukabumi terdiri dari beberapa rumah sakit swasta dan umum serta puskesmas yang tersebar di area kota, seperti Rumah Sakit Umum Daerah R. Syamsudin, atau Bunut di Jalan Rumah Sakit, Rumah Sakit Islam Assyifa di Jalan Jend. Sudirman, Rumah Sakit Ibu dan Anak Ridogalih di Jalan Gudang, dan juga kompleks Balai Pengobatan Sukabumi di Jalan Bhayangkara dan Jalan Kenari. Selain rumah sakit dan puskesmas, terdapat juga laboratorium laboratorium klinik yang melayani pemeriksaan kesehatan, seperti Laboratorium Klinik Vita Medika di Jalan Suryakencana, dan Laboratorium Bina Sehat.

Stasiun Radio

  • Radio Fortuna 90,7 FM
  • Radio Elmitra 95.0 FM
  • Radio NBS 92,3 FM
  • Radio Kiwari 94.7 FM
  • Radio Megaswara Sukabumi 96.00 FM
  • Galaxy Radio 101.4 FM
  • Radio Siaran Pemerintah Daerah/RSPD Kota Sukabumi
  • Radio RAMA 104.1 FM
  • Radio Menara 105.7 FM
  • UrbanRadio Bandung 106.3 FM

Perbankan

Pusat Perbelanjaan dan restoran

  • Supermall
  • Ramayana
  • Tiara Toserba
  • Selamat Toserba
  • Matahari
  • Giant
  • super indo
  • KFC
  • CFC
  • Mcdonald

Kuliner

Beberapa kuliner khas kota Sukabumi di antaranya adalah Nasi uduk ungu[4], mochi, roti priangan tradisional, bubur ayam sukabumi, bandros, surabi, dan soto mie.

Tokoh

Beberapa tokoh yang berasal dari kota Sukabumi di antaranya Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Memperindag Rahardi Ramelan, Pangkostrad Djaja Suparman, pecatur Herman Suradiradja, Pebulutangkis Berry Anggriawan, Penyanyi Indonesia Desy Ratnasari, Purie Andriani (Puri Mahadewi) dan Syahrini, komedian Aom Kusman dan Omesh, pemeran wanita Happy Salma dan Herfiza Novianti, pelawak Yan Asmi dan pencipta lagu anak-anak Ibu Sud. Beberapa Band seperti Vagetoz dll.

Televisi

Kota Sukabumi juga memiliki beberapa terdiri dari 20-buah stasiun televisi bersiaran nasional dan lokal.
Stasiun Televisi Frekuensi Jaringan Status
Nasional (12 saluran)
TVRI Nasional 40 UHF TVRI Nasional
MNCTV 26 UHF MNC
SCTV 52 UHF Emtek
Detik tv 51 UHF Trans
ANTV 47 UHF Indika
Indosiar 54 UHF Emtek
MetroTV 48 UHF Media
Trans TV 34 UHF Trans
Assalam TV 8 VHF Netwave
Trans7 44 UHF Trans
tvOne 42 UHF Viva
RTV 22 UHF Grup Rajawali
iNews TV 32 UHF Netwave
NET. 27 UHF Indika
Daerah (11 saluran)
TVRI Jawa Barat 40 UHF TVRI Lokal
DAAI TV 59 UHF DAAI TV Network
Subi TV 60 UHF JPMC
iNews TV Sukabumi 32 UHF iNews TV
ATV Sukabumi 30 UHF Sakti TV Network
Nasional lokal Daerah(11 saluran)
Detik TV Sukabumi 51 UHF MNC Lokal Dan Nasional
SCTV Sukabumi 52 UHF Emtek
MNCTV Sukabumi 26 UHF Trans
ANTV Sukabumi 47 UHF Indika
Indosiar Sukabumi 54 UHF MNC
MetroTV Sukabumi 48 UHF Media
Trans TV Sukabumi 34 UHF Trans
Assalam TV Sukabumi 8 VHF Netwave
Trans7 Sukabumi 44 UHF Trans
tvOne Sukabumi 42 UHF Viva
RTV Sukabumi 22 UHF Grup Rajawali
iNews TV Sukabumi 32 UHF Netwave
NET Sukabumi 27 UHF Indika

Kamis, 09 Juni 2016

Liburan ala Jetsetter di 10 Villa & Hotel Mewah Terbaik di Ubud

0 komentar
Ibarat makanan tanpa garam, liburan tanpa menginap di hotel yang cocok buat kamu itu bisa bikin hambar semuanya. Gimana bisa senang-senang menjalankan aktivitas waktu liburan, kalau pas kamu balik ke hotel tidak bisa istirahat dengan maksimal. Memang sih liburan tidak harus selalu mahal, tapi kan terkadang tidak salah dong kalau mau dimanja di hotel mewah yang bikin kamu berasa raja atau ratu semalam. Buat kamu yang sudah menyiapkan budget lebih, lihat rekomendasi 10 villa & hotel mewah terbaik di Ubud versi Mister Aladin ini.

1. Viceroy Bali

Viceroy Bali
Kurang mewah apa lagi hotel yang satu ini? Jangankan fasilitas premium, helipad saja ada! Restoran yang dimiliki resor ini bahkan sering disebut sebagai restoran terbaik di Asia Tenggara. Bukan cuma menu makanannya yang oke punya, kamu juga bisa bersantai di infinity pool dengan pemandangan langsung ke Sungai Petanu dan hutan Ubud. Setiap vila yang ada di sini sudah dilengkapi dengan kolam renang pribadi. Jadi walaupun lokasinya jauh dari pantai, kamu bisa tetap puas main air.

2. Maya Ubud Resort & Spa

Maya Ubud
Kalau bicara tentang hotel mewah di Bali, Maya Resorts pasti yang paling pertama terlintas di pikiran. Walaupun ada juga di Sanur, tapi Maya Ubud Resort & Spa jadi favoritnya Mister Aladin. Kenapa? Soalnya Ubud punya charm yang bisa bikin siapa pun merasa tenang dan lupa dengan segala beban pikiran. Setiap vila yang ada di sini dibuat menghadap ke Sungai Petanu yang berbatasan langsung dengan hutan tropis. Coba deh bayangkan pas kamu baru bangun tidur, terus buka jendela… ahh, dijamin kamu tidak akan mau pulang!

3. Hanging Gardens Ubud

Hanging Garden
Kalau kamu pencinta Ubud sejati, pasti pernah dong dengar nama Hanging Gardens Ubud? Hotel yang satu ini namanya sudah menggaung ke mancanegara, lho! Kolam renangnyalah yang membuat Hanging Gardens Ubud terkenal dan sering terpampang di majalah-majalah travel di seluruh dunia. Infinity pool dengan bentuk unik yang menggantung di ujung tebing dan menghadap langsung ke hutan tropis tersedia di setiap vila di sini.

4. Four Season Resort Bali at Sayan

four season sayan
Bayangkan rasanya menginap di villa yang berlokasi di area perbukitan di mana kamu bisa menikmati pemandangan asri sungai dan persawahan langsung dari kolam renang pribadi kamu. Penasaran? Datang saja ke Four Seasons Resort Bali at Sayan! Di hotel bintang daerah Ubud ini kamu bisa mencoba beragam menu makanan enak di tepi sungai, dan menjelajahi persawahan terasering khas Bali. Mulai liburan kamu dengan beryoga di pinggir kolam teratai dan dilanjutkan dengan ikutan pagelaran kebudayaan yang diadakan oleh para penduduk setempat 3 kali dalam seminggu. Pasti seru, deh!

5. Como Shambala Estatecomo shambala 1

Ubud adalah sebuah kawasan di Bali di mana kamu bisa menemukan ketenangan di tengah alam perbukitan dan hujan tropis. COMO Shambala Estate menggunakan suasana alam ini untuk memberikan kamu kenyamanan optimal, bukan hanya untuk tubuh tapi juga pikiran. Tujuan tersebut dicapai dengan menggabungkan nuansa asri alam dan gaya arsitektur modern kontemporer, makanan sehat, dan layanan dari para praktisi Ayurvedic profesional di sini.

6. Alila Ubud

alila ubud
Ingin merasakan nyamannya tidur di atas rimbunnya pepohonan atau rileks sambil mengamati kolam jernih di depan kamarmu? Alila Ubud Hotel punya tiga tipe villa dan kamar-kamar yang bisa kamu pilih sesuai selera. Infinity pool-nya seakan mengambang di atas aliran sungai Ayung yang cantik! Kapan lagi kamu bisa mendapatkan pemandangan secantik ini? Kamu juga tidak akan kesulitan berjalan-jalan di sini karena ada banyak galeri seni, museum dan pura yang dekat dari hotel.Hal lain dari hotel ini yang patut diacungi jempol adalah kesadaran untuk memberdayakan masyarakat sekitar hotel. Semua fasilitas hotel diproduksi oleh masyarakat lokal. Bahkan sebagai pegawai juga tinggal tidak jauh dari hotel. Saatnya jadi traveler yang peduli sekitar dengan menginap di sini!

7. Plataran Ubud Hotel and SPA

plataran ubud
Begitu sampai di Plataran Ubud Hotel and Spa, kamu bakal susah memutuskan mau ngapain dulu pertama kali. Berenang di kolam cantik yang dikelilingi taman hijau? Olahraga di pusat kebugaran yang terletak di tengah sawah? Atau langsung lompat ke tempat tidur besar nan nyaman, tidur sebentar, lalu makan malam romantis bareng pasangan di tepi sawah? Apa pun pilihan kamu, yang jelas kamu harus ngobrol dan makan bareng orang tersayang sambil menikmati hidangan teh gratis dari hotel atau live music di Patio Ubud Restaurant!

8. Uma Ubud

uma ubud
Susah deh nolak pesona kamar bergaya boho beach chic, kolam renang bening sepanjang 25 meter, dan lingkungan serba hijau di Uma by COMO Ubud Resort. Segala sesuatu di resort bintang 5 ini memang ngewakilin Ubud yang terkenal sebagai tempat relaksasi dan belajar budaya Bali. Di sini kamu bisa ikut kelas yoga gratis setiap pagi di tempat semi terbuka dikelilingi hutan luas, menikmati menu sarapan yang bisa dipesan sesuai keinginan, dan ikut seminar para artis asli Ubud. Jalan-jalan juga jadi gampang karena di sini juga tersedia layanan antar jemput gratis ke pusat kota. Kapan lagi bisa dapet pengalaman sekaya ini?

9. Bisma Eight

bisma eight
Boutique hotel yang satu ini memang susah ditandingi. Selain punya restoran yang termasuk dalam daftar restoran organik terbaik, Bisma Eight juga punya lokasi yang enak banget. Hotl ini deket sama pusat Ubud, tapi juga tetep kebagian pemandangan hijau ke hutan tropis. Kamu bisa berenang sambil ngeliatin pepohonan rimbun, lho. Pasti damai banget rasanya. Mau tahu spot favorit di hotel ini? Mampir-mampir aja ke area pool bar-nya, ya. Oh ya, satu lagi hal unik dari hotel ini adalah bak mandinya yang terbuat dari kayu dan berbentuk bundar. Mirip-mirip bak mandi tradisional di Jepang!

10. Komaneka at Tanggayuda

komaneka at tenggayuda
Komaneka yang satu ini pengin banget para tamu serasa pulang ke rumah begitu tiba di sana. Dimulai dengan sambutan ‘welcome home!’, para staf akan memastikan kamu tetep nyaman sampai-sampai kamu bakalan ngerasa berat banget pas harus check-out. Dikelilingi pohon-pohon buah tropis yang menambah sejuk udara sekitar, resort ini punya spa yang unik banget. Suasananya mirip kayak pemandian bangsawan jaman dulu dengan segala unsur batu khas candi-nya! Selain itu, saat-saat makan kamu bakal terasa lebih nikmat di restoran semi terbukanya yang langsung menghadap ke Gunung Batukaru yang spektakuler.

Tertarik nginep di salah satu hotel/villa di atas? Langsung aja klik nama penginapan yang kamu mau dan selamat menikmati liburan layaknya bangsawan. Mumpung lagi ada Ubud Food Festival tanggal 27 – 29 Mei nanti!